Berita ยป Gelar Teknologi Budidaya Kedelai di Lahan Kering Beriklim Kering

sampang

Secara umum, hasil-hasil penelitian litbang pertanian masih memerlukan akselerasi pemasyarakatan inovasi melalui kegiatan diseminasi teknologi pertanian. Hal ini terkait dengan salah satu isu pembangunan pertanian, yakni masih belum optimalnya pemenuhan kebutuhan inovasi dalam mendukung pembangunan pertanian wilayah, dan lambannya pemasyarakatan inovasi pertanian hasil-hasil litbang pertanian. Kegiatan diseminasi inovasi teknologi pertanian spesifik lokasi diarahkan untuk mencapai sasaran terciptanya paket-paket teknologi spesifik lokasi. Inovasi teknologi pertanian spesifik lokasi sangat siginifikan mendukung program pembangunan pertanian wilayah, antara lain teknologi pengembangan komoditas unggulan daerah, seperti teknik budi daya kedelai di lahan kering seperti di Kabupaten Sampang Madura. Pemanfaatan teknologi spesifik lokasi yang terutama diterapkan dalam pendampingan program strategis Kementerian Pertanian memiliki prakiraan dampak yang signifikan dalam peningkatan produktivitas usahatani. Kecamatan Sukobanah merupakan sentral kedelai setelah Kecamatan Karangpenang Potensi lahan untuk tanaman kedelai seluas 7.493 ha, pola tanam di lahan kering adalah jagung/kedelai-kedelai-tembakau. Curah hujan 712 mm/tahun, tergolong tipe iklim kering. Ditinjau dari sisi agroekologi, Kecamatan Sukobanah merupakan lahan kering beriklim kering, sangat sesuai untuk pengembangan tanaman kedelai. Lebih khusus untuk produksi benih kedelai untuk lahan sawah yang banyak dibutuhkan dalam pengembangan kedelai. Disamping itu harga benih lebih mahal dari pada untuk konsumsi. Oleh karena itu Badan Litbang Pertanian melalui Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi mengadakan Temu Lapang Gelar Teknologi Budidaya Kedelai Spesifik Lokasi di Lahan Kering Beriklim Kering di Desa Tobai Barat, Kecamatan Sukobanah, Kabupaten Sampang Madura, pada tanggal 22 Mei 2014. Temu lapang dihadiri sekitar 200 orang, yang terdiri Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Kepala Balitkabi, Bpk Camat, Kapolsek, Komandan Koramil Sukobanah, petani kooperator, penyuluh dan peneliti. Laporan Dr. Rudi Iswanto (penanggung jawab kegiatan Gelar Teknologi) bahwa produktivitas varietas Dering 2,8 t/ha, Grobogan 2,55 t/ha, Wilis 2,41 t/ha, Ijen 2,28 t/ha, dan Anjasmoro 1,83 t/ha. Hasil ini jauh dari rata-rata nasional kedelai yang hanya mencapai 1,3 t/ha, sedang rata-rata di Sampang 1,35 t/ha. Kepala Balitkabi Dr. Didik Harnowo sangat mengharapkan bahwa gelar teknologi ini benar-benar dapat dijadikan pembelajaran dan percontohan nyata di lapang. Inovasi teknologi yang baik ini dapat dijadikan bahan penyuluhan untuk dapat disebarluaskan. Upaya peningkatan penghasilan dari komoditas kedelai di Sukobanah antara lain dapat dilakukan jika hasil panen diproses untuk dijadikan benih yang mempunyai nilai jual yang lebih tinggi. Pada kesempatan Temu Lapang Gelar Teknologi ini, Bapak Kepala Balitkabi menyerahkan benih Sumber Kedelai kelas benih dasar sebanyak 200 kg kepada Bapak Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan untuk dikembangkan di Kabupaten Sampang. Bapak Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Sampang mengucapkan terima kasih kepada Badan Litbang Pertanian atas terpilihnya Kabupaten Sampang sebagai lokasi Gelar Teknologi budi daya kedelai di lahan kering beriklim kering, sebagai upaya peningkatan produksi di Kabupaten Sampang.

Panen Gelar Teknologi Budidaya Kedelai Ka Balitkabi, Ka Dinas Pertanian, Camat Sukobanah Sampang.

Temu Lapang Gelar Teknologi dan penyerahan bantuan benih sumber oleh Ka Balitkabi kepada ka Dinas Pertanian Kabupaten Sampang.

Dialog interaktif petani dengan peneliti, Kepala Dinas Kabupaten Sampang dan Ka Balitkabi.

Prof. Marwoto/Dr. Didik Harnowo