Berita ยป Bimbingan Teknis Teknologi Budidaya Tanaman Porang di Kediri Jawa Timur

Pemateri bimtek dari Balitkabi

Pemateri bimtek dari Balitkabi

Memenuhi undangan dari Direktorat Aneka Kacang dan Umbi, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dalam acara Bimbingan Teknis Tanaman Pangan, Balitkabi diminta untuk menyampaikan materi bimtek dengan tema teknik budidaya porang, dihadapan kelompok tani, penyuluh, dan pegawai Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Kediri dengan jumlah peserta sekitar 100 orang. Kegiatan ini digelar bekerja sama dengan Komisi IV DPR RI. Acara diselenggarakan di Hotel Grand Surya Kediri, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur, pada hari Minggu tanggal 29 Agustus 2021 dengan penerapan protokol kesehatan ketat. Acara diawali dengan sambutan oleh Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Anggia Erma Rini, M.K.M., dan dilanjutkan dengan sambutan dari Direktur Aneka Kacang dan Umbi yang disampaikan oleh salah satu staf Direktorat Akabi. Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Kediri, Anang Widodo menyampaikan kondisi terkini pertanian di Kabupaten Kediri. Porang merupakan komoditas yang baru dikembangkan di kabupaten ini, menjadi perhatian setelah tanaman pangan utama seperti padi dan jagung yang sudah eksisting. Luas lahan riil tanaman porang 200 ha masih mungkin dikembangkan di Kabupaten Kediri.

Materi teknologi budidaya porang dari Balitkabi disampaikan oleh Eriyanto Yusnawan, S.P., Ph.D., Eriyanto, dipaparkan tentang pengenalan tanaman porang, perbedaan porang dengan tanaman Amorphopallus lainnya, dan budidaya tanaman porang secara umum. Tanaman porang merupakan tanaman investasi, sekali tanam bisa panen sepanjang masa. Bulbil atau katak pada panen musim pertama dapat digunakan sebagai bahan tanam pada musim kedua. Budidaya tanaman ini memerlukan modal awal yang tinggi, terutama pada komponen benih. Akan tetapi, pada musim selanjutnya komponen biaya produksi dapat ditekan, karena benih sudah tersedia dari panen tahun pertama. Panen umbi porang dapat dilakukan setiap tahun dengan catatan panen dilakukan secara selektif, umbi yang masuk kriteria umbi produksi dan sudah berumur tiga musim dipanen, menyisakan umbi kecil dibawah umur tiga musim dipanen pada musim berikutnya. Budidaya tanaman porang tidaklah sulit, sepanjang dipenuhi syarat tumbuhnya seperti ditanam tepat musim, tanah gembur, pH tanah netral, tersedia air sepanjang pertumbuhan, lahan tidak tergenang, diutamakan naungan antara 40-60 %, dan tanah kaya bahan organik. Gangguan biotik berupa hama dan penyakit juga minimal, memudahkan perawatan hingga panen. Prosesing sederhana yang dapat dilakukan para petani setelah panen adalah dengan merajang umbi menjadi chips kering dengan dijemur dibawah sinar matahari.

Pemateri lainnya adalah Bapak H. Muhajir yang merupakan salah pembina petani porang Asia Prima Konjac. Dalam paparannya, Muhajir mengungkapkan bahwa saat ini budi daya tanaman porang sudah difasilitasi oleh pemerintah dengan adanya Kredit Usaha Rakyat (KUR). Salah satu syarat untuk mendapatkan KUR adalah ada jaminan off taker, sehingga memberi kepastian pasar porang bagi petani. Penyuluh Pertanian dari Desa Klangon (Madiun), Yoyok Triono, berbagi pengalaman penyuluhan dan pengembangan porang di Desa Klangon yang diyakini merupakan titik nol porang. Yoyok merupakan generasi ketiga petani porang, mewarisi profesi bapak, kakek, dan kakek buyutnya yang juga merupakan pelaku usaha umbi porang.

Bapak Didik Iswandi, merupakan figur petani sukses Desa Klangon yang merupakan anggota LMDH Pandan Asri dan juga sekaligus menjabat sebagai Kepala Desa berbagi pengalaman bertani porang yang sudah dijalani beberapa generasi. Dalam paparannya, berbudidaya porang banyak keuntungannya, selain menjaga ekosistem tanaman hutan, juga dapat menghasilkan pundi dari hasil umbi porang. Porang merupakan tanaman emas di bawah tegakan hutan.

EY

Pemateri pada kegiatan bimbingan teknis tanaman pangan

Pemateri pada kegiatan bimbingan teknis tanaman pangan