Berita » Disebut Petani Kedelai jika Satu Kilogram Benih Hasilkan 40-50 kg Kedelai

Pertanaman kedelai musim kemarau 2019 di Rejoso Nganjuk

Pertanaman kedelai musim kemarau 2019 di Rejoso Nganjuk

Pak Podo, petani kedelai di Rejoso Nganjuk, berpendapat, kalau 1 kg benih hanya menghasilkan 30 kg kedelai, itu belum disebut petani kedelai, baru disebut petani kedelai jika 1 kg benih menghasilkan 40-50 kg kedelai. Logika sederhana yang memang benar pada wilayah Pak Podo, untuk menghasilkan 2,0 hingga 2,5 ton kedelai per ha.

Pak Pujo, petani kedelai di Rejoso Nganjuk

Pak Podo, petani kedelai di Rejoso Nganjuk

Di sentra kedelai Nganjuk, sebagian besar kedelai ditanam pada musim kemarau bulan Juni–September, dan sebagian ditanam pada bulan Februari–Mei. Dahulu mereka menggunakan varietas Wilis, tetapi sejak BPTP Balitbangtan Jatim memperkenalkan varietas kedelai Kaba, 5 tahun yang lalu, saat ini petani tetap menggunakan varietas tersebut. Di lapang sebagian besar petani menyebutnya Wilis dan sebagian petani berpendapat varietas yang ditanam adalah Kaba. Varietas Kaba merupakan varietas kedelai pertama di Indonesia yang dirakit dengan menggunakan 16 tetua dan dilepas pada tahun 2001. Penuturan Pak Daman petani setempat, harga benih kedelai di pasar Rp7.000,00 per kg dalam kondisi masih kotor, namun jika membeli ke penangkar benih Rp14.000,00–Rp15.000,00 per kg.

Keragaan tanaman kedelai petani di Rejoso Nganjuk cukup bagus. Sebagian besar kedelai ditanam sebar secara monokultur, dan sebagian ditumpangsarikan dengan jagung. Petani menyukai varietas kedelai yang ditanam saat ini, dan pengendalian hama maupun penyakit juga dilakukan secara intensif. “Biasanya keragaan dan produksi kedelai di sini cukup bagus bisa mencapai di atas hasil 2,25 t/ha. Meskipun saat ini sulit air ternyata Varietas Kaba ini masih tumbuh hijau (subur),” kilah Pak Sunarto. Semoga petani memperoleh hasil optimal dengan harga yang layak.
MMA