Berita ยป Gelar Teknologi Kedelai di Tuban

Kementerian Pertanian terus berupaya untuk meningkatkan produksi kedelai nasional, dan Balitbangtan terus pula memperkuatnya melalui dukungan inovasi teknologi baru dan mendiseminasikannya kepada pengguna. Temu lapang teknologi produksi kedelai lahan sawah dilaksanakan di Desa Plandirejo, Kecamatan Plumpung, Kabupaten Tuban (15/5), dihadiri sekitar 100 petani dan penyuluh pertanian, di samping jajaran Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura, serta peneliti BPTP Jawa Timur.

Teknologi yang digelar berupa tiga varetas kedelai yaitu Anjasmoro, Argomulyo dan Wilis seluas 2 ha, dengan melibatkan 8 petani kooperator dari kelompok tani Tlatah Subur. Juga dilakukan visitor plot sebanyak 14 varietas dan calon varietas kedelai. Karakterisitk lahan pada lokasi Gelar Teknologi di Desa Plandirejo adalah berbatasan dengan Bengawan Solo, sehingga kelembaban tanah cukup tinggi. Penanaman benih dengan cara disebar dalam barisan, tanpa ditugal, pada bedengan selebar 1,6 m, dengan seed rate 45 kg/ha untuk varietas Wilis dan 55 kg/ha untuk varietas Anjasmoro dan Argomulyo. Tanaman dipupuk dengan Phonska 150 kg/ha, SP36 100 kg/ha, Pupuk organik (Petroganik) 600 kg/ha. Pupuk organik dan SP36 dicampur rata dan diaplikasikan sebelum tanam dengan cara disebar rata. Pupuk Phonska diberikan pada saat tanaman berumur sekitar 15 hari dengan cara disebar dalam alur antarbarisan tanaman.

Petani menggunakan varietas Wilis dengan kualitas asalan dan benih didapatkan dari Nganjuk, dan ketersediaan benih kedelai selalu menjadi masalah saat musim tanam kedelai. Hitung cepat untuk menera produktivitas berdasarkan populasi tanaman, jumlah polong per tanaman, dan keragaan tanaman, diperkirakan hasil varietas Anjasmoro mencapai sekitar 2,75 t/ha, Argomulyo 1,50 t/ha dan Wilis sekitar 2,3 t/ha. Hasil kedelai petani yang menggunakan varietas Wilis sekitar 2,0 t/ha.
Kepala Balitkabi, Dr. Didik Harnowo, menyampaikan bahwa Balitbangtan telah banyak menghasilkan inovasi teknologi kedelai dan inovasi tersebut harus segera sampai ke pengguna. Penyuluh merupakan mitra Balitbangtan yang berperan sebagai jembatan penerus inovasi ke petani di lapang. Bahkan pejabat di luar Kemtan termasuk tokoh masyarakat juga menjadi penyuluh andal di bidang pertanian. Apresiasi dan ucapan terima kasih disampaikan oleh Kepala Dinas Pertanian dan Hortikultura, termasuk apresiasi dan ucapan terima kasih oleh Camat dan Sekretaris Kecamatan Plumpang.
Dalam Temu wicara dengan petani dan penyuluh disampaikan bahwa nilai keuntungan suatu komoditas semakin menjadi pilihan petani, mengatasi kesulitan benih kedelai, peluang pengembangan kedelai di lahan kering, permintaan gelar hendaknya dilakukan pada kecamatan yang lain dsbnya. Peneliti Balitkabi menyampaikan pentingnya jalinan benih antarlapang dan antarmusim (jabalsim) benih kedelai, perlunya penangkar benih kedelai di Tuban, efisiensi usahatani kedelai, termasuk pilihan komoditas tanaman pangan yang dihubungkan dengan tingkat ketersediaan air.

Semoga ke depan, Plumpang tidak hanya menjadi lumbung beras, tetapi juga menjadi lumbung kedelai.

MMA/AW