Berita » Dari Era Industri 4.0, Hilirisasi Inovasi Hingga Membangun Peneliti Tangguh

dsc_2491

Tiga topik penting dan menarik untuk dipelajari, direnungkan serta dijadikan pijakan langkah ke depan telah disampaikan pada Raker Terpadu Balitbangtan hari kedua, Kamis 4 April 2019 yang diselenggarakan di Malang, Jawa Timur. Dengan Moderator Prof. Dr Suyamto dan Dr.Tahlim S tiga nara sumber memaparkan tiga materi dengan jelas dan lengkap.

dsc_2499
‘Inovasi penelitian di Era Industri 4.0’ merupakan topik pertama dipaparkan dengan lengkap dan menarik oleh Prof. Dr. Haryono. Disampaikan bahwa revolusi industri 4.0 dapat berwujud big data, data mining dan otomasi. Big data dapat berupa data genomic yang mendukung inovasi penelitian. Perlu diketahui bahwa Bio diversity Indonesia adalah nomor satu dan masa depan pangan dunia ada di wilayah tropika. Dengan memanfaatkan big data dapat meningkatkan inovasi penelitian. Inovasi penelitian meliputi: 1) riset inovatif yaitu memenuhi kebutuhan pasar dan industri, mekaloboratif dan multi mitra, dan 2) kebijakan riset inovatif meliputi kebijakan riset, strategi dan program. Makna strategi revolusi industri 4.0 bagi balitbangtan/Kementan dapat berupa smart agriculture, smart farming, precision agriculture dan precision farming. Kekuatan badan litbang terletak pada kelembagaan, menggunakan kekuatan sumberdaya untuk menjadi Litbang yang lebih hebat.

dsc_2525
Materi kedua dipaparkan secara jelas oleh Prof. Dr. Muh. Syakir dengan judul materi ‘Akselerasi Hilirisasi Inovasi Balitbangtan ‘. Dijelaskan bahwa Baitbang pertanian merupakan penyumbang Paten Granted terbanyak pada tahun 2018. Pendaftaran varietas hasil pemuliaan Balitbangtan sampai dengan Desember 2018 sejumlah 669 varietas (61 varietas pada tahun 2018) dan 601 sertifikat (16 varietas tahun 2018) + 40 rahasia dagang. Dengan hasil yang telah diperoleh tersebut, untuk menjadikan litbang pertanian lebih kuat dapat dilakukan dengan penguatan interaksi positif antar lembaga litbang, pengembangan keunggulan riset dan hasil riset, penguatan dukungan pemanfaatan hasil riset guna menjawab kebutuhan pengguna (masyarakat industri dan pemerintah). Kesenjangan hasil penelitian dengan pengguna harus dipersempit bahkan ditiadakan. Akselerasi pengembangan dan penerapan inovasi pertanian dapat dilakukan melalui penggunaan IT/medsos, kolaborasi dengan swasta untuk promosi teknologi, promosi tingkat internal eselon 1 Kementan, lintas eselon 1di luar Kementan, dan promosi tingkat anggota legislatif, pemda dan swasta.

dsc_2505
Materi ke tiga tidak kalah menarik, karena menyangkut issu hangat fungsional peneliti disampaikan oleh Prof. Dr. Achmad Suryana yaitu ‘Membangun Penelitian Tangguh Menyambut Perka LIPI No. 14/2018’. Disampaikan dengan Perka LIPI No. 14/2018 menetapkan penilaian kinerja Jabatan Fungsional (JF) peneliti tidak hanya berdasarkan pada angka kredit, tetapi dipersyaratkan juga ada uji kompetensi terhadap hasil kerja minimal untuk menjaga kualitas dan profesionalisme seorang peneliti. Meskipun dengan persyaratan-persyaratan penilaian kinerja yang sedemikian, tetapi untuk penelitian Balitbangtan tidak boleh mengabaikan tiga hal penting yaitu : 1) penelitian harus berfokus untuk mendukung pencapaian tujuan pembangunan pertanian nasional, 2) porsi terbesar litbang pertanian untuk menghasilkan teknologi yang cocok untuk petani, UMKM, dan spesifik lokasi, 3) Kementan diharapkan mampu meningkatkan produksi pertanian berkelanjutan: penciptaan teknologi harus berkesinambunga lintas pemerintahan (basic and applied research). Dalam menyikapi perka LIPI peneliti harus bersikap positif bahwa peraturan tersebut dibuat untuk kemaslahatan khalayak kemudian harus siap dengan kemungkinan proses perubahan yang terjadi, diantaranya perubahan organisasi ke-litbang-an nasional, perubahan organisasi kementerian pertanian, dan perubahan penyelenggaraan litbangjirap nasional. Berdasarkan hal tersebut diperlukan beberapa langkah tepat seperti perlu dirancang alternatif organisasi Balitbangtan yang mampu merespon perubahan yang telah dan diperkirakan akan terjadi, berkinerja secara optimum, penyesuaian manajemen penelitian, serta penguatan kinerja peneliti (membangun inner SDM peneliti).

dsc_2529
RA