Berita ยป Dua Peneliti Balitkabi menjadi Narasumber di PT. GMIT

Menindaklanjuti hasil kunjungan Direktur dan Tim Produksi PT. Gading Mas Indonesia Teguh (GMIT) Jember, pada bulan Januari 2022, dua peneliti Balitkabi yaitu Dr. Ir. Yusmani Prayogo, M.Si. dan Dr. Alfi Inayati, S.P., M.P. pada pertengahan Maret 2022 memberikan pelatihan dan bimbingan teknis kepada petugas lapang PT. GMIT terkait organisme pengganggu tanaman (OPT) pada kedelai edamame.

Penyerahan produk biopestisida ke Dirut PT. GMIT (kiri) dan pemaparan materi hama utama kedelai edamame (kanan)

Penyerahan produk biopestisida ke Dirut PT. GMIT (kiri) dan pemaparan materi hama utama kedelai edamame (kanan)

Training yang dilaksanakan selama tiga hari secara daring maupun luring ini diikuti oleh lebih dari 50 staf yang terdiri dari General Manager (GM), Research and Development (RND), dan staf yang menangani bidang hama dan penyakit (proteksi tanaman) serta bidang budidaya tanaman edamame. Disampaikan oleh Direktur Utama (Dirut) ANJ (Austindo Nusantara Jaya) Imam Wahyudi, dan Dirut PT. GMIT Erwan Santoso, bahwa ANJ merupakan perusahaan besar di luar Jawa yang bergerak dalam bidang tanaman perkebunan khususnya kelapa sawit dan perkebunan lainnya. PT. GMIT ini merupakan salah satu anak perusahaan tersebut sebagai pengembang kedelai edamame yang diekspor ke Jepang, Korea, dan beberapa negara lainnya. Oleh karena itu, PT. GMIT mempunyai syarat ketat dalam mengekspor produk kedelai ke berbagai negara, diantaranya adalah produk kedelai yang diekspor tersebut harus bebas paparan residu pestisida kimia. Sementara itu dalam proses budidaya kedelai tersebut di lapangan (wilayah Jember) banyak mengalami gangguan OPT, terutama hama kutu kebul (Bemisia tabaci) dengan populasi sangat tinggi, dan penyakit hawar bakteri yang disebabkan oleh Pseudomonas syringae fv. glycinea. Dirut PT. GMIT juga menyampaikan bahwa selama ini mereka kesulitan untuk memperoleh peneliti hama dan penyakit yang kompeten dan menguasai kedua jenis OPT tersebut.

Gejala infeksi hawar bakteri P. syringae fv. glycinea yang dapat menyebabkan produk edamame di-reject oleh beberapa negara pengimpor kedelai edamame.

Gejala infeksi hawar bakteri P. syringae fv. glycinea yang dapat menyebabkan produk edamame di-reject oleh beberapa negara pengimpor kedelai edamame.

Dalam kesempatan ini, Yusmani Prayogo memberikan bantuan beberapa produk biopestisida, dan pupuk hayati serta publikasi kepada Dirut PT. GMIT. Selanjutnya Yusmani manyampaikan bahwa agar produk kedelai edamame yang akan diekspor benar-benar zero pesticides, harus menghindari aplikasi pestisida sintetik terutama ketika tanaman sudah berumur diatas 40 hari setelah tanam (HST), dan khusus penggunaan bakterisida adalah tidak diperkenankan oleh negara-negara importir. Bimtek OPT kedelai edamame diawali dengan pre-test untuk menjajagi sejauh mana kemampuan para staf PT. GMIT tentang OPT dan cara pengendaliannya, kemudian juga dilakukan post-test untuk mengetahui seberapa jauh kemampuan pemahaman seluruh peserta bimtek dalam memahami seluruh paparan yang sudah disampaikan oleh kedua peneliti hama dan penyakit Balitkabi.

Peserta training menyimak pemaparan narasumber (kiri), dan observasi lapang pengenalan OPT kedelai edamame (kanan).

Peserta training menyimak pemaparan narasumber (kiri), dan observasi lapang pengenalan OPT kedelai edamame (kanan).

Pemaparan hama utama pada tanaman kedelai edamame disampaikan oleh Yusmani. Antusiasme seluruh peserta bimtek sangat tinggi, terlihat dari banyaknya pertanyaan. Alfi Inayati menyampaikan beberapa jenis penyakit penting serta cara pengendaliannya. Serangkaian dengan acara training, juga dilakukan kunjungan lapangan ke beberapa lokasi pertanaman kedelai edamame (Tegalwaru, Mayang, dan Patrang). Kegiatan ini ditujukan untuk mengetahui cara mengamati OPT yang berkembang di lapangan dan cara aplikator yang dilakukan oleh staf PT. GMIT yang ternyata belum sempurna, sehingga disampaikan di lapang tentang cara pemantauan dan pengamatan yang benar.

Foto bersama peserta training dari PT. GMIT (kiri), dan diskusi membahas RTL yang harus dilakukan oleh staf PT. GMIT (kanan).

Foto bersama peserta training dari PT. GMIT (kiri), dan diskusi membahas RTL yang harus dilakukan oleh staf PT. GMIT (kanan).

Hasil evaluasi pengamatan di lapangan ditindaklanjuti dengan anjuran penggunaan teknologi pengendalian yang tepat, efektif, efisien, dan ramah lingkungan. Erwan Santoso mengharapkan tetap adanya kerjasama dalam pendampingan keberlanjutan pertanaman kedelai edamame di lapangan agar hasil dari edamame tetap tinggi dan memenuhi kualitas ekspor.

AI/YP