Liputan Media » [ Tabloid Sinartani ] Kacang Hijau Vima Siap Sambut Kemarau

Kacang hijau Vima merupakan varietas unggulan dalam negeri | Sumber Foto:Balitkabi

Kacang hijau Vima merupakan varietas unggulan dalam negeri | Sumber Foto:Balitkabi

TABLOIDSINARTANI.COM, Malang —  Kacang hijau varietas Vima 1 hingga 5 siap menyambut kedatangan musim kemarau sekaligus musim tanam kedua. Hal ini menandakan bahwa di musim kemarau kali ini, kacang hijau jangan dilupakan untuk ditanam karena potensinya sangatlah luar biasa.

Kepala Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi), Yuliantoro Baliadi menerangkan Vima 1 hingga 5 tampil dengan keunggulan potensi hasil berkisar 2,0 – 2,34 ton per hektar dan rata-rata hasil 1,8 – 1,91 ton per hektar.

Varietas ini menarik produsen benih besar non pemerintah untuk ikut menyiapkan benih kacang hijau. Ketertarikan bukan hanya karena hasil, namun atas keunggulan umur genjah (56 hari), panen serempak (85%), biji besar (5,9 – 6,62 gr per 100 biji), memiliki ketahanan/toleran terhadap penyakit embun tepung, penyakit tular tanah Phytoptora dan Sclerotium hama thrips.

Menanam kacang hijau, dapat ditanam di lahan sawah yang tidak bisa ditanami padi. Peluang pemanfaatan sisa lahan sawah yang tidak bisa ditanami padi (2,14 juta hektar) dari luas baku sawah biasanya ditanami  jagung dan kedelai.

Potensi tanam jagung Mei-Juni 2020 dimungkinkan di bagian Selatan Sumatera, Banten, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. Potensi luas tanam kedelai Mei-Juni 2020 seluas 44.312 hektar di lahan sawah Jawa, NTT dan Sulsel.

“Makna penting adalah masih tersisa lahan sawah yang luas dan ini peluang besar untuk memanfaatkan komoditas kacang hijau di pola tanam kedua dan ketiga, selain di lahan potensial lainnya,” ungkap Yuliantoro.

Prediksi tanam dan pemilihan komoditas sangat menentukan walaupun diperkirakan tahun ini tidak ada tanda kekeringan secara agronomis. Hal ini diungkap oleh  Peneliti Balitklimat, Aris Pramudia bahwa di tahun 2020 anomali iklim ENSO bersifat netral di Samudera Hindia sehingga tidak ada El Nino dan La Nina  yang biasanya mencekam pertanaman petani di Indonesia.
Reporter : Yuliantoro/Tiara

Sumber