Liputan Media » [ TRUBUS ] Kedelai Kering Hanya 10 Jam

Biji kedelai dega 1 tergolong besar sehingga cocok untuk tempe.

Kedelai Kering

Kehilangan hasil pada usaha tani kedelai masih sangat tinggi. Menurut peneliti pascapanen di Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi), Ir. I Ketut Tastra M.S., perkiraan kehilangan hasil panen kedelai tinggi kadar air (30–40% basis basah) mencapai 15,5%. Angka kehilangan itu turun menjadi 10% ketika kedelai panen pada kadar air rendah (17—20%). “Susut mutu/viabilitas (kualitas) benih kedelai dalam penanganan pascapanen juga cukup tinggi, berkisar 2,5–8,0%,” ujar I Ketut Tastra.

Cara pengeringan kedelai secara konvensional.

Cara pengeringan kedelai secara konvensional.

Kadar air tinggi meningkatkan kelembapan dalam penyimpanan sehingga benih kedelai mudah rusak dan berkurang daya tumbuhnya. “Kehilangan hasil itu terjadi pada semua proses kegiatan baik panen, pengeringan, perontokan, hingga penyimpanan,” ujar Ketut. Oleh karena itu, penanganan pascapanen kedelai mesti cepat, tepat, dan teliti. Pemulia kedelai dari Balitkabi, Ayda Krisnawati, S.P., M.Sc., menuturkan bahwa kedelai mesti segera diproses setelah panen, terutama untuk benih.

Mesin pengering
Untuk memperoleh benih berkualitas, kadar air biji maksimal 9%. “Kalau lebih bisa mempengaruhi kualitas seperti daya simpan tidak lama,” tutur Ayda. Selain itu pengeringan secara konvensional dengan penjemuran di ruang terbuka kurang efisien lantaran relatif merepotkan dan memerlukan lahan luas. Ketut Tastralantas merancang mesin pengering untuk menurunkan kadar air biji kedelai pascapanen sebelum memasuki penyimpanan.

Ir. I Ketut Tastra M.S., pembuat mesin pengering kedelai dari Balitkabbi

Ir. I Ketut Tastra M.S., pembuat mesin pengering kedelai dari Balitkabbi

Pengering rancangan Ketut berbentuk bak penampung dengan panjang 480 cm, lebar 240 cm, dan tinggi 120 cm. Kapasitas bak itu 1.000 kg kedelai brangkasan atau tanaman kedelai berkadar air 35—45% hingga kadar air siap rontok (18—20%). Ada 2 alternatif bahan bakar pemanas, yaitu LPG atau batubara. ”Pemakai bisa memilih berdasarkan kemudahan mendapatkan di daerah masing-masing,” kata Magister Mekanisasi Pertanian Insitut Pertanian Bogor itu.

Sebuah motor bensin berkekuatan 5,5 hp menggerakkan kipas untuk menyebarkan panas dari tungku ke bak penampung. Pemanasan selama 10 jam menurunkan kadar air 1 ton kedelai dari 20—30% menjadi 15—18%. Proses itu menghabiskan 11,9 kg LPG atau 10 kotak briket batubara seharga Rp18.000 per kotak. Selama itu, motor penggerak kipas memerlukan 8,25 liter bensin. Itu lebih cepat ketimbang penjemuran yang memerlukan 2—3 hari dengan sinar matahari cerah.

Kalau mendung, waktunya pun molor. Kendala di petani, ”Mereka enggan menggunakan mesin pengering lantaran harga yang mahal. Hal itu bisa disiasati dengan pembelian oleh kelompok tani,” ujar Ayda. Wakil Direktur Unit Pengelola Benih Sumber (UPBS) Balitkabi, Dr. M. Muclish Adie, M.S. menuturkan bahwa mesin pengering vital untuk pembenihan kedelai maupun kedelai konsumsi.

Mesin pengering kedelai berbahan bakar LPG.

Mesin pengering kedelai berbahan bakar LPG.

Pada produksi benih, mesin pengering mempertahankan kualitas benih baik dari segi viabilitas maupun vigoritas,” ujarnya. Namun, menurut Muclish Adie, mesin itu juga harus ekonomis untuk petani maupun pelaku bisnis kedelai. Selain menghasilkan benih berkualitas, alat itu juga dapat memberi keuntungan bagi para penangkar yang ingin berbisnis. Menurut Ketut harga sebuah mesin pengering kedelai Rp22-juta per unit.

574_ 55Adapun titik impas (BEP) tercapai kalau dalam setahun mesin itu mengolah 4,6 ton biji kedelai. Dasarnya adalah ongkos jasa pengeringan Rp2.600 per kg biji. Nisbah keuntungan dengan biaya (B/C) sebesar 1,12 dan tingkat pengembalian modal sebesar 38,4%. “Analisis finansial menunjukkan bahwa pengering rancangan Balitkabi itu berpeluang diterapkan oleh penangkar benih kedelai,” ujar I Ketut Tastra. (Bondan Setyawan)

 

Sumber