Berita ยป Balitkabi Berperan dalam Penyusunan Draft Protokol Inspeksi dan Karantina Chips Porang Indonesia ke Republik Rakyat Tiongkok

Pembahasan draft Inspeksi dan Karantina chips porang

Pembahasan draft Inspeksi dan Karantina chips porang

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan mengundang 19 Satker yang terlibat dengan komoditas porang untuk membahas draft Inspeksi dan Karantina chips porang Indonesia ke Tiongkok, di Hotel Swiss-Belhotel Bogor, 25-26 Juni 2021. Direktur PPHTP, Ir. Gatut Sumbogodjati, MM, membuka dan memimpin langsung jalannya diskusi. Balitkabi diwakili oleh Ir. Joko Susilo Utomo, MP., Ph.D., Eriyanto Yusnawan, S.P., Ph.D., dan Sutrisno, S.P.

Sejak tahun 2018 hingga 2020, negara tujuan ekspor porang Indonesia paling banyak ke negara Tiongkok, namun pada periode Januari-April 2021, ekspor porang ke Tiongkok menurun 22.6% dibandingkan tahun 2020 pada periode yang sama. Penurunan jumlah ekspor disebabkan karena pihak otoritas Tiongkok menemukan produk ekspor porang dari Indonesia tidak memenuhi standar keamanan yang ditetapkan Tiongkok, sehingga untuk sementara waktu dilakukan pelarangan ekspor. Untuk menyelesaikan hal tersebut, otoritas Pemerintah Tiongkok meminta Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertanian untuk melakukan identifikasi dan menyediakan informasi tentang ketertelusuran produk porang yang diekspor sejak tanaman dibudidayakan hingga hasil umbi diolah di pabrik. Semua poin kesepakatan antar kedua negara dituangkan dalam Protocol on inspection and quarantine requirements for the export of dry konjac chips from Indonesia to Tiongkok.

Balitkabi sebagai lembaga penelitian yang ditugaskan melakukan penelitian porang diminta untuk memberikan kepastian spesies porang yang berkembang di Indonesia, karena kepastian spesies tersebut dituangkan dalam protokol yang akan disepakati. Eriyanto Yusnawan, Ph.D menyampaikan pernyataan bahwa spesies porang yang dikembangkan di Indonesia yang selama ini diobservasi (terutama di Pulau Jawa) adalah Amorphophallus muelleri Blume. Hal ini berbeda dengan spesies yang tertulis dalam protokol yang diketahui Tiongkok sebagai Amorphophallus bulbifer. Sutrisno, S.P. menambahkan bahwa Amorphophallus bulbifer banyak berkembang di negara India, Bangladesh, dan Tiongkok. Dengan kedua pendapat ini kemudian disepakati bahwa yang ditulis dalam protokol adalah Amorphophalus muelleri Blume. Pada pembahasan keamanan pangan pada umbi, Joko Susilo Utomo, Ph.D menjelaskan bahwa budidaya porang selama ini sangat minim menggunakan input anorganik seperti pestisida. Penggunaan pestisida mungkin hanya di awal periode tumbuh, bukan pada saat menjelang panen seperti pada komoditas buah hortikultura. Bahkan umbi porang dipanen setelah 2 bulan tanaman mati, sehingga sangat kecil risiko residunya. Resiko kontaminan bahan kimia mungkin lebih besar terjadi pada production house selama proses pengendalian hama gudang.

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan, Ir. Gatut Sumbogodjati, MM membuka dan memimpin langsung jalannya diskusi.

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan, Ir. Gatut Sumbogodjati, MM membuka dan memimpin langsung jalannya diskusi.

STR/EY