Berita ยป Balitkabi ikuti Workshop dan Training Implementasi Digital Object Identifier Pengelolaan SDG

Peserta Workshop dan Training Implementasi Digital Object Identifier

Peserta Workshop dan Training Implementasi Digital Object Identifier

Digital Object Identifier (DOI) adalah alat pengenal permanen yang digunakan pada suatu dokumen elektronik. Digital Object Identifier biasanya berupa perpaduan angka dan huruf menjadi kode unik dan khusus untuk setiap obyek. Digital Object Identifier dapat digunakan pada dokumen apapun berupa buku, artikel, jurnal, atau file pada media internet. Penggunaan DOI biasa ditemukan pada buku, jurnal atau artikel ilmiah, dan kini aksesi sumber daya genetik (SDG) juga dapat memiliki DOI.

Digital Object Identifier merupakan instrumen pendukung International Treaty of Plant Genetic Resources for Food and Agriculture (ITPGRFA) yang telah diratifikasi Indonesia pada tahun 2006. Salah satu konsekuensi dari ITPGRFA adalah negara anggota wajib membagi Sumber Daya Genetik untuk Tanaman Pangan dan Pertanian (SDGTPP) dalam sistem pertukaran multilateral. Oleh karena itu, DOI diperlukan sebagai tanda pengenal khusus bagi setiap aksesi yang didaftarkan.

Sosialisasi mengenai ITPGRFA, sistem informasi global, sistem multilateral, serta DOI dan implementasinya dirangkum dan diselenggarakan dalam bentuk Workshop on The Implementation of Global Information System (GLIS) for Plant Genetic Resources for Food and Agriculture (PGRFA) dan The 2nd International Training on Software Testing to Support Digital Object Identifier (DOI) Implementation on Rice Germplasm.

Balitkabi sebagai salah satu institusi di bawah Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian berpartisipasi dalam workshop dan training yang diselenggarakan oleh BB Biogen bekerja sama dengan FAO tersebut, pada 26 April 2019 โˆ’ 3 Mei 2019 di Yogyakarta. Pratanti Haksiwi Putri, S.Si, M.Sc. mewakili Balitkabi dalam workshop tersebut. Balitkabi memiliki beberapa komoditas yang tercantum dalam Annex 1 ITPGRFA yaitu kacang tunggak, kacang gude, koro pedang, ubi kayu dan ubi jalar.

Workshop diikuti oleh perwakilan pengelola sumber daya genetik (SDG) dari tujuh negara asing (Burundi, Bangladesh, Pakistan, Srilanka, Myanmar, Laos, dan Kamboja), pengelola SDG sebanyak delapan institusi di bawah Badan Litbang Pertanian (BB Biogen, Balitkabi, Balitjestro, BB Padi, Balitsa, Balitbu, Balitsereal dan Balitnak), Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta, Universitas Gadjah Mada, Institut Pertanian Bogor, dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Ir. Mastur, M.Si., Ph.D. selaku Kepala BB Biogen menyampaikan bahwa Multi-lateral System (MLS) dan Global Information System (GLIS) dapat memperkaya sumber daya genetik melalui keterbukaan akses terhadap plasma nutfah antar institusi. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi bagian dari diseminasi sistem informasi yang mendukung dan memfasilitasi akses data SDG.

Empat pembicara utama pada kegiatan workshop tersebut dari BB Biogen yaitu Dr. Puji Lestari, M.Si., Ph.D., Dr. Ir. Sabran, M.Sc., Dr. Nurul Hidayatun, S.Si., M.Si., dan Hakim Kurniawan, S.P., M.P. Peserta mendapat gambaran mengenai sistem pertukaran materi intelektual di Indonesia, sistem multilateral, ITPGRFA, mekanisme akses SDG melalui sistem multilateral, dan petunjuk implementasi DOI dalam pertukaran dan pengelolaan SDG. Kegiatan dilanjutkan dengan training pengelolaan dan pendaftaran aksesi SDG menggunakan perangkat lunak ke dalam website ITPGRFA.

doi

Suasana Training Implementasi Digital Object Identifier

PHP