Liputan Media » [ nusakini.com ] Balitkabi Siap Menjawab Kebutuhan Ubi Kayu Nasional

berita_27_jul_18b

nusakini.com – Selama ini, ubi kayu masih dipandang sebelah mata dengan rantai pemasaran yang relatif sederhana, petani menjual hasil panen kepada pedagang pengumpul atau langsung ke industri pengolahan. Namun, sejalan dengan perkembangan, ubi kayu kini menjadi komoditas penting dan rebutan berbagai pihak untuk berbagai kebutuhan.

“Ubi kayu itu tanaman yang hampir semua bagiannya bisa dimanfaatkan. Pemanfaatannya bisa digunakan sebagai makanan substitusi, pengganti sumber karbohidrat. Kandungan karbohidrat mencapai 34%, 1,2% protein, 0,3% lemak dan 40% fosfor”, ungkap Yuliantoro Baliadi, Kepala Balai Penelitian Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi) Kementerian Pertanian.

Produktivitas ubi kayu selama tahun 1970-2013 meningkat dari 8 ton per hektar menjadi 22 ton per hektar karena diadopsinya varietas unggul dan teknik budi daya namun selama periode 2013-2015, hanya meningkat 1 ton per hektar.

Menanggapai hal tersebut, Tenaga Ahli Menteri Pertanian, Baran Wirawan mengharapkan kegiatan riset ubi kayu perlu mendapatkan perhatian serius.

“Balai penelitian dan peneliti itu ibarat sungai dan ikan. Jika ikan bergerak hanya mengikuti aliran airnya saja, maka ikan tersebut tidak menarik. Tidak ada yang memperhatikan. Berbeda halnya jika ikan itu sesekali melompat di atas permukaan. Ini artinya, para peneliti harus kreatif dan inofatif sehingga setiap hasil penelitiannya menjadi perhatian dan acceptable bagi publik pertanian”, imbuh Baran Wirawan ketika melakukan kunjungan kerja di Balitkabi malang, Kamis, 27 juli 2018.

Menurut laporan dari Balitkabi, sampai saat ini sebagaian besar produk ubi kayu telah diekspor ke beberapa negara, seperti Malaysia, Jepang, China Korea dalam bentuk cassava dried (chip, sawut, gaplek) dan produk antara (tepung ubi kayu dan pati).

“Prospek Ubi kayu di masa mendatang cukup menjanjikan. Kebutuhannya terus meningkat. Dan Balitkabi sudah memiiki kesiapan baik secara teknologi pertanian maupun yang lainnya untuk menjawab hal tersebut, tinggal jaminan harga di tingkat petani yang juga harus dijaga agar petani ubi kayu kembali bergairah”, harap Yuliantoro. (pr/eg)