Berita » FGD: Akseptabilitas Teknologi Unggulan Komoditas Bahan Pangan

Dr. Achmad Dimyati memimpin FGD kedelai dan Pak Heri sedang memberikan masukkan permasalahan di lapang

Focus Group Discussion Akseptabilitas Teknologi Unggulan Kedelai Bahan Pangan di Kalangan Pengusaha Kecil dan Menengah dibahas dalam focus group discussion (FGD) di Botani Square IPB Bogor, 12 November 2012. Hadir dalam pertemuan ini sebanyak 25 orang terdiri dari peneliti, penyuluh BPTP, pengusaha/pengrajin tahu tempe, dan dari Balitkabi diwakili oleh Prof. Dr. Marwoto dan Prof. Dr. Arief Harsono. Diskusi dipimpin oleh Dr. Achmad Dimyati.

Dr. Achmad Dimyati memimpin FGD kedelai dan Pak Heri sedang memberikan masukkan permasalahan di lapang

Sebagai pembukaan diskusi Dr. Achmad Dimyati mengatakan bahwa kegiatan ini membahas hasil temuan penelitian dan terkait dari bagian diseminasi hasil penelitian. Pertemuan ini diharapkan dapat mendorong terjalinnya kemitraan lestari antara Badan Litbang Pertanian dengan dunia usaha. Selanjutnya sebagai bahan diskusi Dr. Racmad Hendayana dari BPTP Jawa Barat mengemukakan tentang Skema Kerjasama Usaha Agroindustri berbahan baku kedelai, hasil dari studi kasus terhadap pengrajin tahu tempe di Jawa Barat. Diuraikan tentang preferensi pengrajin tahu tempe terhadap bahan baku kedelai lokal dan impor. Kedelai impor biji besar dan tersedia sepanjang tahun, hal ini merupakan alasan mengapa pengrajin tahu tempe lebih menyukai kedelai impor. Tetapi Pak Heri, yang mewakili pengrajin tahu tempe yang tergabung dalam KOPTI Jawa Barat menyatakan bahwa kedelai lokal jenis apa saja dapat dibuat tahu tempe, kedelai lokal mempunnyai banyak keunggulan dari sisi ukuran biji sama dengan impor, rendemen tahu dan tempe lebih tinggi, protein lebih tinggi, dari segi rasa lebih enak dan yang paling penting kedelai lokal bukan produk GMO. Kelemahan kedelai lokal bagi pengrajin tahu tempe adalah belum tersedia setiap saat. Sebagai contoh “Rumah Tempe” salah satu pengrajin tahu tempe membutuhkan bahan baku 0,5 ton kedelai untuk memproduksi 1 ton tempe per hari, belum mampu dipenuhi sepanjang tahun. Diperlukan terobosan agar ketersediaan bahan baku kedelai lokal secara lumintu. Hasil penelitian Balitkabi selaras dengan apa yang di kemukakan Pak Heri bahwa kedelai kita mempunyai keunggulan rendemen lebih tinggi, protein lebih tinggi dan rasa enak.Berkaitan dengan teknologi produksi kedelai, Balitkabi menyampaikan hasil penelitian berupa produk yakni: 1) menyajikan varietas terbaru yang sesuai sebagai bahan tahu tempe beserta karakter-karakter lain, 2) produk pupuk hayati dan biopestisida dan, 3) teknologi budidaya kedelai spesifik lokasi (lahan sawah, lahan kering, lahan kering masam, lahan pasang surut, dan teknologi budidaya di kawasan hutan atau perkebunan). Terkait dengan varietas Pak Heri, memuji varietas unggul kita Grobogan sangat sesuai karakternya untuk bahan baku tahu dan tempe, keluhan lain dan sangat penting adalah kebersihan kedelai sebagai bahan baku tahu tempe yang masuk dipengrajin adalah tercampurnya kedelai dengan cangkang tangkai kedelai, tanah, dan batu kerikil.

Peserta  Focus Group Discussion (FGD) Akseptabilitas Teknologi Unggulan Kedelai Bahan Pangan di Kalangan Pengusaha Kecil dan Menengah

Hasil diskusi telah menyimpulkan untuk membuat usulan sebagai tindak lanjut dari pertemuan ini adalah: 1) menyusun SOP lengkap dengan GAP supply manajemen budidaya dan prosesing, 2) menyelengarakan demontrasi area lengkap dengan teknik budidaya dan prosesing, 3) berbagai jenis varietas popular di Indonesia diuji dan demonstrasikan di pengrajin tahu tempe (Rumah Tempe).