Berita » Bio-Lec Potensial sebagai Pengganti Insektisida Kimia

1-bio-3

Kegiatan seminar intern di Balitkabi pada tanggal 4 Juni 2012 membahas dua makalah peneliti Balitkabi. Makalah pertama berjudul Bio-Lec: Biopestisida untuk Pengendalian Hama dan Penyakit Utama Kedelai disampaikan oleh Dr. Yusmani Prayogo dari kelompok Peneliti Hama dan Penyakit. BIO-LEC merupakan biopestisida yang terformulasi dalam bentuk tepung (powder), mengandung bahan aktif konidia cendawan entomopatogen Lecanicillium lecanii. Kelebihan produk Bio-Lec adalah mampu membunuh semua stadia kepik coklat, mulai telur, nimfa maupun imago. Bio-Lec bersifat ovisidal yaitu mampu menggagalkan penetasan telur kepik coklat hingga mencapai 80%. Bio-Lec dapat membunuh kutu kebul (Bemisia tabaci) yang menjadi hama penting pada kedelai selama lima tahun terakhir. Produk Bio-Lec mengandung kumpulan konidia, jika dicampur dengan air dan berkecambah akan menghasilkan toksin yang dapat menolak proses peletakan telur (deterrent oviposition). Oleh karena itu Bemisia tabaci tidak tertarik untuk hinggap ke tanaman maupun menjadikan suatu tempat untuk berkembangbiak.

 

Kelebihan lain dari Bio-Lec yaitu mampu memparasitasi spora cendawan penyebab penyakit karat kedelai, downy mildew Peronospora manshurica dan powdery mildew Microsphaera diffusa. Cendawan P. pachyrhizi, P. manshurica, dan M. diffusa merupakan mikroorganisme yang bersifat obligat dan merupakan penyakit utama pada kedelai. Bio-Lec juga lebih aman terhadap kelangsungan hidup Coccinella septempunctata dan Paederus fuscipes, dibandingkan aplikasi insektisida kimia. Produk Bio-Lec dapat dikombinasikan dengan pestisida nabati terutama serbuk biji srikaya (SBS) dan serbuk biji jarak (SBJ) untuk meningkatkan efikasi pengendalian telur kepik coklat di lapangan. Dari berbagai keunggulannya, Bio-Lec berpeluang besar untuk dimanfaatkan sebagai alternatif pengganti insektisida kimia dalam pengendalian hama penyakit utama kedelai. Kita tunggu perkembangan selanjutnya.

Makalah kedua dengan judul Pengenalan Sistem Dinamik Untuk Sektor Pertanian disampaikan oleh Apri Sulistyo, MSi dari kelompok Peneliti Pemuliaan dan Plasma Nutfah. Tema ini merupakan laporan hasil training selama enam hari di Bandung pada tanggal 1 – 6 April 2012. Kegiatan training tersebut merupakan hasil kerja sama antara Badan Litbang Pertanian dengan Sekolah Bisnis Manajemen ITB (SBM ITB). Pada paparan makalahnya, Apri menjelaskan bahwa metodologi sistem dinamik dapat dijadikan sebagai alat bantu untuk menjelaskan suatu fenomena dan sebuah persoalan. Salah satu software yang dapat digunakan adalah powersim. Dalam kehidupan nyata sering kali kita jumpai suatu fenomena dan sebuah persoalan. Untuk memahami fenomena dan persoalan tersebut di lapangan terlalu kompleks, sehingga diperlukan suatu alat untuk memahaminya. Pemodelan memiliki dua fungsi utama, yaitu sebagai alat untuk menjelaskan permasalahan yang dihadapi dan sebagai alat bantu untuk menganalis kebijakan. Secara umum, dalam pembuatan suatu pemodelan sistem dinamik dilakukan melalui empat tahap, yaitu: (1) perumusan konsep, (2) transformasi CLD menjadi stock and flow diagram, (3) pengujian model yang telah dibuat, dan (4) penerapan model sistem dinamik. Menurut Apri, tidak semua fenomena atau permasalahan dapat diselesaikan menggunakan pemodelan sistem dinamik. Beberapa karakteristik fenomena atau persoalan yang layak diselesaikan menggunakan sistem dinamik antara lain: permasalahan tersebut berlaurt-larut dan selalu berulang, memiliki data historis (time series), solusi yang pernah dibuat belum berhasil atau bahkan tidak bekerja sama sekali, dan alasan yang melatarbelakangi terbentuknya pola time series tersebut belum berhasil diketahui.

 

Dr. Yusmani Prayogo (kiri) dan Apri Sulistyo, MP (kanan) saat mempresentasikan materi pada seminar internal Balitkabi Senin (4/6/2012) pagi.

Peserta seminar internal Balitkabi terdiri dari peneliti dengan berbagai macam disiplin ilmu.