Liputan Media » [TRUBUS] Karena Tala Tahan Layu

Kacang tanah baru, produktif dan toleran layu bakteri.567_-98-1-300x225

Batang kacang tanah tiba-tiba layu lalu tanaman mati. Saat dicabut, akar tampak basah. “Kalau batang dipotong dan direndam dalam air, akan keluar warna putih seperti asap dari bekas potongan batang,” ujar Novita Nugrahaeni, peneliti kacang tanah di Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi), Malang, Jawa Timur. Itulah serangan penyakit layu bakteri pada kacang tanah.

Serangan layu bakteri terhadap varietas kacang tanah yang tidak tahan dapat merusak hingga 90% populasi tanaman. Menurut Novita varietas tahan penyakit pun masih menderita kerusakan 15% akibat serangan bakteri Ralstonia solanacearum itu. Wajar layu bakteri menjadi salah satu musuh utama kacang tanah Arachis hypogeae, terutama di sentra seperti Pati, Sukoharjo, Banjarnegara (Jawa Tengah) dan Bogor, Jawa Barat.

Varietas unggulan
Di beberapa sentra kacang tanah, layu bakteri sudah terinfestasi sejak lama. Dahulu Jawa Timur jarang terserang. Namun, akibat cuaca ekstrem, “Kini Jawa Timur, terutama Malang, ikut menjadi sarang bakteri mematikan itu,” tutur Novita. Bukan hanya Jawa, lahan pertanian Kalimantan pun terimbas penyakit itu. Peneliti di Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman, Yusriadi, mengungkapkan penyakit itu merusak 70—80% populasi kacang tanah di Kalimantan Selatan pada 2007.

Tala 2 tahan layu bakteri dan berbiji besar.

Tala 2 tahan layu bakteri dan berbiji besar.

Pada 2011, kerusakannya sampai 100% alias gagal panen. Layu bakteri tergolong penyakit tular tanah. Selain melalui tanah, penularannya melalui percikan air dan dari bibit terinfeksi. Menurut Novita salah satu cara yang efektif mencegah serangan penyakit itu menggunakan varietas tahan. Sayang, varietas tahan masih didominasi varietas lokal yang kurang produktif.

Padahal, produktivitas tinggi menjadi tuntutan pelaku bisnis kacang tanah terutama para petani. Sudah begitu, lahan pertanian untuk kacang tanah pun semakin berkurang. “Luasan lahan kacang berkurang setiap tahun. Kebutuhan kacang tanah Indonesia baru terpenuhi 70%,” ujar Novita. Maka sejak 2004 Novita dan tim merakit varietas kacang tanah baru yang tahan terhadap serangan layu bakteri dan produktif.

Novita Nugrahaeni bersama tim yaitu Joko Purnomo dan Paidi mulai mencari kombinasi tetua yang pas. Mereka memilih 3 tetua untuk menghasilkan varietas kacang tanah tinggi produksi plus tahan layu bakteri. “Kami mengombinasikan kacang tanah lokal pati sebagai tetua jantan dan turangga, serta ICGV-93370 menjadi tetua betina,” ujar doktor Pemuliaan Tanaman alumnus Universitas Gadjah Mada itu.

567_-100-1-300x235

Tala 1 produktif mencapai 3,23 ton per hektare.

Dua tetua betina itu unggul dari produktivitas yang tinggi tetapi rentan serangan layu bakteri. Adapun tetua jantan, jenis lokal asal Kabupaten Pati, Jawa Tengah, unggul dari segi ketahanan terhadap layu bakteri tetapi produktivitas masih rendah. “Dari persilangan 2 karakter itu kami harapkan muncul varietas baru yang tahan layu bakteri dan produktif,” ujar perempuan yang juga meneliti kedelai itu.

Anak turangga
Dari serangkaian penelitian yaitu persilangan, seleksi, uji daya hasil pendahuluan, uji daya hasil lanjutan, muncul 6 galur unggulan. Selanjutnya Novita menguji multilokasi keenam galur itu di berbagai daerah di tanahair seperti Tuban, Pati, Jepara, Probolinggo, Malang, dan Wonogiri. Hasilnya, muncul 2 galur harapan yang tangguh menghadapi semua lokasi pengujian itu. Dua galur itu yaitu IL-27 dan LT-12.

Dua galur itu lantas mereka ajukan dengan nama Tala 1 dan Tala 2. “Tala merupakan singkatan tahan layu,” ujar Novita. Menurut petani kacang tanah di Tuban, Jawa Timur, Budiono, petani menginginkan kacang tanah produktif. “Selain tinggi produksi juga harus unggul dari ketahanan terhadap hama dan penyakit. Kalau di Tuban, layu bakteri masih sedikit serangannya. Berbeda dengan daerah lain yang sudah terkenal banyak terserang layu bakteri,” ujar Budiono.

567_-100

Tala 1 dan tala 2 sama-sama berbiji dua. Produktivitas tinggi keduanya tak lepas dari tetua betina yaitu Turangga dan ICGV-93370. Potensi produktivitas Tala 1 mencapai 3,23 ton polong kering per ha, kelemahannya rentan penyakit daun. Namun, saat pengujian dengan varietas unggul lain yaitu bison, gajah, kancil, dan hypoma 1 semuanya juga rentan. Secara umum tingkat kerentanannya sama terhadap penyakit karat daun.

567_-100-2

Novita Nugrahaeni meriset tala 1 dan tala 2 sejak 2004.

Tala 2 unggul dari produktivitas yang juga tinggi mencapai 3,1 ton per hektare. “Tala 1 dan 2 termasuk tinggi produktivitas karena rata-rata nasional baru di angka 1,34 ton per hektare,” ujar Novita. Meski dari segi produktivitas tala 2 masih kalah dengan tala 1, ukuran biji tala 2 lebih besar daripada tala 1 mencapai 42,7 g per 100 biji.

Tala 1 dan tala 2 lebih tahan layu bakteri dibandingkan varietas pembanding. “Tanaman Tala 1 dan 2 yang mati hanya 1,2—3,9% sehingga masuk kategori tahan. Varietas pembanding berkategori agak rentan—kategori rentan, kecuali gajah yang juga tahan,” ujar Novita. Dengan beragam keunggulan itu, tala 1 dan tala 2 siap memenuhi kebutuhan benih para petani kacang tanah demi kemajuan pertanian Indonesia. (Bondan Setyawan)

 

 

Sumber: Trubus