Berita » Balitkabi Memulai Seminar Bulanan di Awal Tahun 2013

1-asem2013

Mengawali tahun 2013, Balitkabi menyelenggarakan seminar Bulanan pada hari Jum’at, 4 Januari 2013 bertempat di ruang seminar utama. Seminar rutin ini diagendakan dua kali dalam tiap bulan. Dua peneliti, Prof. Dr. Nasir Saleh dari kelompok peneliti proteksi tanaman dan Dr. Heru Kuswantoro dari kelompok peneliti pemuliaan dan plasma nutfah mempresentasikan makalahnya di hadapan para peneliti Balitkabi. Prof. Nasir membawakan makalah dengan tema penyakit leles pada tanaman ubi kayu: penyebab dan strategi pengendaliannya. Dalam paparannya dikemukakan bahwa penyakit leles di Indonesia identik atau merupakan bagian dari penyakit busuk akar/umbi (root rot diseases) disebabkan atau berasosiasi dengan beberapa jenis jamur tanah antara lain Botryodiplodia sp., Fusarium sp., Sclerotium rolfsii, Phytophtora sp., Aspergillus sp. dan Macrophomia sp. Gejala penyakit yang disebabkan oleh kelompok patogen ini antara lain tanaman layu, daun menguning dan rontok dan akhirnya tanaman mati. Akar, pangkal batang dan umbi menjadi busuk. Selain di Indonesia, penyakit busuk akar/umbi merupakan penyakit penting dan merugikan di negara-negara penghasil ubikayu di Asia, Afrika dan Amerika Latin. Kehilangan hasil pada varietas ubikayu yang rentan dapat mencapai 80-100%. Pengendalian penyakit busuk akar/umbi dapat dilakukan dengan menanam varietas/klon ubikayu yang tahan/toleran, pemilihan lokasi yang bebas penyakit dan pengelolaan tanah dan tanaman yang baik termasuk menghindari daerah yang sering kebanjiran atau tergenang, perbaikan drainase, sanitasi, eradikasi, dan rotasi tanaman.


Dr. Heru memaparkan makalahnya dengan judul pengusahaan tanaman kedelai di lahan hutan jati wilayah Jawa Timur. Dalam pemaparannya disebutkan bahwa areal pertanian yang mengalami alih fungsi menjadi areal non pertanian merupakan salah satu penyebab lambannya peningkatan produksi tanaman kedelai. Oleh karena itu, perlu ekstensifikasi diantaranya ke areal hutan yang umumnya tidak banyak mengalami alih fungsi lahan. Untuk mengelola sumberdaya hutan yang lestari dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa hutan diperlukan suatu sistem pemberdayaan masyarakat desa hutan yang terintegrasi. Luas kawasan hutan jati Jawa Timur yang ditanam kedelai bervariasi antar Kesatuan Pemangku Hutan (KPH), tergantung pada kondisi wilayah dan sosial ekonomi masyarakat. KPH yang paling luas ditanami kedelai adalah KPH Banyuwangi Selatan (1440 ha), Padangan (650 ha), dan Ngawi (413 ha). Varietas yang ditanam bervariasi antar kawasan hutan. Di KPH Banyuwangi Selatan, mayoritas masyarakat menanam varietas Baluran, sedangkan di KPH Ngawi, Blitar dan Bojonegoro pada umumnya menanam Anjasmoro, Orba, Gepak Kuning, Wilis atau varietas campuran Malabar dan Grobogan. Pada umumnya petani menanam kedelai pada awal musim hujan (Desember – Januari). Kisaran hasil kedelai yang ditanam juga bervariasi antar KPH yaitu 0,7 – 1,8 t/ha.