Berita ยป AFACI Study Tour for the Outstanding Country Project Group

Proyek penelitian AFACI yang dilaksanakan di delapan negara yaitu Bangladesh, Indonesia, Lao PDR, Mongolia, Nepal, Filipina, Sri Lanka, dan Thailand telah berjalan tiga tahun. Berdasarkan penilaian pelaksanaan dan capaian hasil, AFACI memberikan penghargaan (award) kepada tiga proyek penelitian yaitu Development of Variety, Cropping System Research and Technology Transfer of Major Cereals for Sustainable Food Security in Bangladesh (Bangladesh), Variety Development and Improvement of Production Technologies of the Tropical Soybean (Indonesia), dan Maize Seed Village in Thailand (Thailand). Award untuk Indonesia telah diterima Dr. Heru Kuswantoro sebagai Principal Investigator pada tanggal 22 Oktober 2013 di Bogor. Dalam kaitan pemberian award tersebut, AFACI memberikan apresiasi kepada penerima award dengan mengundang beberapa peneliti yang terlibat pada ketiga proyek tersebut untuk melakukan studi tur ke lembaga-lembaga penelitian di Korea. Studi tur dilaksanakan pada tanggal 3-9 November 2013, diikuti 5 peserta dari Thailand, dua peserta dari Bangladesh, dan tiga peserta dari Indonesia adalah Dr. Heru Kuswantoro, Dr. Titik Sundari, dan Dr. Novita Nugrahaeni. Tujuan studi tur adalah melihat dari dekat kemajuan penelitian pertanian di Korea sehingga dapat menjadi inspirasi untuk mempertahankan dan meningkatkan kinerja yang telah dicapai. Rombongan studi tur diterima oleh Direktur RDA (Rural Development Agriculture), Korea, yang kemudian dilanjutkan dengan presentasi capaian hasil selama proyek berlangsung, serta diskusi tentang hasil dan arah penelitian yang akan datang (Gambar 1).


Gambar 1. Peserta studi tur bersama Direktur RDA dan presentasi main achievements dari Indonesia oleh Dr. Heru Kuswantoro

Setelah presentasi dan diskusi, peserta mengunjungi Agricultural Exhibition Hall di kampus RDA di Suwon. Peragaan pertanian di Korea sejak jaman kuno hingga kemajuan terkini dipamerkan di kantor ini, baik tentang varietas dan teknologi perakitan varietas, teknologi budidaya hemat energi, hingga pengembangan produk yang ditata dengan sangat cermat dan menarik di dalam gedung yang sangat nyaman (Gambar 2).

Gambar 2. Kunjungan di Agricultural Exhibition Hall, Suwon Selain mengunjungi Agricultural Exhibition Hall, peserta studi tur mengunjungi lembaga penelitian nasional (National Institute of Crop Science, National Institute of Horticultural and Herbal Science, dan Highland Agriculture Research Center), dan lembaga penelitian provinsi (Gangneung Agricultural Technology Center, Maize Experiment Station and Doochon Agricultural Cooperatives, dan Gangwondo Agricultural Research and Extension Services), dan petani (petani strawberry, blueberry), serta rumah petani. Disetiap lembaga, peserta studi tur mendapatkan penjelasan sejarah singkat lembaga, fasilitas, SDM, dan capaian hasil melalui video dan ekspose capaian, dan kesempatan berkeliling melihat fasilitas yang ada di masing-masing lembaga (Gambar 3).


Gambar 3. Kegiatan kunjungan ke lembaga-lembaga penelitian di Korea, keragaan pertanaman sawi kimci di lembaga penelitian,
strawberry dan blueberry di lahan petani, kondisi kantor dan tanah gambut untuk pertanaman blueberry.

Produktivitas lembaga cukup tinggi, ditunjukkan oleh teknologi dan varietas di display; dampak penelitian cukup besar. Sebagai contoh, pada tahun 90-an seluruh varietas strawberry merupakan varietas introduksi, saat ini hampir 100% varietas yang ditanam merupakan varietas hasil perakitan lembaga penelitian. Produktivitas kentang meningkat dua kali lipat dengan adanya varietas unggul hasil perakitan lembaga penelitian. Pada saat kunjungan, Korea sedang musim gugur sehingga sudah tidak ditemui pertanaman kedelai. Kedelai selalu ada dalam menu sehari-hari, baik dalam bentuk tofu, kecambah, maupun saus. Kesan umum, secara fisik kantor-kantor yang dikunjungi terlihat rapi, indah, bersih, dan tertib, dukungan pemerintah terhadap lembaga penelitian dan diseminasi sangat besar melalui fasilitas penelitian yang sangat lengkap dan anggaran yang kontinyu.

Dr. Novita/AW