Berita » Gapoktan Ngudi Boga Blitar Mendalami Teknologi Kedelai

1-blitarkl-2

Dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan para petani serta untuk menyukseskan swasembada pangan, Gapoktan “Ngudi Boga” Kecamatan Gandusari, Blitar berkunjung ke Balitkabi (11/10/2012). Kunjungan diawali dengan melihat pertanaman di ke Kebun Percobaan Kendalpayak dan Unit Pengelolaan Benih Sumber (UPBS). Para anggota Gapoktan Ngudi Boga ingin mendapatkan informasi teknologi budidaya kedelai, OPT, dan varietas untuk pengembangan kedelai di Kecamatan Gandusari. Rombongan yang terdiri petani dan PPL berjumlah 63 orang, diterima oleh Dr. Suharsono, sebagai plt Kepala Balitkabi.

“Dalam kunjungan ini kami berharap bisa mendapatkan benih bermutu untuk dikembangkan di Gandusari Blitar”, tutur Pak Hariadi, Penyuluh Pertanian yang mendampingi gapoktan. “Beberapa Anggota Gapoktan Ngudi Boga akan ditunjuk untuk memroduksi benih sehingga ketersediaan benih selalu ada”, lanjut pak Hariadi.

Dalam penjelasannya, pak Achmad Winarto, SP, staf Jasa Penelitian (Jaslit), menekankan pemanfaatan teknologi internet. Balitkabi memiliki laman (website, halaman elektronik) di internet yaitu www.balitkabi.litbang.deptan.go.id. yang memuat hasil-hasil penelitian Balitkabi. Untuk melihat stok dan memesan benih yang tersedia di Balitkabi maka masyarakat tidak harus datang ke Balitkabi, namun cukup membuka website Balitkabi. “Dengan internet diharapkan hubungan pihak luar dengan Balitkabi bisa lebih dekat dan terarah sehingga semua informasi yang diharapkan bisa segera diperoleh dengan cepat dan efisien”, ungkap pak Winarto.

Pada kesempatan berikutnya para tamu menerima materi “Teknik Budidaya Kedelai dan Varietasnya” yang disampaikan oleh Prof. Arief Harsono. Beliau menekankan bahwa komponen teknologi yang meliputi varietas unggul, benih berkualitas, saluran drainase, pengendalian gulma, dan pengendalian hama penyakit mutlak diperlukan. Khusus daerah endemik lalat kacang, perlu perlakuan benih dengan insektisida. Dosis pemupukan tergantung tingkat kesuburan tanah. Tanah yang belum pernah/jarang ditanami kedelai diperlukan inokulan rhizobium. Untuk mencapai hasil kedelai 1,60-2.50 ton/ha maka populasi tanaman 400.000-500.000 tanaman/ha.

Pada kesempatan diskusi, pertanyaan dijawab Pak Arif, Ir. Sri Wahyuni I, MS dan Ir. Sumartini, MS. Ibu Yuni menyarankan agar tanaman kedelai harus selalu dipantau karena rawan terserang hama ulat grayak (Spodoptera) dan ulat jengkal. Jika melihat sekelompok telur pada tanaman kedelai harus segera dimatikan karena jika sudah berbentuk ulat maka penggunaan pestisida tidak menjamin ulat tersebut mati.

Ir. Margono Rachmad, MS memperkenalkan koleksi plasma nutfah umbi-umbian

Di UPBS, pengunjung mencermati sortasi benih kedelai