Berita » Evaluasi Pelaksanaan SL-PTT, SL-PHT dan SL-I

1-sl-4

Penyediaan pangan, khususnya beras, jagung dan kedelai, bukan semakin mudah, tantangannya semakin berat.  Mengadopsi keberhasilan SL-PHT yang lahir lebih dahulu, dirakit SL-PTT untuk padi, jagung dan kedelai, dan mulai dioperasionalkan tahun 2008. Harapannya agar mampu mendongkrak produksi pangan utama tersebut.

Apakah harapan tersebut sesuai dengan kenyataan, untuk menjawabnya Direktorat Jendral Tanaman Pangan melakukan Rapat Koordinasi Evaluasi Pelaksanaan Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT), Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SL-PHT) dan Sekolah Lapangan Iklim (SL-I), di Sentul Bogor, 8–10 Agustus 2012. Rakor dihadiri oleh petani dan pemandu dari 12 provinsi; serta narasumber dari perguruan tinggi dan Badan Litbang Pertanian.

Dirjentan dalam arahan yang disampaikan oleh Sekditjentan, menengarai produktivitas dan produksi tanaman pangan pada tahun-tahun terakhir ini terutama padi, jagung dan kedelai tumbuh melandai, sehingga Sekolah Lapangan sebagai model pendekatan pembangunan tanaman pangan dipertanyakan efektivitasnya. Padahal SL-PTT diyakini mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam menerapkan teknologi sesuai kondisi lapangan, dan mendorong peningkatan produktivitas usahatani. Rata-rata produktivitas di lokasi SL-PTT padi, jagung dan kedelai lebih tinggi dibandingkan dengan produktivitas di luar lokasi SL-PTT. Walaupun dibandingkan dengan sasaran produktivitas di lokasi SL-PTT belum mencapai target, hanya berkisar 90-95%. Selain itu, replikasi teknologi PTT tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan, bahkan kecenderungan pasca SL-PTT tidak berlanjut/berkesinambungan, petani kembali pada kebiasaan lama. Begitu juga dengan SL-PHT dan SL-Iklim memiliki dampak positif terhadap peningkatan pengetahuan petani, penurunan luas serangan OPT dan DPI, dan peningkatan produktivitas. Namun demikian, replikasinya sama seperti SL-PTT masih berjalan lambat.

Pengarahan oleh Sekditjentan

Banyak hal didiskusikan, yang menarik banyak yang mempertanyakan pemahaman dari pelaksana dan pemandu di lapang, sekali lagi, pelatihan dan buku panduan telah diperderas. Pada konteks kedelai, kesan yang terungkap tidak semua sentra produksi kedelai mampu melaksanakan SL-PTT secara benar dan baik.  Bahkan yang ironis, BPTP sentra kedelai malah tidak memprogramkan SL-PTT kedelai. Ada pemikiran untuk mengubah strategi bukan dengan pendekatan SL tetapi dengan gerakan seperti Bimas, Inmas dan sebagainya.  Juga ada wacana untuk menggabungkan SL-PTT, SL-PHT dan SL-I menjadi satu paket. Nampaknya masih diperlukan penguatan pemahaman, walaupun menurut saya sudah terlambat, ibaratnya, kenapa bersekolah tidak lulus-lulus, ada yang salah dalam pengelolaan dan penerapan SL-PTT, dan nampaknya memang diperlukan keseriusan dan komitmen tinggi, bukan semata-mata karena ada proyek, tetapi arahnya adalah peningkatan produksi.

Sebagian narasumber

Peserta evaluasi SL