Berita » Bisakah Budaya Makan Nasi Diubah

makan

Dalam rangka mengingatkan kembali upaya peningkatan diversifikasi pangan terutama konsumsi aneka kacang dan umbi, Balitkabi mengadakan seminar intern yang memaparkan tentang mungkinkah kita bisa mengganti konsumsi beras dan pentingnya strategi mewujudkan upaya tersebut. Seminar disampaikan oleh Prof. Dr Astanto Kasno pada hari Senin 5 Oktober 2015 dan dihadiri oleh para peneliti serta beberapa Pejabat Struktural Balitkabi. Ketergantungan terhadap bahan pangan beras setiap tahun semakin meningkat. Kondisi ini akan mempengaruhi keamanan dan ketahanan pangan Indonesia, karena kebutuhan beras hampir setiap tahun dipenuhi melalui impor. Disisi lain, ketersediaan bahan pangan non beras sebenarnya tersedia cukup banyak dan tersebar di seluruh wilayah Indonesia, terutama dari bahan aneka umbi. Beberapa jenis umbi potensial dapat digunakan sebagai sumber karbohidrat pengganti beras, antara lain suweg, garut, ganyong, dan talas. Semua komoditas ini memiliki keunggulan dibandingkan beras misalnya mudah dicerna, dapat menjadi obat tradisional, misalnya karena memiliki indeks glikemik rendah yang baik untuk penderita diabetes. Strategi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan diversifikasi pangan terutama adalah melalui kebijakan pemerintah yang tegas. Sebagai contoh penerapan “one day no rice” di Depok dapat berjalan lancar karena ditetapkan dan didukung Pemerintah Daerah setempat. Terobosan seperti ini perlu ditiru dan diperluas ke seluruh Indonesia. Selain itu promosi yang gencar juga dapat dilakukan untuk meningkatkan pola konsumsi pangan non beras, dengan memodifikasi sajian pangan lokal menjadi pangan modern seperti mengubah talas atau ubi jalar menjadi bolu ubi jalar, mie ubi, tiwul instan, bakso ubi, atau daging tiruan yang berasal dari campuran ubi dan kedelai atau daging. Sebagai penutup, Prof. Astanto menyebutkan bahwa upaya ini dapat diawali dilakukan di lingkungan Balai melalui kebijakan Balai.


Koleksi tanaman umbi potensial Balitkabi (kiri), Ibu Suparjiyem dan aneka umbi potensial (kanan) (Sumber : Kompas 20 September 2015).


Tepung ganyong (kiri) dan produk olahan adri tepung ganyong (kanan).

Sutrisno/KN