Liputan Media » [TRUBUS] Kedelai Tahan Genangan

Produktif, toleran kondisi jenuh air, dan tahan hama penggerek polong.

Galur harapan Sib/Grob-127 berbiji paling besar di antara galur harapan lain dengan bobot per 100 biji 16 g.

Galur harapan Sib/Grob-127 berbiji paling besar di antara galur harapan lain dengan bobot per 100 biji 16 g.

Sebanyak 60% dari lahan penanaman kedelai di Indonesia merupakan areal persawahan. Dengan perubahan musim yang tak terprediksi akibat pemanasan global, petani kerap cemas. Harap mafhum, jika penanaman kedelai saat kemarau tetapi tiba-tiba hujan datang dan menggenangi areal persawahan, petani kedelai rugi besar. Kerugian petani akibat lahan kedelai yang tergenang antara 20—75%.

Pemulia kedelai di Balai Penelitian Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi), Ir Suhartina MP, mengatakan besarnya kerugian itu tergantung pada varietas, lama genangan, dan fase pertumbuhan kedelai. Pertumbuhan Glycine max yang tergenangi akan terhambat lantaran akar tak mampu bernapas. Daun tanaman cepat menguning dan berguguran karena daun tua membagi nutrisinya dengan daun muda.

Tiga galur

Galur harapan Tgm/Anjs-750 tahan hama pengisap dan penggerek polong.

Galur harapan Tgm/Anjs-750 tahan hama pengisap dan penggerek polong.

Suhartina mengatakan, “Jika daun sedikit, fotosintesis juga tidak maksimal, sehingga tanaman juga abnormal. Apalagi jika tidak ada daun.” Solusi yang memungkinkan mengatasi masalah itu adalah merakit kedelai toleran kondisi jenuh air. Sejatinya ada varietas kedelai yang terindikasi toleran kondisi jenuh air, yaitu varietas kawi. Namun sayang, kawi berbiji kecil hanya 10 g per 100 biji dan memiliki umur masak 88 hari.

“Petani mintanya berumur genjah dan berbiji besar,” ujar Suhartina. Oleh karena itu sejak 2005 Ir Suhartina MP dan tim di antaranya Purwanto SP, Dr Gatut Wahyu Anggoro Santoso, Dr Novita Nugrahaeni, dan Dr Titik Sundari, mulai merakit kedelai toleran kondisi jenuh air yang berumur genjah dan berbiji besar. Mereka menggunakan beberapa varietas unggul sebagai tetua seperti tanggamus, anjasmoro, sibayak, dan grobogan.

Para peneliti menyeleksi keturunan kedelai-kedelai itu dengan Teknik Budidaya Jenuh Air (TBJA). Teknik itu meliputi penanaman kedelai di bedengan selebar 1,6 m dengan jarak tanam antarbaris 40 cm dan dalam baris 15 cm. Tiap lubang berisi dua tanaman. Para peneliti membuat kondisi jenuh air melalui penggenangan saluran drainase selisih 3—5 cm di bawah tinggi bedengan.

Galur harapan Sib/Grob-137 memiliki keunggulan potensi hasil mencapai 2,75 ton per hektare.

Galur harapan Sib/Grob-137 memiliki keunggulan potensi hasil mencapai 2,75 ton per hektare.

“Penggenangan dari umur 14 hari pascatanam hingga masak,” ujar Purwanto SP. Para peneliti akhirnya memperoleh 13 galur harapan (GH) kedelai toleran kondisi tanah jenuh air pada 2011. Mereka lalu menguji ke-13 galur dengan 2 varietas pembanding yaitu varietas kawi dengan karakter biji kecil, umur sedang, dan toleran jenuh air serta varietas grobogan yang berkarakter biji besar dan umur genjah.

Uji multilokasi di sentra-sentra kedelai tanah air seperti, Malang, Pasuruan, Banyuwangi (ketiganya di Jawa Timur), dan Midang, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Hasilnya Suhartina dan rekan memperoleh 3 galur unggul yang menjadi kandidat kuat sebagai varietas baru toleran jenuh air. Galur itu adalah Tgm/Anjs-750, Sib/Grob-137, dan Sib/Grob-127.

