Liputan Media » [TRUBUS] Kedelai Unggul Baru

565_-36-1-300x281

Kedelai dega 1 unggul dari umur panen yang genjah, hanya 75 hari.

Tiga varietas kedelai baru memiliki keunggulan genjah, produktif, tahan pecah polong, dan kaya isoflavon.

Ajum Ali Akbar kaget melihat tanaman kedelai di lahannya siap panen meski baru berumur 75 hari. “Baru pertama kali ini saya tanam kedelai umur 75 hari siap panen, biasanya butuh waktu hingga 90 hari setelah tanam,” ujar petani di Desa Petakbatuah, Kecamatan Dadahup, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah, itu. Dengan waktu panen singkat, ia menghemat biaya pestisida dua kali semprot atau Rp400.000 per hektare.

Dr M Muclish Adie MS, pemulia kedelai devon 2.

Dr M Muclish Adie MS, pemulia kedelai devon 2.

Kegembiraan Ajum makin bertambah karena hasil panen Glycine max lebih tinggi ketimbang hasil panen sebelumnya. “Produktivitas kedelai musim tanam sebelumnya hanya 12 kuintal per hektare. Hasil penen kedelai baru ini mencapai 16 kuintal per hektare,” ujar Ajum. Harga kedelai mencapai Rp8.000 per kg memberi omzet Rp12.800.000 per hektare. Pendapatan itu jauh lebih tinggi daripada sebelumnya yang hanya Rp9.600.000.

Keturunan grobogan
Ajum merasa puas karena varietas baru itu berumur genjah dan berbiji besar sehingga produktivitasnya tinggi. Kedelai itu adalah varietas baru hasil rakitan Dr Novita Nugrahaeni dan rekan dari Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi) di Kabupaten Malang, Jawa Timur. “Namanya dega, singkatan dari kedelai genjah,” tutur Novita. Dega varietas kedelai hasil perkawinan silang antara kedelai varietas grobogan dan malabar.

“Kedelai grobogan kedelai genjah dan produktif. Sayangnya ia hanya cocok ditanam di daerah Grobogan, Jawa Tengah. Sementara malabar unggul karena daya adaptasinya yang tinggi,” ujar Novianti yang mulai merakit dega sejak 2009. Dengan menggabungkan sifat unggul kedua varietas kedelai itu, Novianti berharap dapat melahirkan kedelai yang genjah, produktif, dan adaptif di segala lokasi.

Dr Novita Nugrahaeni, pemulia kedelai varietas dega 1.

Dr Novita Nugrahaeni, pemulia kedelai varietas dega 1.

Selain genjah, dega agak tahan terhadap penyakit karat daun serta adaptif di lahan sawah. “Biji dega kuning cerah dan tergolong besar dengan bobot 22,98 g per 100 biji, sehingga sangat cocok untuk bahan tempe,” ujar doktor bidang pemuliaan tanaman alumnus Universitas Gadjah Mada itu. Dega juga tergolong produktif dengan rata-rata hasil panen mencapai 2,78 ton per hektare dan memiliki potensi hasil mencapai 3,82 ton per hektare.

Kedelai unggul baru lain yaitu detap 1. Kedelai rakitan Ayda Krisnawati SP MSc dan rekan dari Balitkabi itu unggul dari ketahanan terhadap pecah polong. Ayda dan rekan memberikan nama detap 1 yang merupakan singkatan dari kedelai tahan pecah polong. Keunggulan itu membuat polong kedelai detap tidak mudah pecah meski panen tertunda. “Penundaan panen sering terjadi karena tenaga kerja tidak ada,” ujar Ayda.

Tahan pecah polong

Biji kedelai dega 1 tergolong besar sehingga cocok untuk tempe.

Biji kedelai dega 1 tergolong besar sehingga cocok untuk tempe.

Dengan panen tertunda, kedelai yang peka terhadap pecah polong akan pecah polongnya hanya dalam waktu 3 hari. “Kedelai yang pecah polong akan mengurangi hasil panen lantaran biji kedelai terjatuh dan tersebar di tanah sehingga terbuang. Kondisi itu membuat petani bisa kehilangan hasil panen sebesar 30—100% alias gagal panen,” ujar Ayda. Sedangkan kedelai detap tetap tahan dari pecah polong hingga 21 hari.

Untuk melakukan pengujian terhadap pecah polong, Ayda menggunakan metode oven. “Metode itu mengatur kondisi lingkungan sekitar biji kedelai yang diuji,” ujar Ayda. Mula-mula ia memanen kedelai sesuai umur masak sebanyak 30 polong tiap galur dengan 4 kali ulangan. Ayda meletakkan polong itu di cawan petri, lalu memasukkan ke dalam oven. “Suhu oven kami setel 30°C selama 3 hari. Hari ke-4 suhu dinaikkan menjadi 40°C, hari ke-5 50° C, dan hari ke-6 hingga tiga hari kemudian 60°C,” ujar Ayda.

Hasilnya detap 1 hanya mengalami pecah polong sebanyak 9%. Sementara varietas pembanding seperti grobogan mencapai 94%. “Pecah polong kurang dari 25% tergolong tahan,” ujar pemulia kedelai kelahiran 11 Juli 1981 itu. Detap 1 merupakan persilangan kedelai varietas anjasmoro sebagai tetua jantan dan galur G-511-H sebagai tetua betina. “Karakter tahan terhadap pecah polong warisan kedelai varietas anjasmoro,” ujar Ayda.

Kedelai detap 1 tahan terhadap pecah polong.

Kedelai detap 1 tahan terhadap pecah polong.

Detap 1 teruji di 8 lokasi yang tersebar di beragam daerah seperti Nganjuk, Mojokerto, Blitar, dan Pasuruan, keempatnya di Jawa Timur, Jembrana dan Tabanan (Bali), serta Lombok Tengah (Nusa Tenggara Barat). Hasilnya kedelai unggul baru itu memiliki rata-rata produksi mencapai 2,7 ton per hektar dengan potensi hasil mencapai 3,58 ton per hektare.

“Detap 1 juga unggul dari ketahanan terhadap penyakit karat daun, agak tahan penggerek polong, dan toleran hama pengisap polong,” ujar Ayda. Balitkabi juga merilis kedelai unggul baru lain yaitu devon 2 yang berkadar isoflavon tinggi. Menurut Dr M Muclish Adie MS, pemulia devon 2 dari Balitkabi, kedelai sebagai pangan fungsional memiliki potensi isoflavon yang baik untuk kesehatan.

Muclish Adie mengatakan, “Devon 2 memiliki kandungan isoflavon mencapai 303,7 µg bobot kering, lebih tinggi daripada anjasmoro yang hanya 187,27 µg.” Devon 2 juga unggul dari ketahanan terhadap penyakit karat daun dan agak tahan terhadap hama pengisap polong. Devon 2 memiliki potensi hasil mencapai 2,89 ton per hektare dengan rata-rata hasil panen mencapai 2,67 ton per hektare.

Kedelai devon 2 tinggi isoflavon.

Kedelai devon 2 tinggi isoflavon.

Menurut Muclish Adie dibanding dengan devon 1, devon 2 unggul dari biji ukuran besar mencapai 17 g per 100 biji sementara devon 1 hanya 13 gram. Umur panen devon 2 juga tergolong genjah, sementara Devon 1 masih tergolong sedang,” ujar wakil direktur Unit Pengelola Benih Sumber (UPBS) Balitkabi itu. Itulah beragam varietas kedelai unggul baru persembahan para pemulia untuk petani kedelai Indonesia. (Bondan Setyawan)

 

Sumber: Trubus