Berita » Dua Peneliti Balitkabi Menguji Ajuan PVT Varietas Kapas dan Sayur

Dua peneliti Balitkabi, Dr. Sholihin, M.Sc. dan Dr. Heru Kuswantoro, kembali bergabung dalam pembahasan persiapan pengujian BUSS 30 varietas tanaman di Kantor PVTPP (Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian), Jakarta. Sebelum hak PVT diberikan ke pemohon, varietas yang diajukan hak PVT-nya harus diuji dahulu, yaitu uji BUSS (Baru, Unik, Seragam, Stabil). Pembahasan persiapan uji BUSS merupakan kegiatan yang biasa dilakukan PPVTPP sebelum pelaksanaan uji BUSS. Dalam acara ini pemohon hak PVT, pemeriksa PVT, dan staf PPVTPP bertemu untuk membicarakan hal-hal yang terkait dengan pelaksanaan uji BUSS di antaranya anggaran yang diperlukan, petugas pemeriksa PVT, penentuan varietas pembanding, lokasi pengujian, dan waktu pengujian.

Menghadap layar: Dr. Sholihin, M.Sc., Dr. Heru K. (baju batik), Zaki, MS., Ir. Warsidi, dan Nurdini Khodijah, SP.

Ada 30 varietas tanaman yang dibahas dalam pembahasan persiapan uji BUSS yang dilakukan tanggal 8 Februari 2013. Di antara 30 varietas tersebut, ada dua varietas kapas (Kanesia 14 dan kanesia 15), yang diajukan oleh Balittas dengan petugas pemeriksa PVT Dr. Sholihin, M.Sc. Uji BUSS kedua varietas tersebut akan dilakukan di Kebun Percobaan Balitas Malang, Maret hingga September 2013. Kanesia 14 dilepas pada tahun 2007. Produktivitas varietas ini 995–2135 kg kapas berbiji/ha pada kondisi kekurangan air, sedangkan pada lahan beririgasi 1381–3943 kg kapas berbiji/ha. Kapas Kanesia 15 dilepas tahun 2007. Produktivitas Kanesia 15 mencapai 962–2237 kg kapas berbiji pada kondisi kekurangan air, dan pada kondisi beririgasi 1617–3617 kg/ha.

Dr. Heru Kuswantoro bertugas memeriksa PVT untuk komoditas buncis yang diajukan oleh Ir. Dini Djuariyah, Pemulia Buncis dari Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) Lembang. Dalam pemeriksaan PVT yang akan dilakukan ini, Balitsa mengajukan dua calon varietas, yaitu Balitsa 1 dan Balitsa 2. Balitsa 1 merupakan hasil introduksi asal Belanda. Nama populasi induk Balitsa 1 adalah LE 47. Perbedaan utama dari Balitsa 1 dengan LE 47 adalah warna dasar polong LE 47 adalah hijau, sedangkan Balitsa 1 adalah hijau muda. Berbeda dengan Balitsa 1, Balitsa 2 merupakan hasil introduksi dari Perancis dengan nama induk LE 155. Perbedaan karakter utama antara LE 155 dengan Balitsa 2 adalah kelopak bunga LE 155 berwarna ungu, sedangkan Balitsa 2 berwarna ungu kehijauan. Proses pemuliaan dilakukan sejak tahun 2004–2010 dengan metode seleksi galur murni. Dalam pemeriksaan yang akan dilaksanakan sekitar bulan April–Juni 2013, akan dibandingkan dengan varietas yang paling mirip dengan Balitsa 1 dan Balitsa 2, yaitu varietas Tala.

Shol/AW