Berita » Bimtek SLPHT Tanaman Bentul di Sampang

Bentul merupakan tanaman salah satu komoditas unggulan Kabupaten Sampang (Madura, Jawa Timur) yang memiliki rasa (taste) lebih enak dan tidak dimiliki oleh bentul yang dikembangkan di berbagai tempat lain di Indonesia. Kondisi struktur tanah dan iklim setempat yang dapat membentuk tanaman tersebut, sehingga dapat dibedakan dengan jenis bentul-bentul lainnya.

Komoditas bentul dari Kabupaten Sampang merupakan komoditas ekspor yang memiliki nilai ekonomis lebih tinggi jika dibandingkan dengan tanaman bentul yang berkembang di berbagai lokasi di Indonesia.

Salah satu kendala utama yang dihadapi oleh beberapa pengembang bentul, contohnya Gapoktan Tani Bahagia di Desa Torjunan, Kecamatan Robatal Kabupaten Sampang, yaitu adanya serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), khususnya penyakit hawar daun yang disebabkan oleh cendawan Phytophthora colocasiae.

Penyakit tersebut sangat ditakuti oleh seluruh petani bentul di Kabupaten Sampang, termasuk di Kecamatan Kedungdung, Kecamatan Banyuates, dan Kecamatan Tambelangan sebagai produsen bentul terbesar di Sampang. Menurut hasil diskusi petugas POPT Kabupaten Sampang (Ir. M. Nafi, M.S.) penyakit tersebut disebabkan layu Fusarium sp. berdasarkan hasil identifikasi dari laboratorium Proteksi Pandaan dan Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit BPTPH Provinsi Jawa Timur.

Peserta bimtek SLPHT tanaman bentul didampingi oleh Kabid Pangan Kabupaten Sampang, narasumber Balitkabi, dan POPT Sampang

Peserta bimtek SLPHT tanaman bentul didampingi oleh Kabid Pangan Kabupaten Sampang, narasumber Balitkabi, dan POPT Sampang

Tanggal 30 Maret 2022, Dr. Yusmani Prayogo dari Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi) menjadi narasumber bimtek Sekolah Lapang Pengelolaan Hama Terpadu (SLPHT) tanaman bentul. Bimtek diikuti oleh sekitar 30 anggota Gapoktan Tani Bahagia Maju Makmur Desa Torjunan, Kecamatan Robatal, Kabupaten Sampang.

Peserta bimtek Gapoktan Tani Bahagia Maju Makmur Desa Torjun (kiri) dan pre-test yang dipandu POPT Kabupaten Sampang Ir. M. Nafi, MS. (kanan)

Peserta bimtek Gapoktan Tani Bahagia Maju Makmur Desa Torjun (kiri) dan pre-test yang dipandu POPT Kabupaten Sampang Ir. M. Nafi, MS. (kanan)

Kegiatan bimtek dimulai dengan sambutan Kepala Diperta Kabupaten Sampang yang diwakili oleh Kabid Pangan (Nurdin, S.Hut.). Selanjutnya, dilakukan pre-test untuk mengetahui kemampuan seluruh peserta bimtek yang dipandu oleh POPT Kabupaten Sampang.

Sebelum bimtek, dilakukan kunjungan lapang untuk  mengambil sampel tanaman bentul yang dinyatakan terkena penyakit.  Berdasarkan gejala (symptom) yang signifikan bahwa penyakit tersebut bukan disebabkan oleh Fusarium sp., namun cendawan Phytophthora colocasiae atau penyakit hawar daun.

Penyampaian materi bimtek SLPHT tanaman bentul (kiri) dan pembuktian penyakit hawar daun P. colocasiae pada bentul hasil dari lapangan (kanan)

Penyampaian materi bimtek SLPHT tanaman bentul (kiri) dan pembuktian penyakit hawar daun P. colocasiae pada bentul hasil dari lapangan (kanan)

Gejala penyakit diawali dengan bercak berwarna coklat kehitaman, berbentuk bulat, pada bagian tengah mengeluarkan lendir berwarna coklat berisi masa spora sebagai organ infektif untuk menginfeksi bagian tanaman lain. Jika kondisi sangat mendukung, misalnya akibat kelembaban lahan yang sangat tinggi, maka penyakit P. colocasiae akan berkembang lebih cepat.

Dengan kegiatan bimtek SLPHT ini, diharapkan seluruh POPT dan petani sebagai anggota poktan akan lebih meningkat pengetahuan dan pemahamannya tentang pengenalan jenis-jenis OPT serta teknologi pengendalian yang tepat.

Pada akhir bimtek, Yusmani memberikan rekomendasi cara dan strategi pengendalian penyakit P. colocasiae di Kabupaten Sampang antara lain:

  1. Kultur teknis (tanam varietas tahan, hindari naungan, perbaikan saluran drainase agar lahan tidak lembab, menambah kapur tohor agar pH meningkat, kurangi dosis pupuk N terlalu tinggi dan menambah dosis pupuk P dan K)
  2. Secara mekanis (mengambil / memotong bagian tangkai daun yang terinfeksi patogen kemudian membakar agar organ infektif patogen tersebut mati / musnah)
  3. Pengendalian biologis (treatment lahan menggunakan cendawan antagonis Gliocladium roseum dan Trichoderma agar agens biologis tersebut dapat mengkolonisasi lahan, sehingga patogen tidak mampu berkembang, selain itu  umbi sebagai calon bibit yang akan ditanam direndam terlebih dahulu selama 60 menit ke dalam suspensi spora G. roseumTrichoderma sp. yang sudah ditambahkan bahan perekat secukupnya, atau aplikasi cendawan endofit Beauveria, Lecanicillium, Metarhizium, Aschersonia ke tanaman agar performa tanaman lebih sehat), dan
  4. Kimiawi (fungisida yang mengandung bahan aktif benomil, klorotalonil, dan kaptan)

YP