Berita ยป Balitkabi Ikut Latih Calon Penangkar Benih Kedelai di Jabar

Dalam rangka mendukung keberhasilan program Kementan, terutama produksi padi, jagung, dan kedelai di Jawa Barat serta pentingnya peran penangkar benih, BPTP Jawa Barat mengadakan pelatihan penangkar benih. Pelatihan diikuti oleh peserta dari 7 kabupaten, yakni Ciamis, Majalengka, Garut, Indramayu, Bandung, Cianjur, dan Pangandaran.

Peserta pelatihan terdiri atas staf Dinas Pertanian Kabupaten, calon penangkar, dan staf BPSB, dengan jumlah peserta sebanyak 72 orang. Narasumber pada pelatihan ini berasal dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jabar, BB Padi Sukamandi, Balitkabi Malang, dan BPSB Jabar.

Narasumber dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Jabar menyampaikan program dan capaian produksi PJK (Padi, Jagung, dan Kedelai) tahun 2015 serta harapan untuk suksesnya program dan capaian yang ditargetkan.

Narasumber dari BB Padi menyampaikan tentang VUB padi yang telah dihasilkan, keunggulan VUB, produksi serta stok benih sumber padi di UPBS BB Padi saat ini, juga rencana produksi benih sumber untuk tahun 2016. Narasumber dari Balitkabi (Dr. Didik Harnowo, selaku Kepala Balitkabi) menyampaikan tentang:

  1. Pentingnya peran penangkar benih dalam mendukung suksesnya program peningkatan produksi PJK menuju swasembada beberapa komoditas strategis yang telah ditentukan,
  2. Beberapa VUB kedelai beserta keunggulannya,
  3. Produksi benih sumber (BS dan FS kedelai) saat ini dan rencana pengadaan/produksi benih sumber kedelai (BS dan FS) tahun 2016, dan
  4. Capaian distribusi benih sumber kedelai ke berbagai provinsi.

Lebih lanjut disampaikan juga bahwa berdasarkan perhitungan kebutuhan benih sumber (BS dan FS) kedelai untuk memenuhi kebutuhan pertanaman kedelai di Indonesia, sebenarnya benih sumber kedelai yang diproduksi dan didistribusikan oleh Balitkabi ke berbagai provinsi sudah mencukupi.

Namun demikian, faktanya produksi benih sumber kedelai terus menerus dilakukan karena permintaan yang terus menerus. Ini menunjukkan bahwa ada mata rantai yang putus dari alur produksi dari benih sumber BS dan FS hingga ES.

Oleh karena itu, kata Dr. Didik Harnowo, perlu dilakukan penghitungan dan perencanaan kembali secara lebih cermat, yakni dimulai dari berapa kebutuhan benih sebar di setiap wilayah (provinsi dan kabupaten), kapan dibutuhkan, dimana harus diproduksi benih SS dan FS, serta kebutuhan benih BS dan FS serta varietas apa yang seharusnya diadakan.

Dr. Didik Harnowo selaku Kepala Balitkabi menyampaikan materi pelatihan penangkar benih di Garut.

Dr. Didik Harnowo selaku Kepala Balitkabi menyampaikan materi pelatihan penangkar benih di Garut.

DH