Keunggulan
Galur Tgm/Anjs-750 persilangan tanggamus sebagai tetua betina dan anjasmoro sebagai tetua jantan dan bernomor seri 750. Keunggulan Tgm/Anjs-750 di antaranya potensi hasil hingga 2,87 ton per hektare, umur genjah 79 hari, dan biji berukuran sedang dengan bobot 12,9 g per 100 biji. Alumnus Jurusan Agronomi, Universitas Gadjah Mada itu, mengatakan bahwa Tgm/Anjs-750 juga tahan hama pengisap dan penggerek polong.

Daun GH Tgm/Anjs-750 tetap hijau meski tumbuh di lahan tergenang.

Daun GH Tgm/Anjs-750 tetap hijau meski tumbuh di lahan tergenang.

Menurut peneliti kedelai dari Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), Harry Is Mulyana, hama pengisap dan penggerek polong merupakan musuh utama petani kedelai. “Jika tak terkendali, serangan hama pengisap dan penggerek polong bisa merugikan pekebun 80—90%,” ujar Harry Is Mulyana.

Galur harapan kedua yaitu GH Sib/Grob-137, persilangan sibayak sebagai tetua betina dan grobogan tetua jantan. Galur itu memiliki keunggulan potensi hasil mencapai 2,75 ton per hektare, berumur genjah 80 hari, dan berbiji besar. “Bobot biji 14,8 g per 100 biji,” ujar Purwanto SP. Galur Sib/Grob-137 memiliki karakterisitik tinggi tanaman mencapai 52,2 cm, jumlah cabang 3, dan jumlah polong 38,1 polong per tanaman.

Galur harapan ketiga yaitu Sib/Grob-127, persilangan sibayak sebagai tetua betina dan grobogan tetua jantan dengan nomor 127. Menurut Suhartina galur itu berbiji paling besar di antara galur harapan lain yaitu 16 g per 100 biji. “Biji besar lebih disukai konsumen terutama pembuat tempe,” ujar Suhartina. Galur itu juga produktif dengan potensi hasil mencapai 2,55 ton per hektare.

Produksi itu lebih tinggi daripada rata-rata produksi nasional sekitar 1,5 ton per hektare. Galur-galur unggul itu rencananya akan dilepas dengan nama desah, singkatan kedelai basah. Galur Tgm/Anjs-750 menjadi desah 1, Sib/Grob-137 desah 2, dan Sib/Grob-127 sebagai desah 3. Menurut Suhartina galur harapan unggul itu bisa toleran terhadap kondisi tanah jenuh air lantaran daya adaptasinya yang tinggi.

Ir Suhartina MP (kiri) dan Purwanto SP meneliti kedelai toleran jenuh air sejak 2005.

Ir Suhartina MP (kiri) dan Purwanto SP meneliti kedelai toleran jenuh air sejak 2005.

Sejatinya saat tergenang air, daun kedelai yang tak toleran jenuh air maupun galur harapan itu akan menguning. Namun, perbedaan muncul setelah 2—4 pekan. “Pada tanaman kedelai yang toleran akan membentuk akar adventif atau akar bantuan, sementara tanaman kedelai yang tak toleran tidak muncul akar adventifnya,” ujar Suhartina. Akar-akar itu akan muncul di permukaan tanah yang dekat dengan oksigen.

“Fungsinya mengganti akar-akar yang mati karena tergenang,” ujar pemulia kedelai sejak 2000 itu. Puncaknya, daun-daun kuning pada galur harapan toleran jenuh air akan berubah menjadi hijau, bahkan lebih hijau dibanding sebelumnya. Itu terjadi akibat kembalinya akar yang memang bertugas menyerap unsur hara dari tanah. Hasilnya, galur harapan unggul rakitan Suhartina dan rekan layak menjadi andalan petani kedelai dalam meraih produktivitas tinggi meski lahan penanaman tergenang air. (Bondan Setyawan)