Berita » Evaluasi Proyek AFACI 2011 – 2012 dan Rencana Kerja 2012 – 2013

1-afa-1

Pemerintah Indonesia dan Korea telah melaksanakan proyek kerjasama sejak tahun 2010. Kerjasama ini dinaungi oleh program AFACI (Asian Food and Agriculture Cooperation Initiative). Selama kurun waktu tersebut, hasil persilangan kedelai toleran lahan masam, kekeringan dan naungan telah dirakit. Tiga agroekosistem ini menjadi prioritas karena perluasan area penanaman kedelai diarahkan ke pemanfaatan tanah di luar Jawa (Sumatera dan Kalimantan) karena pergeseran guna lahan di Jawa menjadi sector non pertanian. Kerjasama ini bertujuan untuk mempercepat pembentukan varietas kedelai toleran lahan sub-optimal dan perkembangan teknologi produksi kedelai tropis.

Evaluasi proyek AFACI 2011-2012 dan pembahasan rencana penelitian 2012-2013 dilaksanakan di Balitkabi pada tanggal 6 Juli 2012. Evaluasi dilakukan oleh Dr. Ko Jong Mint dan Mr. Han Wong Young dari National Institute of Crops Science-Korea. Dalam evaluasi ini, hasil penelitian dan kendala yang dihadapi juga dikemukakan. Beberapa interaksi genotip dan lingkungan untuk galur lahan masam masih dalam tahap penelitian. Kendala utama yang dihadapi adalah ketersediaan air dan serangan hama pengisap polong. Disarankan untuk menanam kedelai pada musim hujan dan aplikasi insektisida intensif untuk mengendalikan serangan hama. Sebagai data dukung pelepasan varietas diperlukan data lain seperti kandungan protein dan ketahanan terhadap hama dan penyakit. Terdapat 5 hasil persilangan dalam set 1 dan 8 hasil persilangan dalam set 2 yang mempunyai kandungan protein lebih tinggi dari pada varietas cek, Tanggamus. Kandungan protein tertinggi terdapat pada Tgm/Anj-862 (42%), sedangkan pada varietas cek hanya sebesar 35,5% dan 28,9% untuk Tanggamus dan Wilis. Tiga hasil persilangan memiliki ketahanan terhadap kutu kebul, yaitu  Tgm/Anj-862, Tgm/Anj-933, and DV/2984-330-1-1-16. Tiga hasil persilangan ini juga memiliki hasil tinggi. Tiga hasil persilangan diketahui toleran terhadap kekeringan sampai, yaitu no 1, 7 dan 10. Untuk toleransi terhadap naungan, 12 genotipe terseleksi pada percobaan pendahuluan dengan potensi hasil lebih dari 2 t/ha.  Genotipe Kaba // IAC100/Burangrang-11 dan IAC100/Burangrang // Kaba-8 cocok ditanam di bawah tegakan tanaman karet berumur 2 sampai 3,5 tahun.

Dr. Ko Jong Mint dan Mr. Han Wong Young bersama tim peneliti AFACI Balitkabi sedang mengamati adaptasi varietas unggul introduksi dari korea hasil pertukaran plasma nutfah kedelai dengan Indonesia

Aktivitas penelitian AFACI yang akan dilakukan pada tahun 2012-2013 juga dibahas. Direncanakan sebanyak 11 penelitian akan dilaksanakan pada kurun waktu satu tahun tersebut. Beberapa diantaranya adalah karakter agronomi dan morfologi plasma nutfah kedelai Korea, evaluasi toleransi kekeringan kedelai asal Korea terhadap lahan masam dan kekeringan. Aktivitas ini dilakukan sebagai tindak lanjut program pertukaran plasma nutfah antara Indonesia dan Korea. Kegiatan pertukaran plasma nutfah sangat penting untuk mendapatkan dan memperkaya variasi genetik yang luas di kedua negara. Kegiatan diseminasi galur kedelai toleran lahan masam akan dilaksanakan untuk memperkenalkan kepada pengguna, terutama petani dan pihak terkait. Untuk memperkaya program pemuliaan, kepala Balitkabi (Dr. M. Muchlish Adie) dan salah seorang pemulia kedelai (Ir. Suhartina, MP) akan berkunjung ke Korea pada tanggal 18 – 27 September 2012.

Dr. Ko Jong Mint dan Mr. Han Wong Young didampingi Dr. Heru Kuswantoro (Peneliti Balitkabi) dan Imam Sutrisno, SP (Kepala Kebun Percobaan Jambegede) melihat pertanaman produksi benih kedelai di KP. Jambegede.