Berita » Efektifkah Inovasi Teknologi Budi Daya Kedelai Super?

Gambar 2. Keragaan VUB Anjasmoro dengan cara tanam Jajar Legowo 50 cm x (30x15cm) di Curah Lele, Kec. Balung. Kab. Jember.

Keragaan VUB Anjasmoro dengan cara tanam Jajar Legowo 50 cm x (30x15cm) di Curah Lele, Kec. Balung. Kab. Jember.

Kegiatan diseminasi teknologi budi daya kedelai super telah dilakukan Balitkabi di Desa Curah Lele, Kecamatan Balung, Kabupaten Jember, Jawa Timur untuk meningkatkan benih kedelai baik secara kuantitas maupun kualitas.

Untuk melihat efektivitas penerapan teknologi dilakukan survei di dua pedukuhan yaitu Karang Pakem dan Curah Lele. Tolok ukur yang digunakan adalah karakteristik teknologi, karakteristik dan kapasitas petani, serta saluran informasi. Indikator keberhasilan diseminasi inovasi teknologi dilihat berdasarkan nilai manfaat ekonomi dan peluang adopsi teknologi oleh petani di musim tanam kedelai berikutnya.

Kenyataan di lapangan menunjukkan, terjadi peningkatan produktivitas kedelai petani dengan penerapan teknologi kedelai ‘Jarwo Super’ dibanding teknologi tanam sebar yang biasa dilakukan petani di lokasi. Respon petani sangat positif karena hasil kedelai meningkat 2−3 kali, dari sebelumnya mendapatkan 0,8−1,0 ton menjadi 2,6−2,9 t/ha.

Gambar 1. Survei efektivitas penyebaran teknologi VUB kedelai dengan penerapan budi daya kedelai super di Curah Lele, Kec. Balung. Kab. Jember.

Gambar 1. Suasana survei efektivitas penyebaran teknologi VUB kedelai dengan penerapan budi daya kedelai super di Curah Lele, Kec. Balung. Kab. Jember.

Keberlangsungan adopsi petani harus diikuti dengan sarana penunjang dan pemecahan kelangkaan tenaga tanam dalam penerapan teknologi ‘Jarwo Super’ seperti misalnya alat tanam aplikatif untuk budi daya kedelai. Keterlibatan langsung petani terhadap penerapan teknologi mempercepat pemahaman dan menumbuhkan rasa kebutuhan (self need) petani terhadap teknologi budi daya kedelai tersebut.

FR