Berita ยป Balitkabi Dukung Penangkaran Benih Kacang Hijau di Grobogan

Di Indonesia, kacang hijau walaupun menempati urutan ke-3 terpenting setelah kedelai dan kacang tanah tetapi peran strategisnya adalah komplementer dengan beras, sebab protein beras yang miskin lisin dapat diperkaya oleh kacang hijau yang kaya lisin.

Produk terbesar hasil olahan kacang hijau di pasar berupa taoge (kecambah), bubur, makanan bayi, industri minuman, kue, bahan campuran soun dan tepung hunkue. Dengan potensinya ini kacang hijau dapat mengisi kekurangan protein pada umumnya, perbaikan gizi dan sekaligus menaikkan pendapatan petani.

Kacang hijau dengan karakteristik umur genjah dan hasil tinggi, menjadikan komoditas tersebut potensial untuk dikembangkan baik di lahan sawah maupun di lahan kering. Pada lahan kering, kacang hijau biasa ditanam sesudah padi gogo atau jagung.

Posisinya sebagai komponen pola tanam ini cukup penting, dan menempati posisi akhir dari suatu pola tanam sehingga sifat umur genjah dan tahan kekeringan adalah utama. Pada daerah-daerah dengan keterbatasan tenaga kerja, maka varietas kacang hijau yang memiliki karakteristik masak serempak dan hasil tinggi menjadi sangat penting.

Hal paling menarik adalah bahwa kacang hijau memiliki harga jual yang relatif stabil dan lebih tinggi dibandingkan kedelai dan cukup menjanjikan.

Dilaporkan bahwa Indonesia pada periode lima tahun terakhir mengekspor kacang hijau sebanyak 24.019 ton, sedangkan impor sebanyak 42.655 ton. Bahkan pada tahun 2015 secara nasional telah berhasil diekspor sebanyak 60.000 ton biji kacang hijau, dan dilaporkan bahwa mutu biji kacang hijau Indonesia ternyata lebih baik dari kacang hijau produk impor.

Untuk mempercepat peningkatan produksi kacang hijau maka perlu pemanfaatan benih unggul. Sayangnya pemasyarakatan benih unggul kacang hijau belum secara cepat sampai kepada petani. Hingga saat ini petani masih menggunakan varietas asalan walaupun sudah tersedia 21 varietas unggul, sehingga hasilnya pun belum menggembirakan.

Alasan yang banyak ditemukan adalah masih kurangnya minat penangkar benih dalam menangkar kacang hijau karena permintaan pasar yang tidak terlalu tinggi. Saat ini baru ada satu penangkar benih kacang hijau yang berlokasi di Gresik, dengan kapasitas produksi yang cukup bagus.

Bertolak dari kondisi dan peluang pengembangan kacang hijau untuk kebutuhan ekspor, maka CV Semi sebagai salah satu penangkar benih, melakukan pelatihan produksi benih kacang hijau. Pelatihan dilakukan pada tanggal 3 Oktober 2016, di kantor Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan, dihadiri oleh staf Dinas Pertanian, BPSB Kabupaten Grobogan, serta staf dari CV Semi.

Dr. Rudi Iswanto peneliti kacang hijau Balitkabi dalam paparannya menjelaskan banyak hal tentang teknik produksi dan penanganan benih, upaya menumbuhkan klaster-klaster kacang hijau di Grobogan dan sekitarnya, serta peluang dalam usaha perbenihan serta produksi untuk kebutuhan konsumsi. Selain itu pula disampaikan adanya peluang kerjasama dengan eksportir kacang hijau yang kebutuhannya juga cukup banyak.

Sebagai tindak lanjut dari kegiatan ini, maka tanam perdana produksi benih kacang hijau akan dilaksanakan di lahan BPP Gabus Kabupaten Grobogan seluas 2 ha, dengan Vima 1 dan Vima 3 sebagai sumber benihnya. Selain itu East West Seed Indonesia sebagai salah satu industri benih juga akan melakukan demonstrasi Plot varietas Vima 1, Vima 2 dan Vima 3 di Kupang NTT dalam waktu yang hampir bersamaan.

Diharapkan dengan tersedianya benih di tingkat penangkar akan memudahkan bagi petani untuk membudidayakan varietas unggul kacang hijau, dan sebagai implikasinya maka produktivitasnya juga akan semakin meningkat.

Penyampaian materi teknik produksi benih kacang hijau di Aula Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan.

Penyampaian materi teknik produksi benih kacang hijau di Aula Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan.