Berita ยป Belajar Pengelolaan Pertanian Ramah lingkungan, Balitkabi Kunjungi Balingtan

1

Balitkabi melakukan studi banding pengelolaan Taman Sains Pertanian (TSP) di Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan) Pati, Jawa Tengah (20/03/2019). Kunjungan kerja ini dilakukan sebagai persiapan membangun TSP Mandiri IP2TP Muneng, dipimpin langsung oleh Ka. Balitkabi Dr. Yuliantoro Baliadi didampingi Prof. Riset. I. Made Jana Mejaya, Kasie Jaslit: BS Koentjoro, SP. M.Kom, Kasie Yantek : Dr. Rudi Iswanto, beserta peneliti Dr. Joko Susilo Utomo, Dr. Titik Sundari, Siti Mutmaidah, SP., dan koordinator IP2TP Muneng Purwantoro, SP.

Dua peneliti Balingtan Eni Yulianingsih dan Baiq Nunung Lestari menjelaskan kepada tim Balitkabii sistem integrasi tanaman-ternak (SITT) sebagai salah satu sistem terpadu untuk meningkatkan produktivitas tanaman, ternak, dan tanah dengan memperhatikan kelestarian lingkungan. Pengembangan model SITT Balingtan ramah lingkungan lestari berbasis zero waste dengan mengintegrasikan tanaman sawah tadah hujan, pengelolaan ternak, pengelolaan kotoran ternak untuk bahan biogas dan pupuk organik. Pengolahan limbah pertanian dengan cara pembakaran dengan memanfaatkan biogas dan pembakaran dilakukan dalam tungku sehingga menghasilkan dua produk yang bermanfaat, yaitu arang (biochar) sebagai pereduksi residu bahan agrokimia (pestisida, pupuk, logam berat) dan asap cair sebagai salah satu bahan pembuatan biopestisida.

2

Inovasi teknologi pertanian lain yang dijelaskan yaitu filter inlet outlet (FIO) yang merupakan teknologi penyaringan air sebelum dan sesudah masuk area persawahan. Teknologi ini dilakukan dengan memasang alat filtrasi yang dapat menahan atau menangkap residu pestisida dan menempatkan di saluran masuk dan atau saluran keluar untuk menyaring air, khususnya air irigasi sehingga air yang masuk ke lahan pertanian aman untuk tanaman dan lingkungan.

3

Pemanfaatan embung tak kalah kalah penting untuk dipelajari. Terdapat lima embung di Balingtan dengan luas 31.151 m2 dan mampu menampung air sekitar 120.345 m3. Keberadaan embung sangat membantu kegiatan penelitian di Balingtan, apalagi berlokasi di lahan kering iklim kering. Embung yang berada di Balingtan merupakan salah satu teknologi untuk beradaptasi terhadap kekeringan dan menampung air pada saat kelebihan air di musim hujan. Air embung dimanfaatkan sebagai sumber irigasi tanaman, demplot sistem pertanian ramah lingkungan (SPRL) model surjan, dan sumber air untuk MCK. Manfaat sistem pertanian model surjan akan mengurangi bahaya kekeringan, kegagalan panen diperkecil, distribusi tenaga kerja lebih merata, diversifikasi tanaman sehingga dimungkinkan pendapatan petani meningkat.

 

SMD