Berita ยป Balitkabi dukung Penumbuhan Penangkar Benih Kedelai di Sulsel

Penangkar benih menempati posisi penting dalam sistem perbenihan nasional. Keberadaan penangkar kedelai sangat diperlukan untuk mendukung keberhasilan program UPSUS menuju swasembada kedelai nasional. Menyadari akan pentingnya peran penangkar benih itulah Balitkabi sebagai Pusat Unggulan IPTEK Akabi mendukung sepenuhnya upaya penumbuhan penangkar benih kedelai yang dilakukan oleh BPTP Sulawesi Selatan.

Upaya penumbuhan penangkar antara lain diwujudkan dengan mengadakan Pelatihan Penangkar Benih Kedelai di Kabupaten Wajo dan Bone. Dua kabupaten tersebut merupakan sentra produksi kedelai di Sulsel, sekaligus sangat potensial sebagai daerah sentra produksi benih kedelai.

Di Wajo, pelatihan dibuka oleh Kabid Produksi (Ir. Nasrullah, M.M.) mewakili kepala Dinas Pertanian setempat. Pada acara tersebut Balitkabi bertindak sebagai nara sumber teknologi untuk menghasilkan benih kedelai bermutu (disampaikan oleh ahli perbenihan kedelai Dr. Didik Harnowo) serta pengelolaan hama dan penyakit mendukung produksi benih kedelai (oleh ahli hama/penyakit kedelai Ir. Sri Wahyuni Indiati, M.S.).

Nara sumber lainnya adalah Ir. Nurdin, staf BPSB Sulsel, memaparkan mengenai prosedur dan persyaratan menjadi penangkar benih, dan Prof. Dr. Djafar Baco dari BPTP Sulsel memaparkan mengenai peran dan pentingnya penangkar benih kedelai mendukung tercapainya swasembada kedelai nasional.

Pelatihan penangkar di Wajo diikuti oleh 75 orang peserta, terdiri atas 40 orang calon penangkar benih kedelai, 20 orang Penyuluh Lapangan, dan 15 orang staf Dinas Pertanian Kabupaten Wajo. Sedangkan pelatihan penangkar di Bone diikuti oleh 65 orang peserta, terdiri atas 30 orang calon penangkar, 20 orang Penyuluh Lapangan, dan 15 orang staf Dinas Pertanian Kabupaten Bone.

Di kabupaten Bone, pelatihan dibuka oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bone, Ir. H. Sunardi Nurdin, M.Si. Dalam sambutannya, Kepala Dinas menyampaikan terima kasih atas diadakannya pelatihan ini, karena pelatihan ini sangat penting untuk memulai mengembalikan kejayaan Kabupaten Bone sebagai sentra produksi kedelai terbesar di Sulsel.

Luas pertanaman kedelai di Bone pada tahun 2015 mencapai 33.875 ha yang meliputi GP-PTT 5.000 ha, PAT 16.500 ha, dan APBNP 11.875 ha. Total kebutuhan benih untuk luasan 33.875 ha diperkirakan mencapai 1.600 ton benih, sehingga keberadaan penangkar benih di daerah tersebut sangat dibutuhkan.

Beliau juga menyampaikan terima kasih atas kehadiran Kepala Balitkabi di Bone, sekaligus sebagai nara sumber ahli pada pelatihan ini. Tiga topik materi yang disampaikan pada pelatihan penangkar di Bone adalah teknologi untuk menghasilkan benih kedelai bermutu, pengelolaan hama/ penyakit mendukung produksi benih kedelai, dan pentingnya peran serta penangkar benih kedelai mendukung tercapainya swasembada kedelai nasional, dengan nara sumber yang sama seperti pada pelatihan di Wajo.

Peserta pelatihan penangkar benih di Wajo (kiri) dan nara sumber pelatihan (kanan).

Peserta pelatihan penangkar benih di Wajo (kiri) dan nara sumber pelatihan (kanan).

Pelatihan penangkar benih di Bone (kiri) dan nara sumber pelatihan (kanan).

Pelatihan penangkar benih di Bone (kiri) dan nara sumber pelatihan (kanan).

Di Bone, tim dari Balitkabi bersama tim dari BPTP Sulsel (Prof. Dr. Djafar Baco dan Ir. Fattah Muhammad) berkesempatan menyaksikan penanaman benih sumber kedelai FS varietas Anjasmoro dari Balitkabi sebanyak 1 (satu) ton di lahan petani di Desa Kajaolaleddong, Kecamatan Barebbo dengan pendampingan BPTP Sulsel.

Tanam benih kedelai FS di Bone.

Tanam benih kedelai FS di Bone.

SWI/DH