Berita » Balitkabi Selenggarakan Lokakarya Pendampingan SLPTT Kedelai

slptt_20juni12

Salah satu program utama Kementerian Pertanian adalah pencapaian swasembada kedelai pada tahun 2014. Program ini harus didukung oleh semua pihak. Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa tingkat produksi nasional lebih ditentukan oleh areal tanam dari pada tingkat produktivitas. Namun demikian peluang peningkatan produksi melalui perbaikan produktivitas masih terbuka lebar, mengingat produktivitas pertanaman kedelai  di tingkat petani masih rendah (1,29 t/ha) dengan kisaran 0,6 – 2,0 t/ha, padahal  teknologi produksi yang tersedia mampu menghasilkan 1,7–3,2 t/ha (Anonimous, 2009). Guna mencapai hal tersebut diperlukan rakitan teknologi spesifik lokasi dengan memperhatikan kesesuaian kondisi biofisik lahan, sosial ekonomi masyarakat, dan kelembagaan petani. Proses produksi yang demikian pada hakekatnya merupakan  pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT).  PTT kedelai harus diterapkan di sentra-sentra produksi kedelai baik di lahan sawah maupun lahan kering.

Badan Litbang Pertanian dalam program implementasi PTT kedelai antara lain adalah : Penyediaan teknologi spesifik lokasi, penyediaan benih untuk display varietas, informasi teknologi dalam bentuk (nara sumber, publikasi).  Pendampingan dalam penerapan teknologi di lapangan dilakukan oleh peneliti (sumber teknologi) dan penyuluh kepada petani/kelompok tani kooperator. Didalam pendampingan, peneliti dan penyuluh harus dekat dengan petani agar mampu menangkap aspirasi dan memahami keinginan petani. Dengan demikian penguasaan teknologi produksi kedelai dalam program PTT oleh petani akan baik sehingga proses produksi melalui pendekatan PTT dapat dilaksanakan secara baik dan benar. Salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam pengembangan kedelai adalah pendampingan/penyuluh dalam penerapan teknologi di tingkat petani.

Lokakarya penyusunan teknologi spesifik lokasi budidaya kedelai telah dilaksanakan di Balitkabi di Malang, pada tanggal 20 – 21 Juni 2012, diikuti oleh 20 orang terdiri dari peneliti  pendamping Balitkabi dan peneliti/penyuluh BPTP dari 9 Provinsi sentra pengembangan kedelai (NAD, Jambi, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Kalimantan Selatan). Lokakarya bertujuan membahas: a) perkembangan pelaksanaan SLPTT, Kebutuhan Benih untuk display varietas, dan menyusun teknologi spesifik lokasi.  Lokakarya dibuka secara resmi oleh Kepala Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan umbi-umbian Dr. M. Muchlish Adie. Kepala Balai menekankan bahwa dalam proses pendampingan SLPTT perlu ditingkatkan komunikasi pendamping di BPTP dengan peneliti pendamping dari Balitkabi sebagai sumber teknologi, untuk memecahkan permasalahan teknologi dalam pelaksanaan SLPTT kedelai di daerahnya. Balitkabi siap mendampingi dalam penyediaan benih, informasi teknologi dan penyusunan teknologi spesifik lokasi.  Masing-masing BPTP mempresentasikan perkembangan pelaksanaan pendampingan SLPTT di daerahnya.  Dari hasil pemaparan dan diskusi telah dirumuskan dan  disepakati untuk segera memperbaikki dan mewujudkan laporan dokumen teknologi spesifik lokasi intinya berisi: a) perkembangan kedelai selama 5 tahun terakhir, b) profil agroekologi sasaran SLPTT sebagai dasar penyusunan teknologi, c) ulasan teknologi yang dilakukan petani dan rekomendasi teknologi spesifik lokasi, d) perkembangan produktivitas kedelai di tingkat petani, petani SLPTT, LL/demplot selama 5 tahun terakhir, e) penyebaran varietas unggul dan f) masalah dan pemecahannya.

Gambar Peserta Lokakarya Pendampingan SLPTT Kedelai dan Kunjungan Lapang di Balitkabi