Berita » Bimbingan Teknis Upsus Kedelai di Kalimantan Tengah

Pada tanggal 4 hingga 6 Juni 2015, Prof. Nasir Saleh ditugaskan sebagai narasumber bimbingan teknis program Upsus kedelai di BPTP Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Bimbingan teknis dilakukan dua tahap, pertama khusus kepada lebih kurang 30 staf peneliti dan teknisi Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Palangkaraya yang ditugasi sebagai tenaga pendamping Upsus Kedelai.

Pada tahap II ditujukan kepada lebih kurang 60 peserta yang terdiri atas penyuluh lapang, kelompok tani/Gapoktan dan Babinsa yang membimbing, melaksanakan dan mengawal pelaksanaan Upsus kedelai di lapang.

8-6-15

Foto bersama para peserta bimbingan teknis.

Dari hasil penyampaian bahan, laporan dan diskusi khususnya yang terkait dengan UPSUS kedelai dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Dibandingkan tahun 1996 dan 1999, dimana luas tanam kedelai mencapai lebih kurang 7000 ha, pada tahun 2014, luas areal tanam/panen kedelai di provinsi Kalteng lebih kurang tinggal 1.100 ha (meskipun sudah meningkat dibanding tahun 2006 yang hanya mencapai 625 ha). Penurunan areal tanam/panen tersebut terjadi akibat pergeseran lahan pertanian tanaman pangan (kedelai) menjadi lahan perkebunan terutama kelapa sawit,
  2. Beralihnya usahatani kedelai ke tanaman kelapa sawit tersebut karena usahatani kedelai dinilai tidak menguntungkan,
  3. Namun hal yang menggembirakan pada saat kunjungan dilakukan adalah informasi pedagang, bahwa harga kedelai lokal (Varietas Anjasmoro) di pasar cukup tinggi yaitu sekitar Rp8000/kg. Harga ini lebih tinggi dari harga dasar kedelai yang ditetapkan oleh Pemerintah yaitu sebesar Rp7.400/kg. Oleh karena itu harapan petani, Pemerintah Daerah dapat menjaga harga kedelai tetap stabil pada harga yang tinggi, terutama pada saat terjadi panen raya,
  4. Terdapat anggapan/issue bahwa kedelai lokal apabila diproses jadi tahu dan tempe, rendemennya 50−80% dibanding kedelai impor. Pandangan tersebut telah diluruskan dengan menunjukkan bahwa berdasar hasil penelitian, kedelai dalam negeri tidak kalah rendemennya bila dijadikan tahu/tempe, bahkan kualitas (kadar proteinnya lebih tinggi). Diharapkan kepada seluruh petugas untuk menjelaskan permasalahan tersebut ke masyarakat pengrajin tahu/tempe. Juga disarankan kepada BPTP agar melaksanakan semacam demo pengolahan tahu/tempe menggunakan bahan kedelai impor dan lokal (dalam negeri), dan
  5. Ketersediaan benih kedelai berkualitas masih menjadi permasalahan. Oleh karena itu BPTP Palangkaraya melalui UPBSnya akan terus meningkatkan perannya dalam menghasilkan benih sumber kedelai, disamping membimbing dan meningkatkan kapasitas penangkar benih kedelai. Sistem Jabalsim berpeluang besar diterapkan di beberapa kabupaten di Kalimantan Tengah.

NS