Berita » Bimtek Peluang Pengembangan Kedelai di Jombang

Pemaparan kedua narasumber, Ir Suhartina, MP. (kiri) dan Dr. Ayda Krisnawati, S.P., M.Sc. (kanan)

Pemaparan kedua narasumber, Ir Suhartina, MP. (kiri) dan Dr. Ayda Krisnawati, S.P., M.Sc. (kanan)

Desa Gajah merupakan salah satu wilayah di Kecamatan Ngoro Kabupaten Jombang yang memiliki pola tanam setahun adalah padi-padi-padi, atau padi-padi-jagung. Wilayah ini merupakan wilayah subur dengan air irigasi yang melimpah sepanjang tahun. Desa Gajah bersebelahan dengan Desa Cermenan yang mana penduduknya memiliki usaha industri tahu. Pada umumnya, pasokan bahan baku untuk produksi tahu menggunakan kedelai asal impor.

Sambutan Kepala Desa Gajah Bapak Suwandi (kiri), sambutan mewakili Plt. Kepala Balitkabi Bambang Sri Koentjoro, S.P., M.Kom. (kanan)

Sambutan Kepala Desa Gajah Bapak Suwandi (kiri), sambutan mewakili Plt. Kepala Balitkabi Bambang Sri Koentjoro, S.P., M.Kom. (kanan)

Suwandi selaku Kepala Desa Gajah, pada saat acara bimbingan teknis (bimtek) di Desa Gajah, 29 Maret 2022, sangat mengapresiasi kunjungan Balitkabi. Suwandi menyampaikan bahwa penduduk wilayah Gajah berbudidaya padi, namun beberapa petani saat ini ada yang bersedia untuk menanam kedelai, mengingat harga kedelai saat ini tinggi. Selain Dusun Cermenan, ada juga Dusun Tamanan yang mana di wilayah ini banyak UMKM yang memproduksi kecambah kedelai dan kacang hijau. Harapannya, rencana budidaya kedelai oleh petani dapat dilaksanakan segera, sehingga dapat memberikan manfaat dan membangun sistem hulu hilir di wilayah ini. Dengan cara tersebut, kesejahteraan petani akan meningkat, ungkap Suwandi dengan penuh keyakinan.

Bambang Sri Koentjoro, S.P., M.Kom., mewakili Plt. Kepala Balitkabi, menyampaikan bahwa kesan pertama saat tiba di Desa Gajah adalah subur dan masyarakatnya rukun. “Memasuki Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) Gandan, disambut dengan tulisan Petani penyangga pangan negara, tulisan ini tentu sangat bermakna, yang mungkin salah satunya dapat saya terjemahkan bahwa kerja keras petani perlu kita hargai”, ujar Koentjoro.

Koentjoro kemudian menekankan bahwa “Uang saja tidak cukup, karena kita butuh pangan dari petani! Bagaimana jika kita memiliki uang, namun pangan yang mau kita beli tidak tersedia?”. Koentjoro menyampaikan bahwa tujuan pelaksanaan bimtek ini adalah karena komoditas kedelai merupakan komoditas penting yang tidak bisa dipisahkan dari tanaman pangan. Kita sering dengar ‘makan nasi sama tempe saja sudah aman’, artinya kita butuh tempe yang mana bahan bakunya dari kedelai.

“Saat ini, negara pengekspor kedelai sudah membatasi ekspor kedelai karena menjaga pangan di negaranya masing-masing, sehingga jangan sampai kita kesulitan. Oleh karena itu, kita perlu menguatkan pangan berbasis aneka kacang, khususnya kedelai di negara kita, khususnya wilayah kita masing-masing”, ungkap Koentjoro. Diakhir sambutannya, Koentjoro mengajak, “Mari bersama belajar dan mengikuti bimtek, sehingga ilmu yang kita peroleh boleh menjadi pendukung dalam membudidayakan kedelai. Bekerja di bidang pertanian itu keren, menyenangkan dan menyehatkan, itu yang perlu kami galakkan di acara bimtek seperti ini. Kami selalu berusaha untuk menyampaikan info terkini dari peneliti Balitkabi, kalau bukan petani yang gunakan hasil inotek ini, siapa lagi? Sehingga Balitkabi punya tanggung jawab kepada petani”, pungkasnya.

Dua narasumber, yaitu Dr. Ayda Krisnawati dan Ir. Suhartina, MP., kompak memadukan ilmu yang dimiliki dalam judul bimtek “Potensi varietas dan teknologi budidaya kedelai di lahan sawah” yang mana sangat sesuai dengan kondisi lahan di wilayah ini.  Ayda menjelaskan potensi-potensi varietas unggul kedelai terbaru, serta potensi kedelai untuk diolah menjadi berbagai produk olahan yang saat ini booming di luar negeri.  Potensi lahan sawah di Kabupaten Jombang dan teknologi yang sesuai serta teknik budidaya juga dijelaskan oleh Suhartina.  Desa Gajah memiliki potensi untuk pengembangan kedelai, karena akses yang dekat dengan produsen tahu. Pemaparan yang linear dengan permasalahan yang dihadapi petani saat ini disambut antusias oleh petani dengan diskusi dan tanya jawab, diantaranya keingintahuan tentang varietas sesuai dengan lahan genangan, bagaimana pengendalian rumput teki pada lahan sawah, harga kedelai yang tidak stabil, dan biaya usaha tani yang lebih tinggi.

Foto bersama peserta bimtek di Dusun Gandan, Desa Gajah, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang

Foto bersama peserta bimtek di Dusun Gandan, Desa Gajah, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang

Semoga hasil penelitian dan informasi dari bimtek ini dapat membantu petani dalam mengembangkan kembali kedelai di wilayah Desa Gajah, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang.

EU/AK/DSB