Berita » DOI untuk Sumberdaya Genetik dan Antioksidan Kedelai di Seminar Internal Balitkabi

dsc_8777

Balitkabi secara rutin menyelenggarakan seminar internal dua minggu sekali yang dilaksanakan pada hari Jumat. Seminar rutin bertujuan untuk menghidupkan nuansa ilmiah di Balitkabi sebagai lembaga penelitian dan pengembangan. Seminar diharapkan menjadi sarana pembelajaran bagi peneliti dan sebagai ajang bertukar informasi hasil penelitian maupun oleh-oleh hasil kunjungan atau workshop.

Jumat 24 Mei 2019, di Aula Balitkabi dilaksanakan seminar rutin dengan dua presenter, yaitu: (1) Pratanti Haksiwi Putri, S.Si yang menyampaikan hasil pelatihan Sistem Informasi Global dan Digital Object Identifier (DOI) untuk SDG Tanaman Pangan dan Pertanian” di Yogyakarta pada 26 April–3 Mei 2019 dan (2) Dr. Muchdar Soedarjo yang menyampaikan hasil penelitian dengan judul “Evaluasi antioksidan pada beberapa varietas unggul kedelai”

dsc_8775

Pada awal presentasinya Pratanti menjelaskan perkembangan sistem multilateral, akses, dan pertukaran materi genetik mulai dari Convention on Biological Diversity (1992), kemudian Indonesia meratifikasi dengan UU No. 5/ 1994; International Treaty of Plant Genetic Resources for Food and Agriculture (ITPGRFA) di ratifikasi dengan UU No.4/2016; sampai pada Nagoya Protocol (2010) yang diratifikasi dengan UU No. 11/ 2013. Digital Object Identifier (DOI) merupakan instrumen pendukung ITPGRFA yang digunakan sebagai tanda pengenal khusus bagi setiap aksesi yang didaftarkan oleh setiap negara anggota dalam sistem pertukaran multilateral. Komoditas Balitkabi yang tercakup dalam Sistem Multilateral adalah Pigeon Pea (Cajanus), Yams (Dioscorea), Sweetpotato (Ipomoea), Cassava (Manihot), Cowpea (Vigna), dan Canavalia (Ensiformis). Sistem pertukaran Multilateral sumber daya genetik di Indonesia menggunakan satu pintu yaitu BB Biogen. Selanjutnya Pratanti menjelaskan tentang tujuan penggunaan DOI, cara registrasi, hingga implementasinya pada Sistem Multilateral.

dsc_8774

Presentasi kedua disampaikan oleh Dr. Muchdar Soedarjo yang mengemukakan hasil evaluasi antioksidan pada dua puluh tujuh (27) varietas kedelai. Muchdar menjelaskan peran antioksidan, manfaat bagi kesehatan hingga identifikasi kadar antioksidan pada plasma nutfah kedelai yang berperan strategis bagi program pemuliaan (perakitan varietas unggul berantioksidan tinggi). Hasil evaluasi didapatkan : (1) Warna kulit biji tidak menentukan secara baik kadar fenol biji kedelai, (2) Kedelai var. Detam 2 mempunyai kadar antioksidan tertinggi, (3) Kedelai var. Anjasmoro dan Detap merupakan kedelai biji besar yang mempunyai aktivitas antioksidan (metode DPPH) lebih tinggi dari kedelai impor, (4) Kedelai var. Demas 1, Tanggamus dan Gepak Kuning merupakan kedelai biji kecil-sedang yang mempunyai aktivitas antioksidan nyata lebih tinggi dari kedelai impor berdasarkan metode DPPH, (5) Secara umum terdapat korelasi positif antara kadar fenol biji dengan aktivitas antioksidan biji kedelai, dan (6) Antioksidan mungkin merupakan indikator awal kadar isoflavon.

Pada akhir masing-masing presentasi dilakukan diskusi mengenai topik yang disampaikan. Para peserta yang hadir cukup antusias untuk menggali informasi lebih dalam mengenai “Sistem Informasi Global dan DOI untuk SDG Tanaman Pangan dan Pertanian” dan “Evaluasi antioksidan pada beberapa varietas unggul kedelai”.

WR