Berita » Dr Eriyanto: Saatnya Metabolit Sekunder Kedelai Dikarakterisasi

sem-bul1

Semakin pentingnya peran dan ekonomi fungsional foods maka karakterisasi plasma nutfah kedelai ke arah kandungan metabolit sekunder flavonoid, fenol, dan antioksidan perlu segera dilakukan Balitkabi. Di samping itu, untuk mengantisipasi perubahan iklim, kini Balitkabi siap mengusulkan dua galur harapan tahan kekeringan pada fase reproduktif, yaitu DV/2984-330 dan SU-1014, menjadi varietas unggul. Demikian informasi terbaru yang terungkap dari dua makalah yang disampaikan pada Seminar Bulanan Balitkabi, Senin (6/2/2012).

Pentingnya Karakterisasi Metabolit Sekunder Kedelai

Pemateri pertama, Dr. Eriyanto Yusnawan mengambil topik “Phytoalexin-Enriched Functional Foods: a Review”, artikel telaah dari dua tulisan di Journal of Agricultural and Food Chemistry tahun 2009 Vol. 57 hlm. 2614–2622 dengan judul Phytoalexin-enriched functional foods dan tahun 2011 Vol. 59 hlm. 1673–1682 yang berjudul Biological activity of peanut (Arachis hypogaea) phytoalexins and selected natural and synthetic stilbendoids.

 

Dr Erik, menguraikan bahwa phytoalexin merupakan senyawa antimikrobia dengan berat molekul rendah yang disintesis de novo dan terakumulasi pada tanaman sebagai respons terhadap infeksi atau stress yang diakibatkan oleh luka, suhu rendah, sinar ultra violet (UV), dan mikroorganisme. Functional foods diartikan sebagai makanan yang memiliki manfaat kesehatan karena mengandung senyawa aktif tertentu. Produksi phytoalexin dapat ditingkatkan dengan penginduksi (elicitor), berupa biotik maupun abiotik. Berdasar pemahaman inilah, phytoalexin-enriched functional foods didefinisikan sebagai makanan yang berasal dari tanaman yang mengandung konsentrasi phytoalexin lebih tinggi akibat perlakuan induksi biotik maupun abiotik. Kedelai dan kacang tanah mengandung senyawa metabolit sekunder phytoalexin yang bermanfaat bagi kesehatan. Kedelai kaya akan flavonoid terutama dari subklas isoflavon, sedangkan kacang tanah mengandung resveratrol yang merupakan metabolit sekunder golongan fenol. Sangat disayangkan, karakterisasi plasma nutfah kedelai Balitkabi dan komoditas lain yang mengarah ke phytoalexin dan functional food belum dilakukan, terutama yang berkaitan dengan kandungan metabolit sekunder flavonoid, fenol, dan antioksidan. Oleh karena itu, Dr. Eriyanto mengusulkan karakterisasi plasma nutfah sudah saatnya mengarah ke kandungan total flavonoid, total fenol, dan kapasitas antioksidan mengikuti perkembangan dinamika penelitian yang ada di luar Indonesia. Usulan ini disetujui untuk diagendakan pada penelitian tahun 2013 yang akan dimulai dari optimasi ketiga metode untuk karakterisasi plasma nutfah kedelai koleksi Balitkabi.

DV/2984-330 dan SU-1014 Tahan Kekeringan

Tema presentasi kedua adalah “DV/2984-330 dan SU-1014 Calon Varietas Unggul Kedelai Toleran Cekaman Kekeringan Selama Fase Reproduktif”. Menurut Ir. Suhartina, MP, koleksi plasma nutfah kedelai MLG 2805, MLG 2984, MLG 3474, MLG 3072, MLG 2999, dan SU-17 telah diidentifikasi toleran kekeringan. Genotipe-genotipe tersebut digunakan sebagai tetua untuk perakitan varietas kedelai toleran kekeringan. Untuk memperoleh galur toleran kekeringan, perlakuan cekaman kekeringan pada fase reproduktif diberikan sejak seleksi pada generasi F4 dan F5 hingga uji adaptasi. Galur DV/2984-330 berasal dari persilangan tunggal antara varietas unggul Davros dengan MLG 2984. Galur SU-17-1014 berasal dari seleksi tanaman tunggal dari populasi asesi plasma nutfah SU-17.

Galur DV/2984-330 mempunyai rata-rata hasil biji 1,95 t/ha dengan potensi hasil 2,83 t/ha, umur masak 81 hari, dan ukuran biji 10,7 g/100 biji. Dibandingkan dengan varietas Tidar, rata-rata hasil DV/2984-330 lebih tinggi 14%, warna biji kuning, lebih menarik dibanding Tidar yang berwarna kuning kehijauan, ukuran biji lebih besar, namun umur masak tiga hari lebih panjang. Dibanding varietas Wilis, rata-rata hasil DV/2984-330 lebih tinggi 16%, dan umur masaknya lebih genjah, dengan warna dan ukuran biji yang hampir sama.

SU-17-1014 mempunyai rata-rata hasil biji 1,75 t/ha dengan potensi hasil 2,54 t/ha, umur masak 80 hari, dan ukuran biji 8,4 g/100 biji. Dibanding varietas Tidar, SU-17-1014 mempunyai rata-rata hasil yang sama, warna biji kuning lebih menarik dibanding biji var Tidar yang kuning kehijauan, ukuran biji lebih besar, namun umur panen dua hari lebih panjang. Rata-rata hasil, warna, dan ukuran biji SU-17-1014 mirip var Wilis, namun umur panennya empat hari lebih genjah. “DV/2984-330 dan SU-17-1014 akan menjadi varietas pertama kedelai berbiji kuning toleran cekaman kekeringan selama fase reproduktif di Indonesia apabila disetujui pelepasannya”, tutur Ir Suhartina, MP menutup paparannya.

Ir. Suhartina, MP memaparkan DV/2984-330 dan SU-1014 Calon Varietas Unggul Kedelai Toleran Cekaman Kekeringan Selama Fase Reproduktif

Ery/Alfi/Win