Berita » Biopestisida Promosi Tiada Henti

biopest-1

Biopestisida Virgra dan BeBas

Badan Litbang Pertanian melalui Balitkabi telah menghasilkan berbagai jenis biopestisida yang dapat digunakan untuk mengendalikan hama penyakit tanaman. Biopestisida tersebut antara lain: Trichol 8, Virgra, SBM, BeBas, Biolec, Eugenol, Bactag dan masih banyak lagi. Beberapa jenis biopestisida sudah diuji baik dalam skala rumah kaca maupun di lapangan. Pada tahun 2018 telah dilakukan pengembangan biopestisida yang dikemas dalam kegiatan “BUDENOPI” (Budi Daya Kedelai Non Pestisida Kimia) di salah satu sentra kedelai terbesar di Jawa Timur yaitu Kabupaten Banyuwangi menggunakan lahan seluas 15 hektar.
Teknologi Budenopi merupakan inovasi baru yang perlu terus dikembangkan di bumi Indonesia untuk mendukung program swasembada kedelai yang ditargetkan oleh Kementerian Pertanian. Mengapa demikian, karena teknologi Budenopi mampu mengubah pola pikir petani tentang pengendalian hama penyakit yang tidak hanya tertumpu pada pestisida kimia. Selain itu, teknologi Budenopi ternyata mampu menekan populasi organisme pengganggu tanaman (OPT) dan produk yang dihasilkan bebas paparan residu pestisida kimia sehingga harga kedelai mampu menembus Rp. 12.500,- per kg sementara itu harga kedelai dengan budi daya konvensional hanya Rp. 7.500,- per kg. Keragaan tanaman pada teknologi Budenopi juga cukup bagus dan mampu mempertahankan kelangsungan hidup berbagai jenis artropoda terutama musuh alami.
Menjelang akhir semester pertama, kegiatan promosi biopestisida tiada henti terus dilakukan oleh peneliti Balitkabi sebagai penghasil inventor. Kegiatan promosi merambah ke Jawa Tengah tepatnya di Dusun Krajan, Desa Panunggalan, Kecamatan Pulokulon, Kabupaten Grobogan. Sosialisasi berbagai jenis biopestisida selalu dilakukan kepada petani sebelum produk tersebut diaplikasikan ke lapangan. Kegiatan pengembangan ini menggunakan varietas Grobogan, varietas yang paling banyak ditanam petani setempat. Perlakuan benih sebelum tanam menggunakan biofungisida Trichol 8 yaitu mengandung konidia cendawan antagonis Trichoderma harzianum. Perlakuan ini berfungsi untuk menekan infeksi cendawan Sclerotium rolfsii dan Rhizoctonia solani sebagai penyebab layu pada awal pertumbuhan. Pada fase vegetatif nanti juga akan diaplikasikan bioinsektisida Virgra, yaitu virus entomopatogen yang mengandung Spodoptera litura Nuclear Polyhedrosis Virus yang berfungsi untuk membunuh hama pada stadia larva khususnya ulat grayak. Namun demikian, Virgra juga dapat membunuh ulat jengkal (Chrysodeixis chalcites), ulat penggulung daun (Lamprosema indicata), dan larva penggerek polong (Etiella zinckenella). Biopestisida selanjutnya adalah SBM (serbuk biji mimba) yang mengandung senyawa azadirachtin yaitu berfungsi untuk menolak makan berbagai jenis hama sehingga serangga tidak menyukai untuk mendatangi tanaman. Selain itu, juga mengganggu sistem syaraf serangga dengan cara memblokir produksi hormon ekdison (ecdyson block) yaitu hormon untuk proses ganti kulit (moulting), dengan demikian serangga mengalami gagal ganti kulit dan menjadikan serangga tidak normal. Senyawa azadirachtin juga dapat menyebabkan serangga menjadi sterilitas sehingga serangga tidak dapat memproduksi telur, dengan demikian populasi serangga tidak dapat meningkat dan akhirnya terjadinya ledakan populasi sangat rendah.

Biopestisida Biolec dan biofungisida Trichol 8

Biopestisida Biolec dan biofungisida Trichol 8

Biopestisida selanjutnya adalah Bebas yang mengandung konidia cendawan entomopatogen Beauveria bassiana yang dapat membunuh berbagai jenis serangga hama meliputi kutu kebul (Bemisia tabaci), pengisap polong (Riptortus linearis, Nezara viridula, Piezodorus hybneri) dan penggerek polong (E. zinckenella). Terakhir yaitu biofungisida Eugenol yaitu mengandung minyak cengkeh berfungsi untuk menekan perkembangan penyakit karat daun (Phakopsora pachyrhizi), downy mildew (Peronospora manshurica) dan powdery mildew (Microsphaera diffusa). Biopestisida BeBas dan Eugenol diaplikasikan menjelang fase generatif sehingga perkembangan populasi OPT khususnya hama polong dan penyakit daun dapat diatasi. Dengan demikian, produksi kedelai yang diperoleh petani tetap tinggi dan produk yang dihasilkan merupakan sumber pangan sehat dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan kedelai yang dibudidayakan secara konvensional.
Pengembangan biopestisida di Grobogan sangat ditunggu-tunggu oleh petani khususnya Bapak Ali Muchtar sebagai penangkar benih kedelai. Menurut penuturan Ali Muchtar, kedelai non pestisida kimia yang berasal dari Grobogan dan dikirim ke Jakarta laku hingga Rp. 15.000,-/kg. Biopestisida ini juga dapat diproduksi masal oleh petani dan dapat digunakan untuk pengendalian OPT tanaman lain, tutur Pak Ali. Oleh karena itu, dengan adanya promosi pengembangan biopestisida ini akan lebih mendorong petani lain untuk lebih giat mengembangkan biopestisida karena harga produk yang dihasilkan lebih tinggi dan dapat meningkatkan kesejahteraan petani.

Bioinsektisida SBM (serbuk biji mimba)

Bioinsektisida SBM (serbuk biji mimba)

Sosialisasi perawatan benih kedelai menggunakan biofungisida Trichol

Sosialisasi perawatan benih kedelai menggunakan biofungisida Trichol

YP & GWAS