Berita » Aneka Kacang dan Umbi di Madura Siap Dukung Ketahanan Pangan Lokal

madura

Keragaan Adira 1 di Saronggi, Sumenep

Madura, terbayang tanah tandus, berkapur, dengan tanaman tembakaunya. Namun, dengan sentuhan inovasi teknologi aneka kacang dan umbi (Akabi) dari Balitkabi secara terus-menerus, telah terjadi percepatan adopsi varietas unggul baru (VUB) serta teknologi budi daya mendukung peningkatan sosial ekonomi keluarga petani Madura. Terbukti Pulau Madura menjadi sentra komoditas Akabi yakni kacang hijau, kacang tanah, ubi kayu dan Akabi potensial.

Kiprah Balitkabi di Madura sebenarnya mulai tahun 1980, hingga saat ini, terlihat dari banyaknya permintaan benih dari UPBS Balitkabi seperti kacang hijau (varietas Vima 1), kacang tanah (varietas Kancil, Kelinci, dan Lokal Tuban), dan ubi kayu (varietas Adira 1). Balitkabi juga turut berperan dalam kegiatan Kementerian Pertanian melalui pemberian bantuan benih serta kegiatan diseminasi VUB aneka kacang dan umbi yang telah dirilis Balitbangtan.

Penelusuran perbenihan, budi daya, pasca panen dalam mendukung ketahanan pangan dan industri pangan di Madura telah dilakukan tim Balitkabi pada 23 – 25 September 2020 terdiri dari Plh. Kepala Balitkabi Dr. Yuliantoro Baliadi, Bambang Sri Koentjoro, S.P, M.Kom (Kasie Jaslit), Eriyanto Yusnawan, Ph.D (Koordinator Program), Imam Sutrisno S.P, M.M (peneliti Sosek), Herdina Pratiwi, S.P, M.P. (peneliti agronomi), dan Nuryati, S.P, M.P (peneliti pemuliaan).

Kabupaten Sumenep, terutama menjadi daerah pengembangan kacang hijau dan ubikayu. Diinformasikan oleh Habe Hajat SP.MSi (Sekretaris Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kab.Sumenep dan Bambang Eko Wicaksono, SP. MSi (Kasi Produksi Tanaman Pangan) saat menerima kunjungan tim Balitkabi, varietas kacang hijau Vima 1 dan Kutilang mulai berkembang sejak tahun 2018, dengan sentra produksi di Desa Kolo-kolo, Kec. Arjasa Pulau Kangean seluas 8.000 ha, produktivitas 1,7 t/ha. Harga jual kacang hijau relatif stabil Rp 12.000-Rp 14.000. Vima 1 sangat disukai petani karena warna biji kusam, umur genjah, masak serempak dan cara panen mudah, dengan memotong langsung di pangkal batang sehingga menghemat biaya tenaga kerja. Ubi kayu juga berkembang di lahan kering Kec. Rubaru, Ambunten, Batang-Batang, Saronggi dan Bluto, seluas 100 ha, varietas Adira 1 dan Mentega menghasilkan umbi hingga 50 t/ha. Kedelai di Sumenep biasa menggunakan var. Anjasmoro, saat ini popularitasnya menurun karena harga jual rendah (Rp. 5000/kg). Keterbatasan benih bermutu/bersertifikat sering menjadi kendala.

madura2 madura1
Koordinasi Diperta Sumenep dan Meninjau Industri Singkong

Kabupaten Pamekasan, mempunyai potensi produksi kacang tanah seluas 500 ha, preferensi kacang tanah berbiji dua. Menurut Kabid. Tanaman Pangan, Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kab. Pamekasan Ir. Slamet Budiharsono, MM dan Kasi Produksi Tanaman Pangan Akhmad Muzakki, SP saat kunjungan tim Balitkabi, var.Kancil dan Lokal Tuban telah diuji coba, dengan produktivitas lebih tinggi dibandingkan varietas lokal. Demfarm di Desa Campor Kec. Proppo mendapatkan produktivitas var. Kancil 1,382 t/ha, sedangkan varietas lokal lebih rendah (1,024 t/ha). Petani kacang tanah di Pamekasan memerlukan pelatihan pengolahan dan pengemasan produk olahan kacang tanah.

Kabupaten Sampang, dahulu menjadi sentra kedelai seluas 23.000 ha, namun sekarang tinggal 500 ha di daerah Robatal dan Sokobanah, demikian disampaikan Plt. Kepala Dinas Pertanian Keb. Sampang Ir. Suyono, M.S. Anjasmoro adalah varietas yang biasa ditanam petani di sana. Faktor harga menyebabkan petani beralih ke tanaman jagung yang lebih kompetitif, selain itu kacang tanah, kacang hijau, dan bentul juga menjadi pilihan petani. Kacang tanah var. Lokal Madura berbiji tiga masih mendominasi seluas 23.000 ha. Karakteristik biji gepeng disukai untuk bahan produk olahan “kacang sembunyi”, selain pemanfatan brangkasannya untuk pakan ternak. Kacang hijau seluas 5.000 ha berkembang baik di daerah Torjum, Camplong dan Sokobanah, menjadi pengisi masa tunggu sebelum musim tanam tembakau (Februari-April). Tahun 2021 direncanakan penanaman kacang hijau seluas 30-60 ha di Camplong dan Torjum.

Bentul menjadi komoditas unggulan di Sampang, dengan luas tanam 7000 ha, sekarang tinggal 293 ha, akibat serangan Fusarium (dugaan) yang belum dapat dikendalikan hingga saat ini. Prospek bentul sangat baik, harga Rp. 30.000-Rp. 50.000/ umbi. Daerah sentra adalah Tambelangan dan Robatal. Potensi umbi yang lain adalah ubi kayu, var. Gajah dijual dengan harga Rp. 1000/kg. Yang menarik di Sampang, telah terbentuk enam (6) penangkar benih tanaman pangan, seperti penangkar Tunas Muda telah memproduksi benih kacang hijau kelas SS (label ungu). Kendala yang dihadapi adalah belum menemukan pasar untuk menyalurkan benih.

madura3 madura4
 Koordinasi ke Diperta Pamekasan dan Sampang tentang Perkembangan Akabi

Dari koordinasi FGD tersebut menunjukkan perkembangan Akabi di Madura telah mengalami lonjakan, misalnya penggunaan varietas unggul Adira 1, Vima 1, dan Kancil menggantikan varietas lokal, serta diikuti peningkatan produktivitas. Tindak lanjut Balitkabi di tahun depan adalah melaksanakan program diseminasi di daerah Madura dengan memperkenalkan VUB sesuai preferensi pasar di sana, dan tentu saja tetap menyandingkan dengan program yang telah ada di sana. Dr. Yuliantoro Baliadi sebagai Plh. Kepala Balitkabi menyarankan tetap mengikuti program Kementerian, dengan menyiapkan inovasi VUB, benih, maupun teknologi. Balitkabi juga akan menjembatani para penangkar benih dengan pasar yang ada, serta membantu permasalahan terkait budi daya komoditas akabi.
HP/IS