Berita ยป Balitkabi Berpartisipasi pada Workshop UPBS

anwari

Badan Litbang Pertanian telah banyak melepas varietas unggul baru, namun yang sampai ke tangan petani masih sangat terbatas. Oleh karena itu perlu upaya lebih intensif lagi untuk menyebarkan varietas unggul tersebut. Keberhasilan penyebaran varietas unggul tersebut tidak lepas dari upaya pengembangan sistem perbenihannya. Kelancaran alur distribusi benih dari kelas benih penjenis sampai benih sebar menentukan pengembangan dan penggunaan varietas unggul baru. Keberhasilan adopsi teknologi varietas ditentukan antara lain oleh kemampuan produsen dan industri benih untuk menyediakan dan memasok benih secara tepat hingga ke petani. Sistem perbenihan yang tangguh (produktif, efisien berdaya saing tinggi, dan berkelanjutan) sangat diperlukan untuk mendukung upaya peningkatan produksi dan mutu produk pertanian. Pengelolaan benih sumber memerlukan proses yang terintegrasi mulai dari pengumpulan informasi , analisis, perencanaan dan konsultasi, sarana dan prasarana yang menunjang dan SDM yang memadai. Sehingga perlu diadakannya Workshop Peningkatan Pengelolaan Unit Pengelolaan Benih Sumber (UPBS) lingkup Badan Litbang Pertanian. Workshop Peningkatan Pengelolaan Unit Pengelolaan Produksi Benih Sumber, yang diselenggarakan di Bali pada 21-23 Nopember 2012, bertujuan untuk memberikan informasi mengenai pengelolaan benih sumber yang baik, serta manajemen pengelolaan produk untuk meningkatkan PNBP di masing-masing satker lingkup Badan Libang Pertanian. Balitkabi mengutus Ir Anwari, M.S. untuk mengikuti kegiatan tersebut.
Untuk dapat berfungsi sesuai yang diharapkan, UPBS harus memenuhi persyaratan minimum yaitu Struktur organisasi, perencanaan (kelas benih dan jumlah yang akan diproduksi), dan peralatan (lantai jemur, moister tester, timbangan, dll). Dari workshop ini diketahui permasalahan yang terjadi pada sistem perbenihan nasional antara lain: (1) Peningkatan produktivitas VUB relatif rendah (-10%), (2) Umumnya adopsi VUB relatif lambat< kecuali Inpari 13, (3) Penyediaan benih tidak sesuai dengan 6 tepat (jumlah, jenis, kualitas, harga, lokasi, waktu), (4) Penggunaan benih bermutu masih rendah(padi 40%, jagung 54%, kedelai 7%), dan (5) Harga benih di tingkat petani/penangkar relatif rendah (Rp. 5.000.-/kg kelas ES). Berdasarkan informasi kebutuhan benih padi, jagung, maupun kedelai selalu meningkat. Pada tahun 2012 kebutuhan benih padi mencapai 30.000 ton, jagung mendekati 5.000 ton, dan kedelai lebih dari 5.000 ton. Secara umum, kebutuhan benih dipanuhi oleh lembaga pelaku perbenihan nasional, yaitu: (1) UPBS badan Litbang Pertanian, (2) BBI dan BBU, (3) Penangkar/petani, (4) BPSB, (5) Swasta (PT SHS, PT Pertani), dan (6) Koperasi UPT.