Berita » Bintek Budidaya Kedelai di Pringsewu

Provinsi Lampung pernah menjadi produsen kedelai di Indonesia, dan saat ini berupaya untuk mengembalikan Lampung sebagai salah satu sentra produksi kedelai di Indonesia. Balitbangtan juga memprogramkan Upaya Khusus (Upsus), GP-PTT dan Mandiri Benih kedelai pada tahun 2015 di Provinsi Lampung.

Pada tanggal 2 Oktober 2015, Balitkabi bersama dengan BPTP Lampung melakukan bimbingan teknis (bintek) dan FGD budidaya kedelai, di Desa Margodadi, Ambarawa, Pringsewu. Dihadiri sekitar 50 petani dan penyuluh, yang sebagian besar dari kelompok tani Sri Makmur III, serta beberapa perwakilian petani dari kelompok tani di Kecamatan Ambarawa.

Narasumber dari Balitkabi adalah Dr. Andy Wijanarko, Dr. Muchlish Adie, disertai oleh Winarsih, dari BPTP Lampung adalah Dr. Nila Wardani, Hesti Karyati, Gohan O Manurung, serta perwakilan dari KP Natar (Ribut) dan KP Tegineneng (Widodo).

Pertemuan diawali oleh penyampaian materi tentang varietas kedelai dan produksi benih sumber kedelai (Muchlish Adie), dilanjutkan pemaparan tentang pengelolaan tanaman terpadu kedelai (Andy Wijanarko). Disampaikan bahwa pemerintah telah banyak menghasilkan varietas unggul, yang merupakan bonus kepada petani untuk dipilih sesuai dengan agroekologi setempat dan preferensi pasar.

Juga dijelaskan tentang potensi lahan kering masam untuk kedelai dan tatacara pengelolaan kedelai pada lahan masam. Bintek dan FGD budidaya kedelai di Pringsewu Lampung.Ditanyakan oleh peserta mengapa kedelai banyak yang layu, bagaimana cara penanganannya, bahkan juga disampaikan mengapa harga kedelai impor lebih murah daripada kedelai asal Indonesia.

Sehubungan dengan banyaknya kedelai yang layu, penyebabnya bisa karena jamur dan juga kelembaban tanah yang tinggi, sehingga solusinya adalah menggunakan fungisida juga melalui pengelolaan tanah sehingga kelembaban tanah tidak terlalu tinggi, disarankan dibuat saluran pemutus secukupnya.

5-10-15

Ditegaskan bahwa kedelai impor semestinya lebih mahal dibandingkan kedelai asal Indonesia, lebih murah karena disubsidi oleh negara asal. Dicontohkan jika kirim surat ke Amerika berapa biayanya, tentu sangat mahal. Pada akhir pertemuan, ketua kelompok tani Sri Makmur III yakni Supono, menyampaikan terima kasih atas informasi terbaru tentang kedelai. Ternyata banyak varietas kedelai yang belum dikenal. Balitkabi juga menyampaikan beberapa publikasi kepada petani, harapannya dapat memberikan informasi terbaru dan digunakan di lapang.

MMA