Berita ยป Bimtek Porang di UPT Pelatihan Pertanian Bedali

Peserta bimtek porang

Peserta bimtek porang

Semangat menanam porang dan keinginan mengetahui prospek pengembangan porang menjadi alasan kuat bagi para pemuda dari delapan kabupaten di Jawa Timur untuk belajar tentang budidaya dan pascapanen porang. Informasi ini sangat berharga untuk mengetahui potensi dan masalah yang terjadi dalam pengembangan porang, sehingga dapat mengantisipasi dan menemukan solusi ketika sudah mulai diaplikasikan di lapang. Bertempat di Aula UPT Pelatihan Pertanian, Bedali (Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang), pada Selasa 15 Juni 2021, peneliti Balitkabi, Sutrisno, SP., menjadi narasumber budidaya dan pascapanen porang. Acara dibuka oleh Kepala Balai Pelatihan Pertanian, Ir. Yuswadi Wibowo, MP. didampingi oleh Kasie Pengembangan Pelatihan, Ir. Sri Suwartini, MM., dan Kasi Pelatihan Ngatinem S.Sos.

Bimtek budidaya porang diawali dengan menjelaskan varian spesies porang yang sudah teridentifikasi di dunia, area penyebaran, sentra produksi dunia, serta rencana pengembangan di Indonesia. Pembahasan dilanjutkan dengan memahami siklus hidup porang, ekosistem tanaman porang serta peran porang dalam menjaga kelestarian lingkungan. Strategi memilih bahan tanam, menghitung kebutuhan bahan tanam, pengolahan lahan, penanaman, pengenalan dan pengendalian hama penyakit, panen, dan analisis usaha tani menjadi topik bahasan paling menarik bagi peserta, karena pembahasan bersifat praktis dan interaktif. Para peserta antusias bertanya sesuai pengalaman yang dialami petani di lapang, terutama gejala hama peyakit dan masalah yang timbul pada pengembangan porang di dataran rendah dan lahan terbuka.

Pada sesi bimtek pascapanen porang, topik permasalahan yang dibahas adalah keunggulan dan kekurangan umbi porang serta upaya untuk memecahkannya. Dijelaskan kepada peserta bahwa porang memiliki nilai ekonomis yang tinggi, karena mengandung glukomanan yang cukup tinggi dibandingkan tanaman umbi lainnya. Kandungan glukomanan pada chip porang dapat mencapai sekitar 40%. Namun demikian, umbi ini mengandung kalsium oksalat yang berbahaya bagi kesehatan manusia jika dikonsumsi. Menurut SNI No. 7939 tahun 2020 tentang standar mutu serpih porang, kandungan oksalat maksimal hanya sekitar 50 mg/100 g tepung glukomanan. Untuk memisahkan oksalat dari glukomanan dapat dilakukan dengan beberapa metode, baik secara mekanik maupun secara kimia. Beberapa senyawa kimia yang dapat dimanfaatkan untuk melepaskan oksalat adalah etanol, asam sulfat, asam sitrat, asam phospat, dan NaCl melalui cara perendaman. Pemisahan oksalat dengan cara mekanik dapat ditempuh dengan mesin, menggunakan metode ball mill, hammer mill, dan stamp mill atau kombinasi diantara ketiganya.

Bimtek pascapanen ditutup dengan pembahasan prospek pasar glukomanan di beberapa negara di dunia, dan pemanfaatan glukomanan dalam kehidupan manusia, baik dalam sektor pangan maupun non pangan. Pembahasan ini sangat penting karena dapat menguatkan peserta untuk bersama-sama dengan petani porang lain bergerak membudidayakan porang hingga ke sektor industrinya.

STR

Peneliti Balitkabi, Sutrisno, S.P. (kanan) menjadi narasumber bimtek porang

Peneliti Balitkabi, Sutrisno, S.P. (kanan) menjadi narasumber bimtek porang

Contoh produk olahan porang

Contoh produk olahan porang