Berita » Cassava Farm Field Day

Kunjungan di pertanaman ubi kayu Desa Beringin, Kec. Tapian Dolok, Simalungun

Kunjungan di pertanaman ubi kayu Desa Beringin, Kec. Tapian Dolok, Simalungun

Selain simposium, dalam acara Regional Research Symposium of ACIAR Cassava Value Chain and Livelihood Research Program di Pematang Siantar, Sumatera Utara, juga dilakukan Cassava Farm Field Day pada tanggal 1 dan 2 Juli 2019. Farm Field Day ini bertujuan untuk menunjukkan kondisi nyata budi daya ubi kayu yang ada di Indonesia khususnya di Sumatera Utara dan meninjau lokasi kegiatan penelitian ubi kayu di bawah koordinasi CIAT. Kepala Balitkabi Dr. Yuliantoro Baliadi, Dekan Faperta Universitas Brawijaya Dr. Ir. Damanhuri, M.S., Project Leader Cassava Value Chain Indonesia Prof. Dr. Wani Hadi Utomo, dan Prof. Dr. Titik Islami dari Pusat Studi Ubi-ubian Universitas Brawijaya berkesempatan hadir dalam Cassava Farm Field Day mendampingi peserta simposium.
Lokasi kunjungan pertama adalah Desa Beringin yang terletak di Kecamatan Tapian Dolok Kabupaten Simalungun. Di Desa ini, areal pertanaman ubi kayu cukup luas yaitu sekitar 300 hektar. Berdasarkan keterangan Sutikno, petani sukses berumur 33 tahun, yang juga penebas/pedagang sekaligus penggerak petani ubi kayu di daerah ini, ada dua varietas lokal yang ditanam di daerahnya yaitu Cikaret dan Malaysia. Tingkat produktivitas rata-rata dari kedua jenis ini sekitar 30 t/ha. Yang menarik perhatian adalah petani biasa menanam ubi kayu dengan jarak rapat (70 cm x 60 cm) dan menumbuhkan satu tunas saja. “Jarak tanam rapat ini salah satu cara untuk menekan pertumbuhan gulma,” kata Sutikno. Memelihara satu tunas bertujuan untuk mencegah tanaman roboh dan mengurangi kerapatan kanopi, lanjutnya.

Dekan Faperta UB, Kepala Balitkabi, dan Prof. Dr. Wani Hadi Utomo

Dekan Faperta UB, Kepala Balitkabi, dan Prof. Dr. Wani Hadi Utomo

Cu Thi Le Thuy, peserta dari CIAT Vietnam, antusias mengambil sampel umbi Cikaret, mengupas, mengamati warna umbi, dan mencicipi rasa umbinya. “Ubi ini warnanya kuning dan manis rasanya, pemanfaatannya untuk apa?” tanya Thuy. Setelah mendapat penjelasan bahwa meski warna ubi kuning dan manis, ubi Cikaret ini digunakan untuk bahan baku tapioka, Thuy menyatakan bahwa seharusnya, untuk memenuhi syarat kualitas rendemen tapioka, seyogyanya ubi kayu dengan warna ubi kuning tidak digunakan sebagai bahan baku. Namun kenyataannya hingga saat ini pihak industri tapioka masih mau menerima. Hal tersebut dipicu oleh kondisi kelangkaan bahan baku. Pihak pabrik tapioka PT. Bumisari Prima menyatakan bahwa karena alasan kelangkaan bahan baku, maka pihak pabrik sementara ini mau menerima bahan baku ubi kayu apa pun, namun dengan konsekuensi harga ke petani akan disesuaikan dengan kualitas ubi yang masuk. Untuk ini, Sutikno antusias mulai mengembangkan Malang 4 di daerahnya. Malang 4 merupakan varietas ubi kayu yang dirilis Kementerian Pertanian tahun 2001 dengan rata-rata hasil sekitar 40 t/ha dan kadar pati berkisar 25−32%.
Kunjungan berikutnya ke pabrik tapioka PT Bumisari Prima yang berlokasi di Jalan Medan km 7 Pematang Siantar. Peserta simposium disambut dengan ramah oleh Bapak Abun, Bapak Purba, dan Ibu Herawati Sirait. Ibu Herawati menjelaskan sejarah PT Bumisari Prima dan proses pengolahan tapioka yang ada di PT Bumisari. “Di PT Bumisari ini, rendemen tapioka dari ubi kayu varietas lokal masih rendah yaitu sekitar 20−22%. Sedangkan jika dari varietas Adira 4 dan Malang 4, rendemen bisa mencapai 24−25%,” kata Herawati. Sehingga pihak PT Bumisari sangat berterimakasih sekali dengan adanya pengembangan varietas Malang 4 menyusul varietas Adira 4 yang telah lama berkembang di daerah Pematang Siantar dan sekitarnya. Meskipun rendemen ini masih jauh di bawah Vietnam dan Negara lain yang bisa mencapai sekitar 30%. Peserta simposium berkesempatan melihat pabrik dari dekat dengan melihat ruang pengolahan, pengepakan tapioka, dan penanganan limbah.

Kunjungan peserta simposium di pabrik tapioka PT Bumisari Prima

Kunjungan peserta simposium di pabrik tapioka PT Bumisari Prima

Lokasi pengembangan varietas Malang 4 di Desa Huta Kalapa, Kecamatan Dolok Marlawan, Kabupaten Simalungun menjadi lokasi kunjungan berikutnya. Ibu Sirait, sama seperti pak Sutikno, merupakan petani, penebas/pedagang sekaligus penggerak petani ubi kayu di wilayah ini menyambut peserta simposium dengan ramah. “Saya suka sekali menanam Malang 4 ini. Tahun lalu hasil ubi dan rendemen Malang 4 lebih tinggi dibandingkan jenis ubi roti yang saya tanam sebelumnya,” kata bu Sirait dengan semangat menjawab pertanyaan salah satu peserta simposium. Saya akan terus mengajak petani lain untuk mengembangkan Malang 4, lanjut bu Sirait.

Lokasi pengembangan Malang 4 di Kec. Dolok Marlawan, Kab. Simalungun.

Lokasi pengembangan Malang 4 di Kec. Dolok Marlawan, Kab. Simalungun.

Senin malam tanggal 1 Juli 2019, peserta simposium berkesempatan menikmati keindahan Danau Toba dan menikmati kesenian tradisional di Pulau Samosir. Keesokan harinya peserta simposium kembali melakukan perjalanan menuju ke daerah Sibisa di Kabupaten Toba Samosir untuk meninjau lokasi penelitian pengaruh pupuk kandang kambing dan pengelolaan tanah untuk mengeliminir serangan busuk umbi. Bibit hasil percobaan ini akan digunakan untuk penyebaran varietas Malang 4 di wilayah Sibisa dan sekitarnya. Banyak petani yang berminat menanam var. Malang 4 di daerah ini. Menyusul wilayah Porsea di Kabupaten Toba Samosir yang telah lebih dulu mengembangkan Malang 4 di bawah koordinasi Bapak Paber Sitorus sejak tahun 2017.

Kunjungan di lokasi pengembangan varietas Malang 4 di Sibisa, Toba Samosir

Kunjungan di lokasi pengembangan varietas Malang 4 di Sibisa, Toba Samosir

Semoga ke depan, Malang 4 dan varietas lain semakin banyak diadopsi oleh petani sehingga dapat meningkatkan ketersediaan bahan baku tapioka.
KN