Berita » Belajar dari Pengembangan Singkong di NTT dan Sumut

berita-210906-belpengsingkong-eTingginya animo masyarakat terhadap acara webinar aspek hulu-hilir singkong yang diselenggarakan oleh Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, webinar singkong seri 1 dilanjutkan dengan webinar singkong selanjutnya pada tanggal 4 September 2021 yang mengangkat topik “Lesson Learned Pengembangan Singkong di NTT dan Sumut”.

Webinar dibuka oleh Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Dr. Ir. Suwandi, M.Sc. Mengawali sambutannya, Suwandi menyatakan bahwa pola pengembangan singkong yang ada di Sumut mirip dengan integrasi perkebunan – singkong di Lampung, dan juga seperti di Pati, Jawa Tengah. Jika skala kecil seperti di NTT, upaya yang dilakukan adalah skala UMKM. “Ayo kita goyang persingkongan Indonesia. Luar biasa,” kata Suwandi mengakhiri sambutannya.

Sambutan webinar oleh Dirjen Tanaman Pangan, Dr. Ir. Suwandi, M.Sc.

Sambutan webinar oleh Dirjen Tanaman Pangan, Dr. Ir. Suwandi, M.Sc.

Prof. Ir. Achmad Subagio, M.Agr., Ph.D selaku Wakil Ketua MSI Bidang Industri dan Teknologi menyatakan bahwa kita harus yakin singkong akan menjadi komoditas pangan penting dikemudian hari. Kegiatan di NTT dan Sumut jadi bukti ada banyak style dalam budi daya singkong di Indonesia untuk saling menunjang dan memberi manfaat, sehingga bisa menambah kapasitas dan peran singkong dalam pembangunan nasional. Peran Balitkabi dalam pemuliaan (breeding) singkong harus kita dukung, karena ini tidak mudah. Dibandingkan negara produsen singkong lain, kita masih ketinggalan jauh dalam merilis varietas singkong.

Prof. Ir. Achmad Subagio, M.Agr., Ph.D. (kiri) dan Prof. Wani Hadi Utomo (kanan)

Prof. Ir. Achmad Subagio, M.Agr., Ph.D. (kiri) dan Prof. Wani Hadi Utomo (kanan)

Acara webinar kali ini mengundang empat narasumber, yaitu

  • Dr. Erwin Ismu Wisnubroto dari Universitas Brawijaya dengan materi “Potensi, Kendala, dan Keberlanjutan Pertanian Ubi Kayu di Provinsi Sumatera Utara dan Nusa Tenggara Timur
  • Dr. Kartika Noerwijati, S.P., M.Si., dari Balitkabi dengan materi “Pengembangan Singkong di Sumatera Utara dan Nusa Tenggara Timur
  • Herawati Sirait dari PT. Bumisari Prima, Pematang Siantar, Sumut, dengan materi “PT Bumisari Prima sebagai Industri Pengolah Tepung Tapioka
  • Tommy Djari dari CV. Mitco, Flores, Nusa Tenggara Timur, menyampaikan materi “Budi Daya Singkong dengan Sistem Tumpang Sari Jagung dan Kelapa di Koperasi Produsen Mitra Tani Sejahtera Maumere
Narasumber pada webinar series Propaktani 4 September 2021

Narasumber pada webinar series Propaktani 4 September 2021

Prof. Ir. Wani Hadi Utomo, Ph.D. selaku leader kegiatan pengembangan singkong di NTT dan Sumut mengatakan, kita adalah produsen singkong terbesar keempat dunia, namun kita menjadi importir produk singkong kedua terbesar setelah China. Hal ini karena kita selalu maju mundur dalam pengembangan singkong, lebih banyak mundur daripada majunya. “Indonesia sudah memiliki semua, seperti sumber daya alam, varietas, teknologi, dan biaya sebenarnya kita juga punya. Yang tidak kita miliki adalah kemauan dan kebijakan,” kata Wani. Jumlah peneliti singkong juga sangat sedikit dibandingkan dengan negara lain. “Inilah yang menjadi kendala kita selama ini mengapa singkong tidak tertangani dengan serius, padahal singkong memiliki manfaat luar biasa,” lanjutnya.

Berdasar kegiatan besar di Sumut dan NTT, dapat diambil kesimpulan bahwa pertanian singkong baik di NTT maupun Sumut memiliki potensi yang baik untuk dikembangkan. Provinsi NTT memiliki lahan pertanian luas yang masih dapat dikembangkan, dan petani memiliki kemauan yang tinggi. Pemerintah Daerah sebaiknya menggandeng pihak industri untuk engage kepada petani. Provinsi Sumut telah berkembang sebagai salah satu sentra produksi ubi kayu, dan telah terjalin kemitraan yang baik antara petani – agen – pedagang – pihak industri. Keterlibatan Pemerintah Daerah (dalam hal ini PPL) diharapkan dapat membantu permasalahan petani di dalam hal teknis (agronomi) maupun manajemen (mediasi dengan pihak industri).

Saat ini singkong belum termasuk tanaman utama untuk kebijakan pangan nasional.
Untuk itu diperlukan dukungan kebijakan di tingkat daerah untuk:

  1. Pertanian singkong skala kecil,
  2. Perlindungan harga minimum ubi segar untuk petani yang menjual kepada industri pengolahan,
  3. Insentif kepada industri pengolahan yang bertindak langsung didalam pembinaan petani, serta
  4. Keterlibatan PPL didalam pendampingan teknis dan manajemen pertanian ubi kayu

Di akhir acara, Achmad Subagio menyatakan kita akan terus mengembangkan singkong ini dengan semangat bahwa inilah cara Indonesia akan maju bioindustrinya. Singkong merupakan bahan baku bioindustri yang sangat luar biasa. “Kita akan kaya hanya dengn fokus di kelapa sawit dan singkong, namun belum ada gayung bersambut antara petani dengan pemerintah,” pungkas Subagio.

Salam sobat singkong…

KN