Berita ยป FGD Peningkatan Produksi dan Pengembangan Porang

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) tentang Peningkatan Produksi dan Pengembangan Porang di Hotel Haris Surabaya, 30 April 2021. Peserta FGD adalah Balai Besar Litbang Pasca Panen Pertanian (Bogor), Balitkabi (Ir. Trustinah, MP. dan Dr. Febria Cahya Indriani), dan pelaku usaha yakni Koperasi Produsen Madura Multifarm Agromandiri di Bangkalan, Madura; Peporindo (Persatuan Petani Porang Indonesia) Kabupaten Madiun, CV. Prima Tani di Madiun, CV. Mega Raya Ngawi, PT. Banshang Technology di Mojokerto. FGD dipimpin oleh Batara Siagian, S.P. M.AB. (Koordinator Kelompok Evaluasi dan Layanan Rekomendasi Ditjen TP).

Pelaku usaha porang menyampaikan bahwa peningkatan produksi dan pengembangan porang harus didukung dengan kecukupan ketersediaan benih yang memenuhi standar mutu. Saat ini, katak/bulbil dianggap sebagai benih sebar mendukung perbenihan nasional, dan sudah mulai disertifikasi. Sertifikasi benih porang menjadi sangat penting untuk menjaga kualitas, identitas varietas, dan keseragaman mutu. Penyediaan benih bersertifikat telah dilakukan oleh Peporindo di Madiun yang merupakan perkumpulan petani porang yang mengembangkan porang di kawasan hutan. Saat ini ada seluas 2.070 ha lahan, meliputi 10 kecamatan di Madiun dengan budidaya tidak menggunakan bahan anorganik. Beberapa permasalahan terkait penyediaan benih terutama benih dalam bentuk bulbil/katak antara lain teknis pemanenan yang belum tepat, sehingga berpengaruh terhadap kualitas (katak tidak tumbuh). Varietas porang yang tersedia saat ini adalah varietas Madiun 1. Sementara itu, porang telah ditanam di berbagai daerah di Indonesia dengan karakteristik yang mirip ataupun berbeda dengan Madiun 1. Dengan demikian, terbuka peluang untuk pendaftaran ataupun pelepasan varietas lokal lainnya. Terkait dengan teknik budidaya dan pasca panen disampaikan bahwa penggunaan pupuk anorganik, penyimpanan, pengirisan, pengeringan umbi yang tidak memenuhi standar dikhawatirkan berpengaruh terhadap kualitas produk.

Hal-hal yang dirumuskan pada FGD tersebut adalah: diperlukan panduan teknik penyediaan benih dan teknik budidaya untuk menghasilkan benih dan umbi porang yang baik dan berkualitas; pendaftaran dan atau pelepasan varietas lokal dengan karakteristik yang berbeda; permasalahan produk yang ada saat ini sebagian besar masih sebatas chips, maka untuk meningkatkan nilai tambah, akan dirancang Unit Pengolahan Hasil (UPH) porang untuk pemisahan glukomanan dengan asam oksalat; untuk meningkatkan kompetensi pelaku usaha dalam pengembangan produksi dan produk porang, maka akan dilakukan pelatihan yang difasilitasi Ditjen Tanaman Pangan; untuk mendukung peningkatan ekspor porang, maka akan dilakukan pendampingan dari Ditjen Tanaman Pangan untuk uji mutu dan sertifikasi produk; serta kebutuhan pengering (oven) dalam kegiatan pasca panen porang, akan dilakukan kajian lebih lanjut untuk identifikasi kebutuhan dan spesifikasi yang cocok.

TRT/FCI

porang porang1
Pembicara dan peserta FGD porang di Surabaya