Berita » Be-Bas dan Detap 1: Teknologi Ramah Lingkungan

_dsc3323Pertanian ramah lingkungan, menjadi tuntutan saat ini. Peningkatan intensitas pertanaman dan diikuti oleh terjadinya perubahan iklim, semakin memicu terjadinya kehilangan hasil, baik karena semakin meningkat dan beragamnya organisme pengganggu tanaman (OPT) maupun kehilangan hasil karena terjadinya pecah polong. Balitkabi sebagai lembaga riset terus memacu untuk menghasilkan inovasi yang ramah lingkungan diantaranya adalah biopestisida Be-Bas dan varietas kedelai Detap 1.

BeBas merupakan biopestisida berbahan aktif cendawan entomopatogen Beauveria bassiana. Be-Bas yang telah dikemas dalam bentuk tepung, efektif mengendalikan kompleks hama polong pada kedelai, penggerek polong pada kacang hijau dan kacang tanah, bahkan juga mampu mengendalikan hama kutu kebul. Aplikasi Be-Bas disarankan dilakukan pada sore hari untuk menghindari paparan sinar ultra violet, dan diaplikasikan beberapa kali. Biopestisida ini dinilai aman terhadap lingkungan dan serangga berguna (predator), ternasuk dinilai aman bagi manusia dan binatang ternak.

_dsc3329 _dsc3336

Varietas unggul dinilai memiliki andil besar dalam meningkatkan produktivitas persatuan luas, dan juga dinilai aman bagi lingkungan dan manusia. Kedelai terluas di Indonesia berada pada musim kemarau kedua, sehingga fase pengisian biji dan pemasakan berada kondisi suhu tinggi. Hal tersebut memacu terjadinya pecah polong. Hasil-hasil penelitian di berbagai negara mendapatkan adanya kerugian hasil akibat pecah polong antara 30% – 100%, tentu tergantung kepada kepekaan varietas yang digunakan. Untuk menghasilkan varietas kedelai yang toleran terhadap pecah polong, berdaya hasil tinggi dan diterima oleh pengguna, pemulia Balitkabi telah melakukan berbagai penelitian, mulai dari mencari informasi faktor penyebab ketahanan, metode penilaian ketahanan, hingga menghubungkan antara pecah polong pada metode oven dengan penjemuran di bawah sinar matahari, bahkan juga diteliti pengaruh posisi polong dalam tanaman terhadap kepekaannya terhadap pecah polong. Serangkaian penelitian tersebut akhirnya melahirkan varietas kedelai Detap 1, kedelai tahan pecah polong, berdaya hasil tinggi, berumur genjah dan berukuran biji besar.

Teknologi inovatif tersebut disampaikan pada Seminar Internal Balitkabi pada tanggal 13 April 2018. Penyampai seminar adalah Dr.Yusmani Prayogo (Be-Bas: biopestisida untuk mengendalikan hama penyakit tanaman) dan Ayda Krisnawati M.Sc (Identifikasi ketananan kedelai terhadap pecah polong).

AyK