Berita » Balitkabi Usulkan Daerah Sumber Pertumbuhan Baru Kedelai di HSS – Kalsel

Tersedianya lahan untuk pengembangan kedelai sangat diperlukan dalam rangka menggenjot produksi kedelai nasional satu hingga 2 tahun ke depan menuju swasembada kedelai nasional 2017. Pengembangan dimaksud adalah penanaman kedelai pada lahan-lahan baru/lahan lebak dangkal.

Apabila hal tersebut bisa dilakukan bersama dengan penerapan teknologi yang cocok untuk daerah tersebut, maka tidak mustahil besarnya impor kedelai tahun 2015 yang mencapai 1,2 juta ton akan dapat dikurangi dalam waktu dekat.

Bersamaan dengan acara Temu Lapang Kedelai dan Jagung pada kegiatan LL (Laboratorium Lapang) Badan Litbang di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) Kalimantan Selatan baru-baru ini, 22 September 2015, di hamparan tersebut terdapat sekitar 800 ha lahan rawa lebak dangkal yang hingga kini belum termanfaatkan secara optimal untuk pengembangan kedelai, dan komoditas lain, misalnya jagung.

Karena itu, Kepala Balitkabi (Dr. Didik Harnowo) yang juga hadir pada acara Temu Lapang tersebut (Gambar kiri) menyarankan kepada Kepala Pusat PSE-KP Balitbangtan (Dr. Handewi Salim, sebagai penanggung jawab LL di lokasi ini) serta kepada Kepala Dinas Pertanian dan Hortikultura Kab. HSS untuk mengusulkan sekaligus memprogramkan pengembangan kedelai di wilayah tersebut sebagai salah satu wilayah/daerah sumber pertumbuhan baru produksi kedelai nasional.

Dr. Didik Harnowo yakin mengenai hal tersebut dengan didukung beberapa hal yaitu:

  1. Produktivitas kedelai pada lokasi LL kedelai tersebut (yang baru sekali ini petani setempat diperkenalkan menanam kedelai) dengan pengelolaan yang baik mampu menghasilkan 1,5–2,0 t/ha (Gambar kanan),
  2. Masyarakat di daerah tersebut cukup antusias untuk menanam kedelai setelah padi (saat ini, setelah sekali menanam padi, petani hanya menunggu pertumbuhan ratum padi dan dinilai kurang ekonomis yakni dengan produktivitas padi ratum hanya sekitar 1 t/ha), serta
  3. Demplot pengenalan varietas di lokasi LL sudah dapat dipotret varietas kedelai yang disukai petani setempat, yakni Anjasmoro dan Argomulyo, karena ukuran bijinya besar.

Berkaitan dengan hal-hal tersebut di atas, beberapa hal yang perlu dilakukan, menurut Didik, antara lain: petani di wilayah ini masih perlu dilakukan pendampingan produksi kedelai oleh Litbang dan Pemda setempat (serupa kegiatan LL) pada tahun depan dengan lebih menekankan pada aspek pengelolaan air, saat tanam yang tepat, dan penumbuhan penangkar/produsen benih kedelai, termasuk di dalamnya adalah pelatihan penangkaran benih kedelai.

Narasumber pada Temu Lapang LL di Desa Kayu Abang, Kec. Telaga Langsat, HSS, Kalsel (kiri) dan Narasumber beserta beberapa petani foto bersama di lahan LL kedelai Varietas Anjasmoro (kanan).

Narasumber pada Temu Lapang LL di Desa Kayu Abang, Kec. Telaga Langsat, HSS, Kalsel (kiri) dan Narasumber beserta beberapa petani foto bersama di lahan LL kedelai Varietas Anjasmoro (kanan).

DH