Berita ยป Bimtek Budi Daya Porang di BPTP Jawa Tengah dan Diskusi Porang dengan Bupati Semarang

berita-210915-bimtekporang-c

Memenuhi undangan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Tengah pada acara Temu Teknis Hilirisasi Teknologi dan Inovasi Budi Daya Tanaman Pangan dan Hortikultura pada tanggal 8 September 2021, dua perwakilan Balitkabi, yaitu Sub Koordinator Substansi Jaslit B.S. Koentjoro, M.Kom., dan peneliti Eriyanto Yusnawan, S.P., Ph.D. hadir pada acara tersebut.

Pertemuan dilaksanakan di Gedung Serbaguna BPTP Jawa Tengah secara luring dihadiri sekitar 50 peserta, dan daring memanfaatkan fasilitas Zoom dengan jumlah peserta yang kurang lebih sama. Acara dibuka secara resmi oleh Kepala BPTP Jawa Tengah Dr. Ir. Joko Pramono, MP. secara daring.

Pada sesi pertama, terdapat tiga pemateri dengan tema yang berbeda, salah satunya pemateri dari Balitkabi yang disampaikan oleh Eriyanto. Pemaparan dari Balitkabi menjelaskan teknologi budi daya tanaman porang.

Pemaparan materi pada acara bimtek budi daya porang di BPTP Jawa Tengah

Pemaparan materi pada acara bimtek budi daya porang di BPTP Jawa Tengah

Mempertimbangkan para peserta yang belum begitu familiar dengan tanaman porang, maka pendahuluan diisi dengan pengenalan tanaman Amorphophallus dan kerabatnya. Dari sekitar 200 spesies tanaman Amorphophalus yang ada di dunia, terdapat enam spesies yang umum ditemukan di Indonesia, salah satunya porang (A. muelleri Blume).

Dijelaskan bahan tanam yang umum digunakan berasal dari biji, bulbil atau katak, umbi dan akhir-akhir ini tersedia bibit kultur jaringan. Bagi petani pemula, disarankan untuk tanam porang dari bulbil, karena persentase daya tumbuh tinggi, dengan catatan bulbil yang ditanam adalah bulbil yang diambil dari tanaman yang sudah dorman sempurna.

Syarat tumbuh porang dipaparkan untuk memberikan pemahaman bahwa tanam porang bukan merupakan sesuatu yang sulit, selama syarat tumbuh dipenuhi. Selama pertumbuhan, porang perlu air, tetapi tidak menggenang.

Budi daya porang dilakukan pada waktu musim hujan sesuai siklus hidupnya. Pemupukan organik direkomendasikan, mengingat di habitat alaminya, yaitu di hutan, porang tumbuh subur dengan input hara berasal dari dekomposisi seresah daun. Hama dan penyakit tanaman (OPT) porang selama ini jarang dilaporkan menimbulkan kerugian secara ekonomi, akan tetapi pada budi daya monokultur, potensi terjadinya serangan OPT perlu diwaspadai.

Oleh karena itu, monitoring OPT menjadi salah satu kunci utama dalam upaya pengelolaan tanaman sehat. Panen porang sebaiknya dilakukan setelah tiga musim jika bahan tanam yang digunakan berasal dari bulbil, karena kandungan glukomanan tinggi didapatkan pada usia panen ini.

Diskusi porang dengan Bupati Semarang, Bapak H. Ngesti Nugraha, S.H., M.H.

Diskusi porang dengan Bupati Semarang, Bapak H. Ngesti Nugraha, S.H., M.H.

B.S. Koentjoro bersama Eriyanto setelah acara bimtek memenuhi undangan Bupati Semarang, H. Ngesti Nugraha, S.H., M.H., untuk hadir di kantor Bupati di Jalan Diponegoro No. 14 Ungaran, Semarang, membahas perkembangan dan budi daya porang di Kabupaten Semarang.

Di sela-sela kesibukannya, sebelum memimpin rapat internal, Bupati H. Ngesti menyempatkan berdiskusi budi daya tanaman porang secara intensif. Dijelaskan beliau bahwa saat ini sudah terdapat 200 ha tanaman porang di Kabupaten Semarang. Dari luasan tersebut, kurang lebih 11 ha diantaranya dikelola oleh beliau sendiri, karena ingin memberi contoh langsung kepada petani dan pelaku usaha porang, tidak hanya sebatas menghimbau saja. Sukses terus Bapak Bupati.

EY/BSK