Berita » Antara Detap 1 dan Anjasmoro

Berbincang dengan Pak Sunyoto, mitra Balitkabi di Kabupaten Banyuwangi

Berbincang dengan Pak Sunyoto, mitra Balitkabi di Kabupaten Banyuwangi

Pak Sunyoto, salah seorang penggiat tanaman pangan di Desa Tapanrejo, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, adalah sosok yang tidak asing bagi peneliti Balitkabi. Beliau telah menjadi mitra sejati Balitkabi dalam pengembangan kedelai selama beberapa tahun. Karenanya, Pak Nyoto, panggilan akrabnya, tidak asing juga dengan deretan VUB kedelai, seperti Anjasmoro, Dering 1, Devon 1, Deja 1, Detap 1, dan beragam VUB kedelai lainnya.

Detap 1, boleh dikatakan merupakan varietas Anjasmoro reborn, karena memang Detap 1 diseleksi dari persilangan yang salah satu tetuanya adalah Anjasmoro. Keragaan Detap 1 mirip dengan Anjasmoro, hanya umur masaknya lebih genjah. Demikian juga sifat unggulnya yang tahan pecah polong, juga mirip dengan Anjasmoro, sama-sama tahan pecah polong.

Pak Nyoto, sosok yang telah berpengalaman menggerakkan petani di Muncar, berdasarkan pengalamannya di lapang, membandingkan Detap 1 dengan Anjasmoro. Diceritakan bahwa Anjasmoro, kurang bercabang dibandingkan dengan Detap 1, jika sudah tua batangnya gampang patah, jadi gampang saat dipanen. Kelakarnya, Anjasmoro bila disepak, sudah patah batangnya. Berbeda dengan Detap 1, lebih bercabang dan umurnya sedikit lebih genjah dibandingkan Anjasmoro, sekitar seminggu lebih genjah.

Pengalaman Pak Nyoto membudidayakan Detap 1, dapat meraih hasil hingga 2,5 t/ha. Kuncinya, adalah jangan lupa tambahan pupuk SP36, disemprot dengan zat pengatur tumbuh Paclobutrazol 3 kali pada sekitar umur 20, 35, dan 60 hari setelah tanam. Kalau hal-hal tersebut bisa dilakukan, hasilnya bahkan bisa di atas 2,5 t/ha. Menurut Pak Nyoto, petani setempat siap mengembangkan varietas Detap 1 apabila benihnya tersedia. Menutup obrolannya, beliau menyebutkan kurang menyukai varietas Devon 1, karena walaupun hasilnya tinggi dan tanamannya kokoh, namun polongnya gampang pecah.

MMA

nyoto1 nyoto2