Berita » Anjasmoro dan Grobogan Menjadi Idola Petani Nusa Tenggara Barat

Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) termasuk salah satu sentra produksi kedelai di Indonesia dengan luas panen rata-rata 5 tahun terakhir mencapai 78.589 ha tiap tahun dengan rata-rata produktivitas 1,15  t/ha dengan produksi rata-rata 90.288 ton per tahun. Produktivitas kedelai di tingkat petani masih sangat rendah, berkisar antara 1,1-1,25 t/ha, sementara hasil demplot di semua kabupaten/kota lokasi pendampingan SLPTT rata-rata 1,8-2,4 t/ha. Rendahnya produktivitas kedelai di tingkat petani karena belum semua rekomendasi teknologi diterapkan dengan baik. Untuk meningkatkan produktivitas BPTP NTB dilakukan pendampingan pelaksanaan SLPTT. Sasaran SL-PTT Kedelai di NTB tahun 2012 seluas 32.000 ha (3.200 unit) dengan target produktivitas rata-rata 1,36 t/ha. Sasaran pendampingan SL-PTT Kedelai di NTB tahun 2012 seluas 6.400 ha (640 unit) dengan target produktivitas rata-rata 1,44 t/ha. Displai varietas unggul kedelai merupakan bentuk kegiatan pendampingan Badan Litbang Pertanian dalam pelaksanaan SLPTT kedelai di lapang.  Displai varietas unggul kedelai Anjasmoro dan Grobogan di Desa Puyung Kecamatan Jonggat Lombok Tengah  dan di Desa Rumak, Kecamatan Kediri, Lombok Barat masing-masing seluas 1,5 ha. Displai varietas ditanam di areal SLPTT seluas 20.000 ha, bersebelahan dengan Laboratorium Lapang SLPTT kedelai. Keragaan tanaman Anjasmoro dan Grobogan cukup bagus, demikian juga keragaan varietas Wilis di area LL–SLPTT. Petani lebih senang varietas Anjasmoro karena berbiji besar, warna biji kuning mengkilat, tahan pecah, dan produksi lebih tinggi. Displai varietas Anjasmoro dan Grobogan di Kecamatan Empang, Kabupaten Sumbawa dikemas dalam satu areal seluas 10 ha, dengan tujuan hasilnya dipakai sebagai benih sumber, karena benih yang ditanam adalah kelas Benih Dasar (FS). Menurut laporan Bapak Saharudin Kepala Dinas Pertanian Kecamatan Empang yang didampingi Bapak Makmum Kepala BPP Kecamatan Empang, pertanaman pada awal Oktober 2012 telah dipanen semua dan hasil yang telah diproses menjadi benih baru 6 ton dan diperkirakan total hasil benih antara 11–12 ton. Benih ini sementara ditampung di gudang UD Damai yang selanjutnya akan dikembangkan pada musim hujan di lahan kering/gunung sebagai benih sumber di lahan sawah pada Musim Kemarau nanti, ujar Pak Beny Kuswoyo pemilik UD Damai. Petani di Pulau Lombok maupun Sumbawa mengidolakan varietas kedelai Anjasmoro. Bapak Saharudin mengucapakan terima kasih kepada Litbang Pertanian yang telah menggelar displai varietas dengan kualitas benih dasar (BD/FS) yang baik dan dapat dipakai sebagai benih sumber khususnya di Kecamatan Empang dan Kabupaten Sumbawa pada umumnya. Selanjutnya beliau mengatakan bahwa hambatan pelaksanaan SLPTT kedelai pada umumnya dikarenakan: keterlambatan benih, kualitas benih yang kurang baik, dan varietas yang diberikan tidak sesuai keinginan petani.  Harapan untuk pengembangan kedelai selanjutnya adalah masalah harga kedelai agar dapat ditetapkan sehingga  mampu bersaing dengan komoditas lainnya.

Pendampingan BPTP NTB, Balitkabi dan petani kooperator di Lombok Barat di area Varietas Anjamoro sedang menguning dan Varietas Grobogan siap panen di Desa Rumak Kabupaten Lombok Barat.

Keragaan Laboratorium Lapang SLPTT di di Desa Rumak, Kecamatan Kediri, Kabupaten Lombok Barat.

Pendamping SLPTT kedelai BPTP NTB, Balitkabi diterima KCD Kecamatan Empang di BPP Empang Sumbawa (kiri) dan benih kedelai hasil pendampingan di UD Damai Empang, Sumbawa (kanan).