Berita ยป Blitar juga Sentra Produksi Kedelai

Kabupaten Blitar dengan beragam agroekosistemnya, berpotensi dikembangkan berbagai tanaman pangan, termasuk kedelai. Misalnya, di Kecamatan Binangun, hingga saat ini kedelai menjadi bagian utama dalam polatanam setahun, ditumpangsarikan dengan jagung, lombok dsbnya.

Namun di kecamatan lain, tepatnya di Sutojayan, kedelai selalu dibudidayakan oleh petani dengan pola tanam padi โ€“ padi โ€“ kedelai. Pada musim tanam MK II 2015, program pengembangan kedelai oleh Dinas Pertanian Blitar di Kecamatan Sutojayan mencapai 350 ha yang terbagi pada 7 kelompok tani.

Varietas yang digunakan saat ini Baluran. Menurut ketua kelompok tani Mandiri, pada kondisi optimal, hasil kedelai di Desa Sukorejo Sutojayan bisa mencapai 2.5 t/ha. Petani menanam kedelai dalam barisan teratur, tidak dipupuk dan umumnya hanya diairi sekali.

Pengandalian hama atau penyakit dilakukan antara 2โ€“4 kali. Tanah mulai retak dan Galur No. 6 dari galur tahan pecah polong disukai petani. Pada MK II 2015, Balitkabi melakukan uji adaptasi kedelai tahan pecah polong dan juga menanam varietas Grobogan.

Petani di Sutojayan menginginkan kedelai yang berumur genjah dan bijinya berukuran besar. Alasannya karena dilakukan pada musim terakhir, harus genjah, agar terhindar dari kekeringan. Memang di lapang sudah terlihat tanah mulai retak-retak.

Pertanaman kedelai di Sutojayan, 21 Oktober 2015.

Pertanaman kedelai di Sutojayan, 21 Oktober 2015.

Tanah mulai retak dan Galur No. 6 dari galur tahan pecah polong disukai petani.

Tanah mulai retak dan Galur No. 6 dari galur tahan pecah polong disukai petani.

Bahkan varietas Baluran daunnya mulai menguning karena kekeringan. Melihat keragaan varietas Grobogan, petani menyukainya. Demikian juga pada saat melakukan kunjungan ke uji adaptasi, petani memilih galur No. 6, dengan alasan berumur genjah, polong banyak dan ukuran biji sepertinya besar, paparan beberapa petani.

MMA