Berita » Koordinasi Teknis Perbenihan Tanaman Pangan 2013 dan 2014

a-marwoto-1

Benih sangat menetukan keberhasilan peningkatan produksi tanaman pangan. Oleh karena itu, kesiapan penyediaan benih harus mendapat perhatian utama. Kebutuhan benih untuk mengatrol produksi tanaman pangan (padi, jagung dan kedelai) menuju swasembada diperlukan penyediaan benih yang cukup besar dan harus dirancang sejak awal.

Rapat koordinasi teknis perbenihan dalam rangka pencapaian target produksi tanaman pangan tahun 2013 dan persiapan 2014 dilakukan pada 17–19 April 2013 di Palembang. Koordinasi melibatkan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Direktorat Budidaya Aneka Kacang dan Umbi, Litbang Pertanian, Dinas Pertanian Tanaman Pangan (Kabit Produksi, Kepala BPSB, dan Kepala UPTD BBI) dari seluruh Provinsi se Indonesia. Dari Badan Litbang Pertanian sebagai nara sumber hadir Prof. Dr. Marwoto dan Ir. M. Anwari dari Balitkabi, Ir. Sri Wahyuni MSc dari BB Padi dan Dr Andi Takdir dari Balitsereal Maros.

Dirjen Tanaman Pangan Bpk Ir. Udhoro KasihAnggoro MM memberikan arahan pada pembukaan Rapat Koordinasi Teknis Perbenihan di Palembang.

Ir Udhoro Kasih Anggoro M.M., Dirjen Tanaman Pangan menegaskan bahwa RJPM Kementerian Pertanian telah dirumuskan 4 sukses sampai tahun 2014. Oleh karena itu jajaran Kemtan harus kerja keras dan cerdas untuk mencapai swasebada, diversifikasi pangan, nilai tambah produk dan meningkatkan pendapatan petani. Fokus dalam rapat koordinasi perbenihan adalah penyusunan langkah strategis untuk mencukupi kebutuhan benih padi, jagung dan khususnya kedelai.

Para nara sumber dari badan Litbang Pertanian telah menjelaskan produksi, distribusi benih 2013 dan rencana produksi benih sumber tahun 2014 untuk komoditas padi, jagung, dan aneka kacang dan umbi (kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubikayu dan ubijalar). Direktur Budidaya Aneka Kacang dan Umbi menjelaskan bahwa kebutuhan benih kedelai untuk tahun 2013 ini sekitar 41.000 ton untuk luas areal 1,018.500 ha, upaya penyediaan benih perlu kerja keras. Kemandirian benih untuk setiap daerah penghasil kedelai perlu digalakan agar tidak terjadi ketergantungan benih kedelai, seperti yang dipresentasikan Prof. Dr. Marwoto dengan yang mengusung paparan bertajuk Revitalisasi Jabalsim untuk Kemandirian Benih Kedelai.

Prof. Dr. Marwoto sebelah kanan mempresentasikan Revitalisasi JABALSIM, Pimpinan sidang Direktur Perbenihan dan didampingi Bapak Dirjen Tanaman Pangan.

Telah dirumuskan bahwa untuk memenuhi kebutuhan benih kedelai 2013 perlu ditentukan langkah-langkah: 1) inventarisasi keberadaan benih berlabel FS, SS dan ES, termasuk di mana dan kapan tersedia, 2) hasil pembinaan penangkar kedelai dari Direktorat Perbenihan dapat dipakai sebagai benih, 3) hasil inventarisasi keberadaan benih sekarang menentukan keberhasilan kecukupan benih tahun 2013, dan 4) perlu dibentuk tim operasional khusus dari Perbenihan dan Buakabi. Agar tidak terjadi kesulitan benih kedelai di tahun 2014 perlu dirancang mulai sekarang, dengan langkah operasional: 1) mengidentifikasi jumlah benih kedelai untuk 2014, 2) inventarisasi keberadaan benih berlabel FS, dan SS sebagai benih sumber untuk keperluan benih sebar, 3) merancang waktu tanam produksi benih dengan system JABALSIM berdasarkan kelas benih, 4) program pembinaan penangkar di masing-masing provinsi penghasil kedelai diperbanyak diarahkan untuk produksi benih sebar, waktu tanamnya disesuaikan dengan kebutuhan benih sebar, 5) menunjuk BUMN untuk bisa menjamin produksi benih sumber.

Marwoto/AW