Berita » CIAT Berminat Kerjasama dengan Balitkabi untuk Meningkatkan Kinerja Penelitian dan Pengembangan Ubikayu

ciat

Centro International Agricultura Tropical (CIAT) yang berpusat di Palmira Cali Columbia Amerika Latin merupakan salah satu lembaga penelitian pertanian tropis internasional yang tergabung ke dalam Consultative Group for International Agricultural Research (CGIAR) dengan salah satu mandat utamanya adalah ubikayu. Melalui Program CIAT di Asia telah lebih 40 tahun membina sumber daya manusia (SDM) dari lembaga penelitian pertanian termasuk Indonesia guna menghasilkan penelitian yang lebih diperlukan oleh petani & pengguna lainnya. Sebagai kelanjutan Workshop yang diselenggarakan kerjasama antara CIAT–UB–Balitkabi tanggal 17 Desember 2013 disepakati perlu dilakukan studi pemahaman cepat terhadap ubikayu oleh petani dan pengguna lain (Cassava Scoping Rapid Appraisal/CSRA). Data statistik dari Badan Pusat Statistik (BPS) maupun dari Badan Penanaman Modal digunakan untuk memilih lokasi survey, yaitu Nusa Tenggara Timur (NTT), Jawa Timur, Lampung dan Sumatera Utara. Survey tahap awal 9 – 23 Maret telah dilakukan di NTT hingga Jawa Timur bahkan menyempatkan melihat profil desa yang menggunakan ubikayu sebagai pangan dan sumber pendapatan utama yaitu di Desa Gambiranom, Kecamatan Kismantoro Kabupaten Wonogiri Propinsi Jawa Tengah. Di tengah acara survey telah dilakukan pula penentuan prioritas penelitian ubikayu yang membuka peluang kerjasama lebih jelas antara CIAT dengan Balitkabi yang juga melibatkan Perguruan Tinggi seperti UB, UNEJ dan UNS untuk turut serta. Acara penetapan prioritas penelitian ubikayu tanggal 20 Maret 2014 dari pukul 09.00 – 16.00 WIB didasarkan atas CSRA dihadiri oleh para staf peneliti Balitkabi dengan dipandu oleh 2 ahli dari CIAT yaitu Dr. Tin Maung Aye (soil scientist and agronomist) serta Dr. Jonathan Newby (economist). Pada kesempatan tersebut juga hadir 3 staf pengajar dan peneliti dari UNEJ yaitu Dr. Didik Puji, Dr. Sholeh Avivi, dan Dr. Ahmad Nafi’.

Diskusi yang berkembang juga membahas perlunya peningkatan produktivitas dan produksi ubikayu nasional, agar status Indonesia sebagai pengimpor tapioka terbesar ke dua setelah China dapat berganti menjadi pemasok bagi pasar tapioka global. Fakta di lapang menunjukkan bahwa hal tersebut sangat memungkinkan, oleh karena itu kerjasama antar lembaga lintas sektor dan disiplin perlu dibangun dan diaktualisasikan.

YW/EY